Mampukan Jakarta Hadapi Global Warming

Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni 2007

Dampak pemanasan global tak bisa dielakan oleh seluruh umat manusia di dunia termasuk warga kota Jakarta. Penelitian dari International Institute for Environment and Development Britinia bekerjasama dengan City University of New York dan Colombia University pada tahun 2007 ini menyebutkan bahwa sepersepuluh penduduk bumi atau 634 juta orang yang tinggal di dekat laut akan tenggelam ketika es di kutub bumi mencair akibat pemanasan global. Penelitian itu juga memprediksikan bahwa seluruh DKI Jakarta, sebagaian Jawa Barat dan Banten merupakan kawasan yang akan tenggelam paling lambat hingga akhir abad ini.

Predikisi yang menyatakan Jakarta akan tenggelam sebagai dampak dari pemanasan global seharusnya dijadikan semacam peringatan dini bagi para petinggi kota ini untuk tidak lagi memproduksi kebijakan yang justru dapat memperparah dampak tersebut bagi warganya. Ironisnya, perencanaan tata ruang Jakarta dari tahun ke tahun justru semakin tidak ramah lingkungan. Hal itu terbukti dengan semakin dikuranginya luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan daerah resapan air pada tata ruang kota dari tahun ke tahun.

Data BPLHD DKI Jakarta menyebutkan bahwa pada tahun 2005, pengambilan air tanah yang yang besar-besaran tanpa diimbangi oleh air yang dapat masuk dalam tanah akibat hilangnya RTH dan daerah resapan air menyebabkan mengakibatkan kota ini telah mengalami defisit air tanah sebesar 66,65 juta m3/per tahun pada tahun tersebut. Defisit air tersebut juga akan menyebabkan tanah di Jakarta mengalami penurunan permukaan. Akibatnya, ketika air laut naik akibat pemansan global maka kota ini akan terendam. Celakanya, alih-alih merevisi kebijakan yang tidak ramah lingkungan, Pemda DKI Jakarta justru bersikeras mereklamasi Pantai Utara (Pantura) Jakarta dengan mengabaikan Keputusan Menteri (Kepmen) Negeara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2003 yang menyatakan ketidaklayakan lingkungan dari proyek reklamasi tersebut. Beberapa pakar dan aktivis lingkungan pun menilai proyek reklamasi Pantura Jakarta akan berpotensi memperparah terjadinya banjir di kota ini.

Untuk itulah Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta sebagai organisasi yang concern terhadap isu lingkungan di perkotaan mendesak Pemda dan DPRD DKI Jakarta untuk segera melakukan pembenahan tata ruang kota Jakarta secara menyeluruh dalam rangka mitigasi dan adaptasi terhadap dampak pemanasan global. Rehabilitasi RTH dan daerah resapan air lainnya serta penghentian proyek reklamasi Pantura Jakarta merupakan beberapa agenda yang wajib dimasukkan dalam pembenahan tata ruang kota Jakarta.

Untuk menunjang agenda itu maka Pemda DKI Jakarta harus segera mengeluarkan kebijakan moratorium (jeda) pembangunan kawasan komersial baru di kota ini dan secara bertahap merelokasikannya keluar Jakarta. Tanpa kebijakan moratorium dan relokasi kawasan komersial di Jakarta maka upaya pembenahan tata ruang kota untuk mengantisipasi dampak dari pemanasan global hanya sekedar lip service saja.

Dede Nurdin Sadat,

Sekjend Kaukus LH Jakarta. HP. 0815 815 4472

Firdaus Cahyadi,

Koordinator Pokja Udara Kaukus LH Jakarta, HP. 0815 132 756

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

One thought on “Mampukan Jakarta Hadapi Global Warming”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s