Teroris Bukan Mujahid

Salah satu penyebab umat Islam terjerumus kedalam gerakan radikalisme agama adalah lantaran minimnya pemahaman mereka terhadap ajaran agama tersebut. Umat Islam sendiri tak sedikit yang menjadi korban radikalisme akibat pengetahuan mereka yang awam tentang nilai dan ajaran Islam yang suci.

Dampaknya fatal. Tindakan pemboman misalnya, justru dinilai sebagai aksi mati syahid dan pelakunya sebagai mujahid. Lebih tragis lagi bila hal demikian dikatakan tokoh Islam yang memiliki pengaruh penting. Padahal untuk bisa disebut sebagai mujahid, harus melewati banyak kriteria, antara lain orang itu tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Mendalami hal ini, At-Tanwir mewawancarai mantan Ketua Mantiqi Tsalis organisasi Jamaah Islamiyah (JI) dan penulis buku best seller Membongkar Jamaah Islamiyah, Nasir Abas. Petikannya:

Bagaimana Anda menilai pernyataan tokoh Islam yang menyebutkan pelaku pemboman di Indonesia sebagai mujahid?

Saya sangat tidak setuju itu. Bagaimana mungkin orang membunuh manusia tak berdosa disebut mujahid? Ini penilaian yang salah dan menyesatkan. Orang itu, atau siapapun yang mengatakan pelaku pemboman sebagai mujahid mungkin tidak faham betul tentang ajaran Islam, karena untuk disebut sebagai mujahid banyak kriterianya.

Apa kriterianya?

Ada dua kategori. Secara umum, kriterianya adalah: pertama, dia membela umat Islam yang tertindas, dizalimi, dan diperangi. Kedua, mereka membela tanah air yang diserang atau dizalimi. Selain itu, memiliki akhlakul karimah, dan mentaati larangan dan perintah dalam Islam berkaitan dengan jihad dan perang. Kalau kita ikuti hadis Nabi Saw, maka kriteria itu ada lima: satu, semata mengharapkan ridha Allah; dua, taat pada pimpinan; tiga, menginfaqkan uang dari hasil yang mulia, bukan dari hasil perampokan dan jalan haram lainnya; empat, saling membantu teman seperjuangan; lima, menghindari/tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Para pelaku pemboman Bali dan di tempat lainnya tidak memenuhi kriteria Rasulullah itu, jadi mereka bukan mujahid.

Mengapa pemahaman fatal ini bisa terjadi?

Ada banyak sebab, antara lain, orang itu kurang ilmu atau berkurang ilmunya. Selain itu, tidak paham dan memperhatikan sirah (sejarah perjuangan) Nabi Muhammad Saw. Niat saja tidak cukup, karena hal itu tanpa dasar ilmu yang kuat. Karena itu, pemahaman mereka sebatas jihad memerangi atau membom Amerika atau sekutunya. Padahal jihad itu banyak kriteria.

Sejauh yang Anda amati, apa dampak serius dari penilaian ‘teroris adalah mujahid’ itu?

Dampaknya sangat berbahaya, ini dapat menjadi semacam racun bagi umat Islam. Pertama, kelompok teroris seperti Noordin M.Top dan jaringannya akan merasa mendapat support (dukungan) dari tokoh tersebut, sehingga mereka akan semakin menguatkan jaringan atau lebih bersemangat dalam melakukan aksinya. Kedua, bagi orang awam, pernyataan itu dapat menjadi bias karena bisa saja mereka mendukung atau membantu kelompok Noordin karena pemahaman teroris itu mujahid. Ini harus dicegah.

Apa yang harus dilakukan untuk mencegah hal itu?

Banyak cara. Misalnya dengan memberi pendidikan juga ceramah terhadap umat Islam tentang ajaran Islam yang benar dan berguna bagi kehidupan serta perdamaian di dunia. Pendidikan tak mesti di sekolah, tapi juga secara informal di luar sekolah. Hal ini penting agar masyarakat tahu mana yang benar dan mana tindakan yang salah sehingga dapat dihindari. Di sisi lain, mereka tidak akan mudah terprovokasi oleh ajaran yang menyesatkan.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s