Agar Jihad Tetap Bermakna Mulia

Agresi Israel ke Lebanon telah menumbuhkan simpati dunia Islam termasuk di Indonesia. Namun Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, meminta kaum Muslim tidak membalas kebiadaban itu dengan melakukan teror bom di Indonesia terhadap aset negara asing yang mendukung zionisme.

“Sebenarnya kalau dibom, itu salah mereka sendiri. Tapi saya minta, di Indonesia jangan salah langkah, pakai bom-bom yang bisa bikin kacau,” kata Ba’asyir usai memberi ceramah di Masjid Bank Indonesia, pekan lalu.

Senada dengan Ba’syir, tokoh ulama dan penasehat Presiden Iran, MA Taskhiri, menegaskan definisi jihad sudah sangat jelas, yakni bukan tindakan membunuh diri sendiri misalnya bom bunih diri. Sebab, jihad adalah sifatnya tindakan pembelaan atas diinjak-injaknya harga diri dan keselamatan bangsa. “Islam itu bukan agama teroris. Hal inilah yang terus dituduhkan oleh pihak barat dengan tanoa bukti. Islam mengecam keras terorisme dan menggunakan senjata pemusnah masal. Jihad bukan tindakan membunuh diri, dan bukan membunuh orang lain,” kata MA Taskhiri.

Menurutnya, jihad jelas tidak dapat digunakan untuk orang-orang yang tidak berdosa. Dan dalam hal ini memang sangat jelas perbedaan antara apa yang disebut jihad serta apa yang disebut terorisme. Di masa depan, lanjut Taskhiri, umat Islam harus menerima globalisasi dan kerja sama hubungan internasional antarnegara.

Katib Am Syuriah PBNU, Prof Nasaruddin Umar menyatakan, perkembangan Islam di Indonesia yang cukup maju tidak akan membahayakan negara-negara lain di dunia. Ulama yang bergelar kiai, kata dia, juga bukan teroris seperti yang dibayangkan dunia luar. “Islam Indonesia tidak membahayakan meskipun perkembangannya sangat pesat, apalagi kiainya bukan teroris,” ujar Guru Besar Tafsir UIN Jakarta itu.

Menurut Nasaruddin, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam bukan merupakan ancaman bagi negara-negara luar termasuk yang nonmuslim di negeri ini. Hal itu karena ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah untuk kemaslahatan semua umat di dunia. Jadi, kata Nasaruddin yang juga Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Islam adalah agama yang sangat merindukan kedamaian di dunia maupun di akhirat. “Dengan begitu, keberadaannya bukan sebagai ‘momok’ atau musuh, melainkan ajaran yang mengharapkan terwujudnya kerukunan hidup bagi semua golongan agama di negeri ini,” tegasnya.

Al-Quran, kata Nasarudin, melarang pengikut Nabi Muhammad untuk bertindak anarkis dan teror. Sedangkan menyangkut jihad adalah perjuangan fisik melawan yang bathil dengan mengggukan akal sehat, bukan asal berjihad dengan mengganggu ketenteraman orang lain. “Karena itu, jihad, akal dan jiwa harus satu dalam perbuatan sebab jika pengertiannya terpisah-pisah akan membahayakan orang lain dan itu bukan ajaran Islam,” katanya.

Secara bahasa, Kepala Bidang Takmir Jakarta Islamic Center (JIC), KH Zakky Mubarak MA menjelaskan, jihad bermakna mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, Kamus Al-Muhith). “Secara bahasa, jihad juga bisa berarti mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperoleh tujuan (An-Naysaburi, Tafsir an-Naysaburi),” cetusnya.

Adapun dalam pengertian syar’i (syariat), kata Zakky, para ahli fikih mendefinisikan jihad sebagai upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung maupun memberikan bantuan keuangan, pendapat, atau perbanyakan logistik, dan lain-lain. “Karena itu, perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah itulah yang disebut dengan jihad,” jelasnya.

Zakky menegaskan, tindakan terorisme dalam arti melakukan berbagai peledakan bom ataupun bom bunuh diri bukan dalam wilayah perang, seperti di Indonesia bukanlah termasuk jihad fi sabilillah. “Sebab, tindakan tersebut nyata-nyata telah mengorbankan banyak orang yang seharusnya tidak boleh dibunuh. Tindakan ini haram dan termasuk dosa besar,” tegasnya. Jadi, tidak semestinya ajaran jihad dimanfaatkan untuk kepentingan mulia, tetapi cara yang ditempuh salah, yakni melalui anarkhisme dan terorisme. Ajaran mulia harus diamalkan untuk maksud mulia pula. [Dari berbagai sumber]

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s