Ancaman terorisme dan radikalisme di kawasan Asia Tenggara dewasa ini dinilai banyak pengamat dan kalangan masih cukup besar. Setidaknya, dari berbagai tindak kekerasan dan pemboman yang terjadi baik di Indonesia, Malaysia, Thailand Selatan maupun Filipina selatan menunjukkan, aksi terorisme dari waktu ke waktu bukannya menyurut, justru terus meningkat. Membahas lebih detil masalah ancaman dan tindak terorisme di kawasan Asia Tenggara, tim At-Tanwir mewawancarai pengamat politik dan inteligen yang juga direktur Lembaga Pengkajian Kemandirian Nasional (LPKN), Wawan H. Purwanto. Petikannya:
Bagaimana Anda melihat konstelasi jaringan kelompok terorisme di kawasan Asia Tenggara?
Saya kira jaringan mereka tetap rapi. Gerakan mereka akan terus berlangsung meskipun pemimpinnya meninggal, karena sistem rekrutmen yang mereka terapkan berlapis-lapis. Jadi stok pengganti bila ada anggota atau pemiompinnya yang tiada, sudah siap siapa yang bakal menggantikan. Jaringan yang ada di Malaysia, Thailand, Filipina maupun Indonesia semua saling terkait. Jadi strategi mereka memang cukup jitu.
Jika demikian, seberapa besar ancaman terorisme di kawasan ini?
Sangat besar. Terutama di Filipina selatan, yang menjadi sentra kelompok teroris. Di daerah ini, banyak terdapat kem-kem latihan dan konsentrasi kelompok radikal dan teroris. Mereka kini hanya menunggu waktu saja, kapan saat yang tepat mereka harus beraksi. Indonesia dan Malaysia juga tak kalah kuatnya menjadi basis. Untuk Indonesia, memang pasca penggrebekan di Wonosobo beberapa waktu lalu, sementara ini jaringan Noordin Cs tengah tiarap. Tapi, tiarap untuk bangkit kembali. Singapura dan Malaysia relatif ketat karena pemberlakuan hukum yang sangat ketat.
Menurut Anda, faktor apa yang membuat mereka terus eksis?
Banyak hal. Tapi faktor ideologi berpengaruh. Aksi teroris akan cepat dan berkembang, bahkan terkesan beringas terkait dengan kondisi internasional. Dalam hal ini situasi konflik Palestina-Israel, dan Timur Tengah secara umum. Perasaan terhina dan tertindas oleh perlakuan sebagian besar rakyat Palestina oleh Israel sangat menyulut emosi. Jadi, sekarang ini terorisme sudah menjadi bahaya laten.
Indonesia kerap menjadi sasaran tembak soal terorisme. Apa pendapat Anda?
Harus kita akui, aksi terorisme di negeri ini kan cukup marak. Yang menjadi perhatian internasional dan gaungnya kuat adalah karena Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Meski tidak benar juga mengkaitkan Islam dan terorisme, tapi kita akui ada segelintir umat Islam yang nekad menjadi teroris atau mengembangkan kelompok radikal. Karena itu, AS dan dunia internasional umumnya lebih memberi perhatian pada Indonesia. Karena bagi mereka, Indonesia adalah sentrum umat Islam yang selama ini dikenal moderat. Itu sebabnya, Indonesia diharapkan dapat menjadi mediator dan juru bicara umat Islam di tingkat internasional karena Barat lebih mendengar suara Indonesia ketimbang negara lain. Jadi posisi Indonesia di tengah pusaran aksi terorisme, justru menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis bagi dunia internasional.
Tapi, mengapa dukungan Barat terhadap gerakan pemberantasan korupsi misalnya, tak sekuat dan sebesar dukungan bagi pembasmian terorisme?
Saya melihat ini hanya skala prioritas saja. Terorisme terkait dengan keamanan. Kalau situasi aman, para investor pun tertarik datang, tapi kalau tidak aman ya tidak datang. Dunia Barat ini paranoid betul terhadap terorisme, makanya dukungan dana dari perbankan Eropa dan AS pun kuat bagi riset tentang aksi terorisme, juga kepentingan untuk mengetahui apakah aman atau tidak untuk investasi. Sementara korupsi, saya kira dunia Barat pun mendua. Bank-bank mereka juga menampung uang hasil money laundring.
Kedepan, apa yang harus dilakukan untuk mempersempit kelompok radikal maupun jaringan terorisme?
Pertama, strategi komunikasi mesti ditingkatkan. Kemajuan teknologi dan informasi sangat dimanfaatkan kelompok teroris. Nah, untuk mendeteksi dan membasminya kita juga harus lebih canggih dalam penggunaan teknologi. Kedua, peningkatan kerjasama antar-negara. Kebijakan masing-masing negara harus mendukung bagi terciptanya stabilitas keamanan dan jangan sampai membuka peluang bagi munculnya diskriminasi atas kelompok minoritas. Sebab hal itu akan berdampak pada lahirnya aksi kekerasan yang akan merembet ke negara-negara di Asia Tenggara. Ketidakadilan sangat rentan memicu aksi kekerasan.
