Harus Pakai Cara yang Elegan

Aspirasi agar Syariat Islam ditegakkan di bumi Indonesia, dari waktu ke waktu terus disuarakan. Beberapa tahun terakhir, tuntutan tersebut kian kencang, seiring dengan arus reformasi dan kebebasan menjalankan ibadah. Berbagai gerakan Islam, mulai dari yang radikal seperti Hizbut Tahrir (HT), MMI, FPI, hingga gerakan Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah, tak ketinggalan menyuarakan hal tersebut. Membahas lebih dalam masalah ini, berikut wawancara tim At-Tanwir dengan tokoh Muhammadiyah yang juga mantan Menag dan dubes RI di Norwegia, KH. Dr. dr. Tarmizi Taher, MD. Petikannya:

Dalam beberapa tahun terakhir, marak tuntutan penerapan Syariat Islam. Apa tanggapan Anda?

Di alam demokrasi, di manapun berada, tuntutan semacam itu sah-sah saja. Tapi harus dilihat konteks dan kondisi masyarakat sekitar. Ada banyak hal, termasuk terkait masalah tingkat kesejahteraan masyarakat dan keberadaan kelompok agama lain, mesti menjadi pertimbangan. Tapi sebagai sebuah wacana, tuntutan itu tak ada masalah.

Artinya, sangat mungkin di Indonesia diterapkan Syariat Islam?

Bisa saja. Tapi hemat saya, harus dibedakan Syariat Islam sebagai dasar bernegara dan sebagai pandangan hidup bermasyarakat. Para pendiri dan kita semua sepakat, Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara. Negara ini negara Pancasila, dan bukan negara agama. Tapi, sebagai pandangan hidup seorang Muslim, Syariat Islam itu niscaya. Kita shalat, puasa, berdakwah, dan lain sebagainya, itu kan bagian dari penerapan Syariat Islamiyah. Jadi harus cermat dalam melihatnya.

Kalau tuntutannya melegalkan Syariat Islam dalam bernegara?

Berjuang harus pakai strategi. Kalau kita teriak menuntut pemerintah menerapkan Syariat Islam, belum-belum sudah ditolak. Kita ini kan plural, ada kelompok agama lain. Harus ditempuh dengan cara yang elegan dan anggun.

Maksud Anda?

Ya, misalnya perjuangan melalui parlemen, dimana kita punya banyak wakil rakyat. Mereka kan bertugas membuat produk undang-undang yang akan mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Nah, kita masukkan usulan-usulan bermuatan moral dan kemanusiaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Syariat Islamiyah. Seperti RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi, UU Sisdiknas, Kompilasi Hukum Islam (Peradilan Agama), UU di bidang perbankan, dan lain sebagainya. Cara semacam itu akan lebih bisa diterima. Toh substansinya Syariat Islam.

Menurut Anda, seberapa besar peran ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, ICMI, dan lainnya?

Sangat besar. Keberadaan mereka penting dan memberi kontribusi bagi perjuangan menegakkan Islam di Indonesia. Kita tahu, sejak ICMI berdiri, banyak produk undang-undang yang Islami lahir, begitu pula aspirasi warga mayoritas lebih besar lagi diakomodir. Di alam demokrasi sekarang ini, dan sesuai prinsip-prinsip demokrasi itu sendiri, tuntutan mayoritas merupakan hal yang wajar dan sudah selayaknya dipenuhi. Ini bukan lagi zaman diktator seperti masa lalu, dimana Islam dipinggirkan oleh negara.

Harapan kedepan bagi perjuangan penegakkan Syariat Islam?

Perjuangan itu harus ditempuh dengan jalan damai, pikiran yang jernih, melihat realitas yang ada, dan tidak emosional. Sebab, cara emosional hanya akan melahirkan anarkhisme, selain juga akan memunculkan gerakan-gerakan radikal yang hanya akan mencederai Islam itu sendiri.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s