Hubungan Islam dan Barat kembali mengalami cobaan cukup berat. Kasus pemuatan kartun Nabi Saw beberapa waktu lalu oleh koran Jyllands-Posten di Denmark, dan disebarluaskan beberapa media Eropa lainnya, makin memperkeruh hubungan Islam dan Barat yang selama ini diupayakan serasi dan damai. Kasus itu pula menunjukkan Barat belum dewasa dalam menyikapi dan menghargai Islam dan agama lainnya sebagai suatu keyakinan yang dianut umat manusia. Untuk mengetahui lebih detil hal tersebut, berikut wawancara tim At-Tanwir dengan intelektual yang juga mantan Menag RI dan dubes Indonesia di Norwegia, KH Dr. dr. Tarmizi Taher, M.D. Petikannya:
Bagaimana Anda melihat hubungan Islam dan Barat pasca pemuatan kartun Nabi Saw di koran Denmark, Jyllands-Posten?
Saya kira, kasus itu berpengaruh besar bagi hubungan Islam dan Barat secara keseluruhan. Dampak paling parah adalah, meningkatnya kebencian dan kecurigaan di antara kedua pihak. Ini jelas sangat tidak produktif bagi pengembangan dan upaya pembangunan lebih lanjut peradaban dunia yang lebih damai, adil, dan manusiawi. Kalau ini berlanjut terus, dunia ini akan terus diwarnai kekacauan antar pemeluk agama.
Artinya, dapat mengancam perdamaian dunia?
Bisa saja. Apalagi konflik itu mengarah pada perseteruan klasik antara Islam dan Kristen. Pemeluk dunia ini kan mayoritas dari dua agama itu, Islam dan Kristen. Jadi, sangat berbahaya bagi masa depan perdamaian dunia, dan apa yang selama berpuluh bahkan beratus tahun kita lakukan dengan berbagai dialog guna membangun peradaban perdamaian akan sia-sia.
Apakah konflik itu cermin dari perseteruan lama?
Saya pernah membaca buku tentang peradaban besar karangan Bernard Lewis. Buku itu menggambarkan conflik of culture (konflik kebudayaan). Lewis mengatakan, ketika Islam meluas hingga ke Spanyol dan Eropa secara umum, kondisi aman, umat Nasrani aman. Tapi ketika Barat berhasil mengusir Islam dari Eropa, Islam dicampakkan, juga Yahudi. Ilmu Pengetahuan yang di masa kejayaan Islam pimpinan Shalahuddin Al-Ayubi, diangkut ke Eropa. Itu membuat Barat maju. Tapi, sekali lagi, Islam dimusuhi. Jadi hemat saya, inilah awal biang konflik Islam-Barat (Kristen). Perasaan bermusuhan itu tertanam terus hingga hari ini.
Kira-kira, apa penyebabnya hingga rasa bermusuhan Barat terus tertanam?
Barat tidak adil, menderita superiority complex. Itu yang membuat dunia Barat yang maju, merasa berhak berbuat semau gue, karena merasa dunia ini mereka yang menguasai. Di sisi lain, umat Islam yang cukup besar ini terjangkiti penyakit inferiority complex, merasa minder karena tiada kemampuan untuk berkompetisi dan menjawab tantangan zaman. Umat Islam terus tertinggal oleh perkembangan. Amat kompleks persoalannya. Jadi superiority complex bertemu inferiority complex akan menjadi petaka.
Apa yang harus dilakukan untuk mengakhir semua itu?
Pertama, harus didorong terus proses dialog antar pemeluk agama. Satukan ilmuwan dan ulama dari berbagai agama duduk bersama mencari persamaan dan perbedaan di masing-masing pemeluk. Dengan begitu akan tumbuh perasaan dan saling pengertian yang dalam, sehingga dapat dipahami mana persamaan dan mana perbedaan, untuk kemudian dijadikan energi yang produktif bagi pengembangan perdamaian sosial. Kedua, mesti ditumbuhkan saling pengertian dan dialog antara Islam dan Barat, sehingga akan ketemu kesaling-pemahaman antara keduanya. Islam dapat belajar dari Barat, dan Barat juga dapat belajar dari Islam. Dengan begitu, keduanya akan dapat mengambil sikap lebih hati-hati dan rasional, serta tidak melukai satu sama lainnya. Intinya, kita hidup di era globalisasi meniscayakan adanya dialog antar pemeluk agama, antar etnis, dan antar negara.
