Barat Jangan Picu Konfrontasi

Pemuatan kartun Nabi Muhammad Saw di Jyllands-Posten, koran independen di Denmark, menghadirkan tragedi internasional. Tragedi ini memicu huru-hara di banyak negara, korban harta benda, dan bahkan nyawa. Di balik itu, pemuatan kartun tersebut juga kian memperuncing jurang perbedaan Islam dengan negara-negara Barat (Amerika Serikat dan Eropa).

Dunia Barat cenderung membela Denmark dengan senjata pamungkas ‘kebebasan pers dan berekspresi’; hal yang tak begitu disenangi kebanyakan kalangan agamawan. Ironisnya, setelah pemuatan kartun Nabi di Jyllands-Posten, beberapa media di Eropa dan Amerika Serikat ikut menampilkannya.

“Kartun Nabi adalah contoh paling nyata terjadinya perbedaan itu. Pers Barat berlindung di balik kebebasan berekspresi tanpa memikirkan implikasinya

bagi pemeluk Islam,” tutur Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Dr M Syafii Anwar, saat dihubungi tim At-Tanwir-CMM, pekan ini.

Menurut Syafii, prilaku pers Barat itu semakin menimbulkan respon negatif, yakni anti-Barat. “Semua yang berbau Barat dianggap jelek, terjadi perbenturan dan demonstrasi di mana-mana, pembakaran bendera Denmark, dan pemboikotan produk Denmark,” jelasnya. Lebih jauh, Syafii mensinyalir secara keseluruhan permasalahan Islam dan Barat sudah terjadi sejak lama. Hal ini, katanya, disebabkan dua paradigma berbeda, baik cara pandang Islam dengan Barat atau Barat dengan Islam.

Paradigma itu, papar mantan Pemred Majalah Ummat ini, kian diperuncing dengan insiden-insiden yang sering terjadi. Akhir tahun lalu misalnya, kata dia, Islam kembali dikejutkan isu pelecehan Al-Quran yang dilakukan tentara Amerika Serikat di Teluk Guantanamo, Kuba. “Persoalan di atas hanya bagian kecil dari bentuk perbenturan Barat dan Islam,” Syafii menjelaskan.

Tokoh Muhammadiyah ini juga mencium adanya ketidakadilan global. Seperti tingkah-laku Amerika Serikat di Timur Tengah dan gerakan perang melawan terorisme Amerika yang cenderung hanya menunjukkan hegemoni AS terhadap masyarakat Islam.

Di tempat terpisah, Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Fauzan Al Ansyari, menambahkan, jurang perbedaan antara Islam dan Barat terjadi karena Barat begitu phobia terhadap Islam. Kebencian mereka, lanjut dia, Yahudi dan Nasrani pada Islam sudah sampai ke ubun-ubun (QS 2: 120). “Karena Barat dikuasai Yahudi dan Nasrani,” tudingnya.

Sementara itu, Dr H Yunahar Ilyas LC dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, menyatakan, AS dan negara-negara Barat lainnya telah memanfaatkan PBB sebagai salah satu ujung tombak untuk memaksakan

pandangan hidup kapitalisme-sekuler di seluruh Dunia Islam. “Termasuk paham feminisme yang sesungguhnya adalah alat penjajahan negara-negara Barat terhadap Dunia Islam di bidang hukum keluarga (al-ahwal al-syakhsyiah),” keluhnya.

Ketakutan Barat

Abdul Malik Utsman, pemerhati sosial-keagamaan, yang tinggal di Yogyakarta mengungkapkan, salah satu faktor dominan dalam perbenturan itu adalah arogansi Barat sendiri dan militansi Islam. “Harus diakui, sikap arogan Barat yang intervensionis terhadap dunia muslim, dan reaksi balik umat Islam dengan cara-cara yang militan dan radikal, tidak jarang menumbuhkan kekerasan,” jelasnya.

Tapi tidak hanya karena itu, kata Malik, pertentangan Islam dan Barat juga banyak didasari oleh rasa ketakutan dan kekhawatiran masing-masing. Barat khawatir Islam tumbuh dan berkembang sebagai rival perpolitikan Barat. Revolusi Iran yang sudah berlangsung lama sejak 1979 misalnya, dan beberapa gerakan revivalis Islam, semakin meyakinkan Barat bahwa ideologi Islam adalah ancaman pascakomunisme.

Di sisi lain, ungkap Malik, umat Islam juga selalu khawatir apabila modernisme, sekularisme, dan materialisme yang berkembang baik di Barat akan menggerus keimanan. Karena itu, dunia Islam selalu defensif terhadap Barat. “Tidak hanya defensif, umat Islam kadang juga aktif menolak apapun yang berbau Barat, terutama produk-produk pemikirannya. Padahal, di situlah terletak salah satu faktor kemunduran Islam,” cetusnya.

Fauzan mengaku jika bangunan toleransi dan saling memahami tidak segera ditata kembali, maka agresi dan teror akan terus mewarnai hubungan antara Islam dan Barat. “Barat harus memahami Islam bukanlah agama teroris seperti yang sering dituduhkan mereka,” tegasnya. Ia menghimbau agar antarpemeluk agama di Barat dengan Islam perlu membentuk jembatan dengan cara mengedepankan dialog. “Karena selama ini sering terjadi kesalahpahaman,” jelasnya.

Syafii memberi solusi agar antarpemuka agama di Barat dan Islam harus mengedepankan dialog dengan cara duduk bersama untuk menyelesaikan perbedaan itu. “Jika dialog tak bisa dilakukan, bisa dilakukan debat terbuka untuk menyelesaian perbedaan secara damai. Itu cara terhormat daripada melakukan pengrusakan,” jaminnya.

CategoriesUncategorized

Leave a comment