Konspirasi, Lagi

“SEORANG bocah kurus berusia belasan tahun terkulai lemas, dibopong tinggi-tinggi setengah berlari oleh puluhan anak sebayanya di jalan yang kotor dan berdebu, di sebuah pemukiman di Jalur Gaza. Baju putih yang dikenakan korban bersimbah darah, ia terus menetes menodai bumi dan melumuri tangan kecil yang menggendongnya. Tetapi tidak tampak kesedihan maupun rasa jera di wajah anak-anak itu…”Mujahid, mahasiswa asal Lamongan yang menuntut ilmu di Surabaya, menyaksikan pemandangan memilukan itu dari layar televisi dengan hati yang juga perih. Mengapa penjajahan masih ada di dunia yang semakin modern, pikirnya. (Halaman 2)

Itulah adegan pembuka dalam Conspiracy. Walau si penulis novel, Muhammad Najib, di bagian pengantar men-declare bahwa yang ditulisnya kali ini adalah fiksi murni, namun tidak bisa tidak, begitu membaca novel ini, Anda segera menyadari hubungan positif antara fiksi ala Najib dengan peristiwa serupa yang sedang terjadi di depan mata kita.

Conspiracy
Muhammad Najib
Beranda Hikmah (PT. Mizan Publik), Maret 2005
248 + xi halaman

“Ia (novel ini) sama sekali tidak menggambarkan pandangan politik penulis. Hal ini perlu ditegaskan sejak awal, mengingat penulis adalah seorang politisi yang kini duduk sebagai anggota DPR RI,” tulis Najib di halaman vii. Menurut Najib, sebagai fiksi semata, apapun yang muncul dalam novelnya sama sekali tidak memiliki kaitan dengan apapun yang mungkin mirip di kehidupan nyata.

Menulis fiksi memang sesuatu yang baru bagi Najib. Tujuh buku yang ditulisnya lebih dahulu—di antaranya Mohammad Amien Rais, Putra Nusantara (Stamford Press Pte Ltd Singapura, 2003), dan Amien Rais dan Guru Salimin (Mizan, 2004)—adalah “murni fakta”.

Melalui Mujahid, Najib bercerita tentang pemberontakan para pemuda Islam atas penindasan yang “kebetulan” terjadi terhadap diri saudara-saudara mereka, sesama umat Muslim, di sejumlah negara, sebut saja Palestina dan Afghanistan, dua contoh paling klasik.

Mujahid awalnya tidak begitu tertarik dengan darah umat Muslim yang tumpah tak semestinya. Setelah mengikuti pengajian di sebuah Masjid di sudut Surabaya—terutama setelah mendengar ceramah Ustad Za’far bin Basyir—kaki Mujahid tiba di Pakistan, negara yang berbatasan langsung dengan Afghanistan. Di sana dia bergabung dengan milisi Mujahiddin untuk merebut Kabul dari tangan Uni Soviet.

Mujahid memang tak sempat bertempur di Afghanistan. Dia menghabiskan waktunya di sebuah kamp pelatihan milisi di Peshawar, dekat garis perbatasan. Di kamp milisi itu Mujahid sempat menyaksikan sinyal-sinyal konspirasi. Suatu hari, misalnya, Mujahid dan kawan-kawannya dari Malaysia, Thailand dan Indonesia dibawa ke sebuah tempat rahasia untuk mengikuti latihan menembak. Mereka diangkut dengan sebuah truk pick up yang bagian belakangnya ditutup terpal, sehingga tak tahu apakah dibawa ke utara atau selatan, ke barat atau ke timur.

Di tempat itulah Mujahid mengetahui bahwa kelompok Mujahiddin sebetulnya didukung Amerika, Pakistan dan Arab Saudi untuk mengusir rezim komunis bentukan Uni Soviet. Di tempat itu pula untuk pertama kali dia mendengar nama pengusaha asal Arab, Osama bin Laden. (Halaman 107)

Setelah Uni Soviet kalah, Mujahid menyempatkan diri mengunjungi Kabul dan menyaksikan gegap gempita kemenangan di sana. Dari Kabul dia memilih kembali ke tanah air, berkeluarga dan bekerja di Denpasar, Bali, sampai kebahagiaannya dirampas oleh peristiwa pengeboman Janger’s Café dan Kecak Club di Kuta yang diotaki Imam Sugiri, juga salah seorang alumnus Afghan. Mujahid dituduh terlibat dalam aksi itu karena pernah bertemu Imam Sugiri di Bali.

Dari mulut Imam Sugiri-lah Mujahid mendengar bahwa perjuangan belum lagi selesai. “Sekarang saya akan beritahu antum. Motivasi Amerika membantu kita mengusir Uni Soviet dari Afghanistan bukan semata-mata karena Uni Soviet itu komunis. Ternyata Amerika juga punya motivasi ekonomi dengan mengincar minyak dan gas yang dimiliki negara-negara Asia Tengah, tetangga Afghanistan,” kata Imam. “Setelah komunis runtuh, kini negara-negara Islam yang tidak mau membebek akan mereka sikat,” sambungnya. (Halaman 170)

Akhir kisah, Mujahid divonis 20 tahun penjara. Tak seperti Imam Sugiri dan Ustad Za’far bin Basyir, proses pengadilan atas dirinya sepi dari liputan media massa.

***
Kisah Mujahid ini adalah “protes keras” Najib atas perlakuan Amerika Cs terhadap umat Islam di banyak negeri. Untuk kasus Afghanistan, di saat tak mampu menghadapi Uni Soviet, Amerika mendukung penuh aksi Thaliban dan Osama bin Laden. Namun, di saat umat Islam Afghanistan menginginkan kemerdekaan tanpa campur tangan mereka, Amerika marah dan menggulingkan Thaliban, serta memburu Osama bin Laden yang hingga kini mereka teriaki sebagai gembong terorisme dan aktor intelektual di balik berbagai serangan terhadap fasilitas Amerika, termasuk WTC di New York, September 2001.

Najib menduga, para konspirator Amerika dan sekutunya sedang menyiapkan begitu banyak perangkap untuk mencokok alumnus Afghan yang tak bisa dikendalikan dan tersebar di banyak negara, termasuk Indonesia. Amerika yang membantu Mujahiddin mengusir Uni Soviet pasti memiliki data lumayan lengkap tentang siapa saja pemuda-pemuda Islam yang pernah mampir dan mendapatkan pelatihan tempur di kamp-kamp Mujahiddin saat itu.

Terakhir, saat launching Conspiracy pekan lalu, Najib berkata dirinya berharap pihak Amerika Serikat melalui kedutaan di Jakarta membaca novel ini untuk menyadari kekeliruan mereka.

Membedah Perut Konspirasi

Sebelum membahas novel menarik ini, ada perlunya kita mendefinisikan konspirasi. Secara etimologi, kata konspirasi berasal dari bahasa Latin, yakni con yang berarti bersama, dan spirare yang berarti bernafas. Jadi, kalau disatukan, kedua kata itu menjadi conspirare atau bernafas bersama.

Sementara secara sederhana dalam pembicaraan sehari-hari, konspirasi dimaksudkan sebagai sebuah aktifitas rahasia yang melibatkan orang-orang berkualifikasi rahasia, dengan cara-cara rahasia, untuk mencapai tujuan-tujuan yang juga rahasia. Konspirasi, masih dalam pembicaraan sehari-hari, juga lebih sering dimaknai sebagai sesuatu yang negatif, merugikan banyak orang, atau melawan kepentingan publik.

Sebegitu rumitnya, sehingga tak mudah (bukan tak mungkin) untuk menggambarkan anatomi konspirasi secara utuh. Anda yang tertarik mengurai sebuah konspirasi, jelas harus berusaha ekstra keras untuk menemukan siapa aktor intelektual yang sesungguhnya, siapa yang hanya pura-pura jadi aktor intelektual, siapa operator di lapangan, siapa yang pura-pura jadi operator di lapangan, siapa yang dijadikan target, atau siapa yang pura-pura dijadikan target, dan seterusnya.

Cara yang digunakan dalam sebuah konspirasi juga suka-suka, dan bisa begini atau bisa begitu, namun semuanya tentulah terukur. Begitu juga dengan tujuan yang ingin dicapai. Adakalanya, sesuatu yang oleh awam dikira sebagai tujuan dari sebuah “konspirasi yang terendus”, bisa jadi sebetulnya hanya tujuan antara. Bisa jadi juga, hanya tujuan fiktif untuk mengecoh atau mengaburkan the ultimate goal. Dan terakhir, dalam konspirasi, mengubah-ubah modus, aktor di setiap lini, juga tujuan, pada dasarnya adalah hal yang serba biasa. Rakyat Merdeka, 27 Maret 2005 [t]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s