img_3116-1

DI Tashkent tidak ada Jalan Bung Karno. Tapi bukan berarti rakyat Uzbekistan tidak mengenal presiden pertama Republik Indonesia itu.

Bagi masyarakat Uzbekistan, Bung Karno adalah “penemu” makam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari alias Imam Al Bukhari, seorang perawi hadist Nabi Muhammad SAW yang mahsyur.

Itulah sebabnya mengapa ketika saya mendarat di bandara Tashkent beberapa hari lalu, tak sedikit supir taksi yang berteriak “Sukarno, Sukarno” begitu tahu saya dari Indonesia.

Mereka juga memuji pin merah putih bergambar Sukarno yang saya sematkan di dada kiri. Pin itu saya dapatkan dari pendiri Universitas Bung Karno (UBK), Rachmawati Soekarnoputri, tak lama sebelum saya meninggalkan Jakarta.

Tahun 1961 pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet sekaligus penguasa tertinggi negara itu Nikita Sergeyevich Khrushchev kembali mengundang Bung Karno ke Moskow.

Tak seperti undangan sebelumnya di tahun 1959, kali ini Khrushchev punya keinginan lain. Pertama memamerkan keberhasilan misi Sputnik dan kosmonot Yuri Gagarin yang pada bulan April di tahun itu berhasil menembus ruang angkasa. Kedua, menetralisir posisi Indonesia setelah di bulan April sebelumnya Bung Karno bertemu John F. Kennedy di Washington DC.

Di sisi lain, Bung Karno tahu bahwa posisi Indonesia semakin menarik dan diminati kedua kubu yang sedang bertarung memperluas pengaruh mereka masing-masing di dunia. Bagi Bung Karno, Indonesia harus menjalin hubungan baik dengan semua negara, termasuk dengan Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Tetapi, manjalin hubungan baik tidak sama dengan menjadi bagian dari hegemoni Uni Soviet maupun Amerika Serikat. Bung Karno tidak mau Indonesia menjadi satelit negara manapun yang hanya mengekor keinginan negara superpower. Bung Karno tidak mau membawa Indonesia pada situasi sulit dan tidak menguntungkan.

Kunjungan pertama Bung Karno ke Moskow di tahun 1959 berhasil memperkuat posisi dan nilai tawar Indonesia di mata Uni Soviet. Khrushchev membalas kunjungan itu setahun kemudian. Di Jakarta, misalnya. Khrushchev mengunjungi lokasi pembangunan Stadion Gelora Bung Karno di Senayan yang terlihat mirip dengan Stadion Luzhniki di Moskow dengan kapasitas penonton lebih banyak.

Khusus untuk undangan di tahun 1961, Bung Karno mengajukan syarat khusus, syarat yang tidak bisa tidak, harus dipenuhi Khrushchev.

Kira-kira begini dialog antara Bung Karno dan Khrushchev yang saya reka berdasarkan cerita yang berkembang di kalangan pemerhati hubungan Indonesia dan Uzbekistan.

“Saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi. Tidak boleh tidak,” kata Bung Karno.

“Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?” Khrushchev balik bertanya.

Bung Karno menjawab, “Temukan makam Imam Al Bukhari. Saya sangat ingin menziarahinya.”

Tidak mau membuang waktu, Khrushchev segera memerintahkan pasukan elitnya untuk menemukan makam dimaksud. Entah berapa lama waktu yang dihabiskan anak buah Khrushchev untuk menemukan makam itu, yang jelas hasilnya nihil.

Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno. “Maaf Paduka Presiden, kami tidak berhasil menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat Anda?”

“Kalau tidak ditemukan, ya sudah, saya lebih baik tidak usah datang ke negara Anda,” tegas Bung Karno.

Kalimat singkat Bung Karno ini membuat kuping Khrushchev panas memerah. Khrushchev kembali balik kanan, memerintahkan orang-orang nomor satunya langsung menangani masalah ini.

Akhirnya setelah bolak-balik, serta lebih serius mengumpulkan informasi dari orang-orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev menemukan makam Imam Al Bukhari yang lahir di Bukhara pada tahun 810 M. Imam Al Bukhari meninggal dunia dan dimakamkan Samarkand pada 870 M. Ketika ditemukan, makam Imam Al Bukhari dalam kondisi rusak tak terawat.

Khrushchev memerintahkan agar makam itu dibersihkan dan dipugar secantik mungkin.

Selesai renovasi, Khrushchev menghubungi Bung Karno kembali untuk mengabarkan bahwa misi pencarian makam Imam Al Bukhari berhasil.

Mendengar laporan itu, sambil tersenyum Bung Karno mengatakan, “Baik, saya datang ke negara Anda.”

Kunjungan Bung Karno ke Uni Soviet kali ini sungguh luar biasa. Bung Karno sempat menyematkan Bintang Adipradana untuk Kosmonot Yuri Gagarin dan salah seorang petinggi PKUS Leonid Brezhnev yang di tahun 1964 menggantikan Khrushchev.

Dari Moskow, pada tanggal 12 Juni 1961 Bung Karno tiba di Samarkand. Puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini sejak dari Tashkent. [t]