Dari Istighotsah Ke Rahasia Negara

SEBULAN menjelang digelarnya Istighotsah Akbar warga NU (29/4) bau anyir darah menyelimuti Jakarta. Ribuan kaum Nahdliyin, yang kebanyakan berbasis di Jawa Timur, membentuk berbagai pasukan untuk membela kekuasaan Gus Dur. Namanya pun macam-macam. Ada Pasukan Berani Mati, ada pula Sukarelawan Mati Syahid. Tidak hanya kemampuan silat, setiap personil pasukan ini dibekali ajian kanuragan. Beberapa diantaranya malah mengaku punya kemampuan anti-tank.

Tidak mau kalah, kelompok kontra Gus Dur juga melakukan hal serupa. Kalau pasukan berani mati pro Gus Dur berani menjejakkan kaki di Jakarta, 150 ribu massa Ikhwanul Muslimin Indonesia siap menghadapi. Bahkan pasukan yang dipimpin Habib Hussein Al Habsy ini sesumbar akan mengambil alih kekuasaan militer di seluruh Jakarta.
Dan bau darah semakin kental menyengat, tatkala disadari bahwa keesokkan harinya, giliran DPR menggelar rapat paripurna untuk menjatuhkan vonis memorandum II kepada Gus Dur (30/4). Bayangkan saja, apabila DPR menjatuhkan memorandum II, dan pada saat yang bersamaan ratusan ribu massa pro dan kontra Gus Dur saling berhadapan dengan kepala panas, mata merah, dan senjata terhunus. Darah, benar-benar lautan darah yang akan terjadi.

Namun nyatanya detik-detik mencekam itu berlalu juga. Saat Istighotsah Akbar, massa NU sopan santun. Tidak ada carok-carokan yang terjadi. Tidak ada pembakaran gedung.

Paling sebuah ledakan kecil. Tidak ada korban serius. Penjelasan resmi menyebutkan ledakan itu berasal dari petasan, yang kemungkinan dilakukan orang-orang iseng.

Ribuan massa NU dari Pasuruan memang sempat membandel. Mereka tidak segera pulang ke kampungnya begitu Istighotsah Akbar itu usai. Keesokan harinya, mereka ngumpul di silang Monas. Lalu pawai menuju Gedung Senayan sambil meneriakan hujatan-hujatan yang ditujukan pada beberapa politisi Senayan. Nama Amien Rais dan Akbar Tandjung paling sering disebut dengan makian.

Di bundaran HI, rombongan itu dijinakkan oleh kyai-kyai NU. Balik kanan, kembali ke silang Monas. Sebelum matahari tenggelam, pasukan mini itu sudah keluar dari Jakarta. Pulang kampung.

Rapat paripurna DPR pun aman. Tidak ada manuver yang nyelekit. Paling beberapa sikap pro kontra di ruang Nusantara V. Hasilnya, memorandum II menang mutlak.

Keesokan harinya (1/5) bekas Sekjen Departemen Kehutanan dan Perkebunan Soeripto ditangkap petugas Polda Metro Jaya. Soeripto yang juga bekas staf Kepala Badan Kordinator Intelijen (Kabakin) ini dituduh menjual rahasia negara kepada pihak asing.

Lho kok bisa? Begini ceritanya, singkat saja. Sehari sebelumnya, pagi-pagi, polisi menciduk tiga pria dari Hotel Cemara, yakni Asep Saefullah (38), Ahmad Paradis (37), dan Agus Julianto (32). Bersama mereka ditemukan pula rakitan bom dan senjata ninja.

Usut punya usut, mereka mengaku dibayar oleh Soeripto. Kepada aparat, Soeripto mengatakan dirinya merasa berkepentingan mengamati kemungkinan konflik antara massa pro dan kontra Gus Dur menjelang Istighotsah Akbar dan rapat paripurna DPR. Konon hasil pengamatannya akan digunakan sebagai bahan penelitian bagi Lembaga Studi Pertahanan dan Strategis Indonesia yang dipimpinnya.

Mendapat informasi tambahan seperti itu, lembaga yang berkantor di Jalan Tulodong itu digrebek. Beberapa dokumen disita. Dari dokumen itu polisi menuduh Soeripto telah sering memasok informasi rahasia negara kepada negara lain.

Sedikit membingungkan. Tapi cerita penangkapan Soeripto terhenti. Tiga anggota DPR dari Fraksi Reformasi, Suminto Martono, Mashadi, dan Mutamimul Ula, menjamin pembebasan Soeripto.

Sekarang Soeripto masih dalam status tersangka pembocor rahasia negara dan wajib lapor ke Mapolda Metro Jaya seminggu sekali setiap hari Selasa. Berikut laporan Teguh Santosa.

Membocorkan Rahasia Negara

LEWAT beberapa menit dari pukul 21.00. Bekas Sekjen Dephutbun Soeripto sedang menerima seorang tamu di ruang utama rumahnya, di kawasan Cipete. Mengetahui kehadiran Rakyat Merdeka, Soeripto berdiri, membuka pintu depan setengah, melongokkan kepalanya. Soeripto yang kini jadi tersangka pembocor rahasia negara, mempersilakan Rakyat Merdeka menunggu di teras.

Menghadap sebuah meja bundar, Rakyat Merdeka duduk di kursi kayu berukiran ala Jepara. Masih ada tiga kursi lagi yang mengelilingi meja itu.

Teras rumah Soeripto tidak begitu luas, hanya sekitar 2 x 2 meter persegi. Tiang kayu penyangga teras berikut kusen pintu dan jendela berwarna krem.

Di halaman, dua pohon mangga kokoh berdiri. Sementara di pojok kanan halaman rimbunan bunga-bungaan menghiasi. Kendati sebuah lampu mercuri putih bersinar terang benderang, namun tidak terlihat terlalu jelas bunga apa saja yang ditanam di situ.

Sebuah BMW 318i biru bernopol B 377 H diparkir di garasi. Berikut sebuah Kijang Jantan bernopol B 3687 GO di belakangnya.

Tidak usah heran melihat sejumlah air mineral gelas yang disediakan di atas meja bundar itu. Agaknya Soeripto sudah memperkirakan dirinya bakal dikunjungi banyak tamu menyusul kasus yang dituduhkan padanya. Pun beberapa kursi tamu ekstra, diletakkan di sisi lain teras, di sebelah kanan pintu rumah. Siapa tahu jumlah tamu membludak.

Setelah pembicaraan dengan tamunya usai, setengah jam kemudian, Soeripto mempersilakan Rakyat Merdeka masuk ke ruang tamu seluas 3 x 3 meter persegi. Tiga lukisan kaligrafi dan sebuah lukisan Ka’bah besar menghiasi dinding-dinding ruangan tamu itu. Di dua pojok ruangan masing-masing diletakkan satu meja kecil. Sebuah lampu hias nengger di atas masing-masing meja kecil itu.

Duduk di sofa putih membelakangi pintu, Soeripto menyedot air mineralnya. Sikap duduknya santai. Badannya menyender. Kedua kakinya disilangkan. Tangan kirinya ditopangkan di atas lutunya.

Hanya satu sedotan, air mineral kembali diletakkan di meja kecil di sebelah kanannya. Sesaat Soeripto membetulkan letak kacamata berbingkai tebal yang jadi ciri khasnya.

Mengenakan batik coklat tua dan celana yang juga coklat tua, Soeripto bicara kembali soal tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Nada suaranya pelan, lamat-lamat keluar dari mulut kecilnya. Tatapan matanya mengambang dan air mukanya sedikit keruh. Selain itu, tidak ada yang berubah dari Soeripto.

Dari tiga orang yang ditangkap petugas Ditserse Polda Metro Jaya pekan lalu (30/4) di kamar 311 dan 434 Hotel Cemara, Soeripto mengaku hanya mengenal satu orang, Ahmad Paradis (37), seorang alumni Fakultas Teknik UI.

Menurut Soeripto, perkenalannya dengan Adis, panggilan Ahmad Paradis, terjadi dalam diskusi informal yang diselengarakan sebuah forum studi Islam kontemporer.

Merasa sepaham dengan Soeripto, Adis menawarkan diri membantu Soeripto mengumpulkan informasi menjelang Istighotsah di parkir timur Stadion Gelora Bung Karno dan rapat paripurna DPR pekan lalu itu. Informasi dimaksud berkaitan dengan potensi konflik menjelang dua kegiatan besar itu.

“Habis, mau bagaimana. Masing-masing kelompok yang berbeda pendapat sudah saling ancam. Saya kira ini menarik untuk dipelajari,” bekas staf Kabakin ini mengangkat kedua alis matanya.

“Adis bekerja sukarela. Tidak sepeserpun saya bayar. Hanya uang hotel saja dari saya,” tegas Soeripto. Badannya ditegakkan. Tangan kanannya memukul-mukul lutut. Air mukanya mengeras, meyakinkan.

Soal siapa saja yang diajak Adis dalam mengumpulkan informasi, Soeripto tidak tahu menahu. Juga aktifitas “tambahan” yang mereka lakukan di kamar hotel.

Telepon di ruang keluarga berdering. Lama, sampai mati dengan sendirinya. Tidak ada yang mengangkat. Tidak juga Soeripto. Mungkin anggota keluarga yang lain sudah pada tidur.

Soeripto yang juga pernah menjabat Sekretaris dewan Pertahanan Keamanan Nasional (Wanhankamnas) tahun 1970-1981 ini melanjutkan ceritanya. Nada suara datarnya tetap terdengar pelan.

“Saya merasa perlu mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan perkembangan politik. Untuk menambah pemahaman saya pribadi. Juga untuk lembaga penelitian saya. Dan saya memang sering menggunakan orang lepas. Begitu juga untuk kerusuhan Maluku, Sampit atau Banyuwangi,” paparnya.

Merasa tidak bersalah, bekas Ketua Tim Masalah Kemahasiswaan DIKTI tahun 1986-1999 ini, patuh saja ketika petugas unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya menangkapnya pekan lalu (1/5).

“Mereka bawa surat penangkapan dan penggeledahan. Jadi, sebagai warga negara saya patuh dan tunduk. Sekarang saya baru berpikir ulang, apakah penangkapan yang mereka lakukan proporsional. Pada hal tanpa bukti, hanya dugaan,” suaranya mengeras meninggi. “Masa hanya karena saya mem-booking hotel,” sungutnya.

Aktifis 1966 yang sampai sekarang dikenal dekat dengan mahasiswa ini pun tidak mengerti mengapa penangkapan dirinya disebut sebagai bukti baru konflik antara dirinya dengan Gus Dur. “Saya merasa nggak ada masalah dengan Gus Dur. Ketemu juga cuma dua kali, kok,” senyumnya mengembang.

Kira-kira bagaimana akhir kasus Anda, tanya Rakyat Merdeka ingin tahu. “Mereka tidak punya bukti kuat soal pembocoran rahasia negara. Dokumen yang mereka sita dari kantor saya di Tulodong pasti mereka pada pakar. Diminta pendapat, apakah ada indikasi pembocoran rahasia negara. Setelah itu, ya dipetieskan,” yakinnya. Sungguh-sungguh yakin.

Hidup Abnormal

SOERIPTO mengaku hidup tidak normal alias abnormal. Waktu masih menjadi ketua tim khusus masalah kemahasiswaan di Dikti, Soeripto sering berdiskusi dengan aktifis mahasiswa dari petang sampai fajar kembali menyingsing. Padahal dia tidak dibayar mahal untuk posisi itu. Itulah idealisme, dalihnya.

Makanya, ketika Rakyat Merdeka mempertanyakan bagaimana mungkin ada orang mau kerja secara volunteer, seperti yang dilakukan Paradis dkk untuk Soeripto, pria plontos ini pun mengatakan, untuk mempertahankan idealisme terkadang memang harus hidup abnormal.(GUH)

Lebih Jago Dari Polisi

PUN Soeripto adalah bekas intel. Dan handal pula. Makanya tidak heran kalau dia lebih jago dari polisi yang menangkapnya kali ini. Bayangkan saja, proses di tingkat verbal saja petugas Polda sudah kewalahan. Mereka tidak bisa menjelaskan apa itu rahasia negara, dan bagaimana menjelaskan tindakan pembocoran rahasia negara.

Tirulah bagaimana Soeripto menyeret raja hutan Bob Hasan yang saat ini meringkuk sepi di Nusakambangan. Bahkan, Prajogo Pangestu yang dijamin Gus Dur kebebasannya pun sekarang dag dig dug menanti jemputan opsir penjara. Semuanya atas kerja keras sekaligus cermat Soeripto, sang intel kawakan.(GUH)

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s