Around the World, News, North Korea, Notes, Photos

Jalur Maut ke China

Sampai pagi tadi, di sela-sela membaca kembali laporan-laporan mengenai perpanjangan PPKM Level 4 oleh Presiden Joko Widodo kemarin malam, saya masih menerima pertanyaan dari beberapa teman.

Ada yang disampaikan lewat telepon, ada yang lewat pesan pendek.

Pertanyaan yang diajukan intinya sama, terkait dengan keputusan Indonesia memulangkan diplomat dan staf KBRI dari Pyongyang, Korea Utara.

Dubes Berlian Napitupulu termasuk dalam rombongan yang meninggalkan Pyongyang menuju China pada hari Jumat (23/7).

Mereka telah tiba di Dandong, Provinsi Liaoning, Republik Rakyat China (RRC) dan kini harus mengikuti karantina selama 14 hari.

Dari Pyongyang, rombongan menempuh perjalanan darat sejauh 230 kilometer ke utara, ke arah Sungai Amnok dalam bahasa Korea, atau Sungai Yalu dalam bahasa China. Sungai inilah yang memisahkan wilayah China di utara dengan Korea Utara di selatannya.

Sungai ini mengalir sepanjang 790 kilometer dari Danau Cheonji dalam bahasa Korea, atau Danau Tamun dalam bahasa China, atau Danau Surga dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan dari Heaven Lake dalam bahasa Inggris.

Seperti Sungai Amnok atau Sungai Yalu, danau seluas 9,8 kilometer persegi itu pun memisahkan China dan Korea Utara. Sisi utaranya berada di Provinsi Jilin, China, sementara sisi selatan berada di Provinsi Ryanggang, Korea Utara.

Danau Surga merupakan rangkaian dari Pegunungan Paektu yang sakral bagi bangsa Korea. Satu gunung sakral lainnya bagi mereka ada di Pulau Jeju, Korea Selatan. Namanya Gunung Halla.

Dari Danau Surga di timur, Sungai Amnok atau Sungai Yalu mengalir ke barat dan bermuara di Teluk Korea, Laut Kuning.

Menurut Jurubicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah, hari Kamis lalu, sejak akhir tahun 2020 pemerintah Korea Utara telah mempersilakan perwakilan asing untuk sementara waktu memindahkan atau memulangkan staf diplomatik dari negara itu.

Imbauan ini disampaikan karena Korea Utara masih merasa perlu untuk melanjutkan lock down yang mereka mulai sejak bulan Januari 2020. Persis di hari yang sama ketika China menutup kota Wuhan di Provinsi Hubei yang menjadi episentrum penyebaran Covid-19 yang disebabkan virus corona baru atau SARS-Cov 2.

Sampai di sini sebenarnya tidak ada masalah.

Anjuran yang disampaikan Korea Utara dapat dipahami. Seperti juga langkah yang diambil Indonesia mengosongkan KBRI Pyongyang untuk sementara waktu.

Teman di Kedubes Korea Utara di Jakarta mengatakan, negaranya semakin ekstra hati-hati menyusul penyebaran varian baru Covid-19 beberapa waktu belakangan ini.

Sebelumnya keadaan di Korea Utara biasa-biasa saja. Pihak Kedubes Korea Utara selalu mengatakan belum ditemukan kasus Covid-19 di negara mereka. Namun begitu mereka merasa perlu untuk meningkatkan kewaspadaan. Cara utama adalah dengan menutup semua perbatasan. Total.

Beberapa bulan lalu, dalam pertemuan di kediaman almh. Rachmawati Soekarnoputri, kepada Dubes An Kwang Il saya bertanya, apakah Korea Utara tidak berupaya untuk membuat vaksin sendiri?

Dia menjawab, “Bagaimana bisa? Kami belum punya spesimennya.”

Artinya, mereka belum punya pasien yang terinfeksi Covid-19. Kalau sudah ada (dan semoga tidak terjadi) dari tubuh si pasien virus kejam ini dapat diekstraksi dan dijadikan bahan utama vaksin.

Saya tidak sempat bertanya, apakah tidak diusahakan metode lain. Misalnya seperti yang dilakukan Pfizer-BioNTech yang membuat vaksin bukan dari virus yang dilemahkan, tetapi dengan mengubah bagian tertentu dari rantai DNA pasien untuk disuntikkan kembali ke tubuh pasien.

Sampai dua hari lalu, teman di Kedubes Korea Utara mengatakan, “Masih belum ditemukan kasus Covid-19 di negara kami.”

Di akhir tahun lalu ada dua kali parade besar-besaran di Kimilsung Square di pusat Pyongyang yang diikuti dan disaksikan begitu banyak anggota masyarakat. Seperti parade-parade biasanya.

Tidak ada seorang pun di arena parade itu, dalam foto-foto yang saya terima, tampak mengenakan masker.

Di awal Januari 2021 saya menerima beberapa foto kegiatan Tahun Baru di KBRI Pyongyang yang dihadiri sejumlah diplomat negara sahabat. Di dalam foto-foto itu pun tidak ada yang mengenakan masker.

Di Lebaran Idul Fitri yang lalu juga begitu. Saya menerima foto-foto dari KBRI Pyongyang yang memperlihatkan kegiatan open house setelah Shalat Idul Fitri di masjid yang ada Kedubes Iran. Pun tidak ada dari tamu undangan yang hadir yang mengenakan masker.

Jadi setidaknya, sampai saat Lebaran Idul Fitri lalu, pertengahan Mei 2021, situasi aman-aman saja.

Minggu lalu saya melihat sebuah potongan video pendek yang diproduksi pihak Korea Utara yang menggambarkan suasana di salah satu stasiun kereta bawah tanah mereka. Stasiun itu baru direnovasi menjadi lebih cantik dan menarik. Juga potongan video saat warga meletakkan bunga di bawah patung Kim Il Sung di Mansudae di hari kelahiran sang pendiri Korea Utara.

Di kedua video itu tampak warga mengenakan masker penutup mulut dan hidung.

Setelah melihat kedua potongan video itu, saya tanya teman di Kedubes Korea Utara di Jakarta.

“Kami mengetatkan prokes walau tidak ada kasus. Kami perlu hati-hati karena varian baru ini lebih berbahaya,” ujarnya.

Kemarin saya baca berita di website Rodong Sinmun. Ini adalah koran milik Partai Pekerja Korea. Kantornya berada di seberang Hotel Haebangsan, hotel tempat saya menginap dalam kunjungan pertama ke Pyongyang di tahun 2003.

Dalam berita yang berjudul “Aturan Pencegahan Epidemi Diamati Secara Ketat di DPRK” itu Korea Utara masih menggunakan istilah endemi, bukan pandemi. Ini mengisyaratkan bahwa mereka belum memiliki kasus Covid-19 yang tengah menjadi fenomena global atau pandemi.

“Setelah krisis kesehatan global akibat Covid-19 semakin parah, kampanye mencegah masuknya virus ganas tersebut semakin digencarkan di semua sektor, unit, dan wilayah DPRK,” tulis paragraph pertama.

Pusat pencegahan epidemi darurat di Korea Utara disebutkan telah menerbitkan dan menyebarkan aturan perilaku warga. Berbagai langkah telah dan sedang dilakukan untuk memastikan SARS Cov-2 tidak singgah.

Sampai sini semua, seperti soal kepulangan diplomat dan staf KBRI Pyongyang, biasa saja. Dapat dimengerti dan dipahami.

Masalahnya muncul karena sebuah berita yang diterbitkan salah satu media online Indonesia.

Judulnya: “Belasan Staf KBRI Tinggalkan Korea Utara, Berjuang Lewati Jalur Maut ke China.”

Frase “jalur maut ke China” inilah yang mendorong mereka umumnya menghubungi saya.

“Jalur itu bukan jalur maut,” tulis saya dalam pesan pendek sebagai jawaban kepada seorang wartawan senior yang mengirimkan link berita itu.

“Aku pernah lewat situ, naik kereta dari Beijing ke Pyongyang. Pasti lewat Dandong,” tulis saya lagi.

“Hahaha. Kritik tuh,” responnya yang saya balas dengan emotikon orang tertawa terbahak-bahak sampai kedua mata mengeluarkan airmata.

Saya kirimkan link berita itu kepada seorang diplomat senior yang sedang bertugas di negara sahabat. Dia pun menggeleng-gelengkan kepala.

“Wow, ini click bait benar. Wong semua lancar-lancar saja kok,” tulisnya

Saya pernah naik kereta api dari Beijing ke Pyongyang, melewati Dandong, kota terakhir China, sebelum melintasi Sungai Amnok atau Sungai Yalu memasuki kota dan stasiun pertama Korea Utara, Sinuiju. Itu di bulan Agustus 2017. Bersama seorang teman Aldi Gultom.

Perjalanan ini sebetulnya tidak saya rencanakan. Walau sering saya impikan.

Gara-garanya, Cathay Pacific yang kami tumpangi dari Jakarta memperpanjang masa transit di Hong Kong karena cuaca buruk.

Ketika Cathay Pacific mendarat di Beijing, Air Koryo yang semestinya kami tumpangi sudah berada di runaway dan bersiap-siap take off menuju Pyongyang.

Ini gawat. Kami bisa tertahan untuk waktu yang lama di Beijing. Penerbangan berikutnya ke Pyongyang baru dua hari lagi. Plus, kami hanya punya visa transit.

Kawan Korea Utara yang menyambut kami di Beijing Capital Airport menyarankan agar kami melanjutkan perjalanan dengan kereta api.

“Tapi lama, bisa 24 jam,” katanya.

Saya bilang, tidak mengapa. Mungkin ini memang cara yang disediakan Tuhan agar saya bisa merasakan naik kereta api dari Beijing ke Pyongyang.

Saya sering mendengarkan cerita dari kawan-kawan Australia dan Selandia Baru. Mereka sering sekali naik kereta api dari Beijing ke Pyongyang. Selain lebih ekonomis, juga lebih tenang dan tidak melelahkan. Ini kata mereka waktu itu.

Maka, saya sambut tawaran naik kereta api. Kami berempat bergegas ke stasiun ketera api yang ramai dan padat.

Singkat kata kami tiba dengan selamat di Pyongyang keesokan harinya.

Dan benar apa yang dikatakan teman-teman dari Australia dan Selandia Baru itu, yang usianya sudah di atas 60 tahun semua.

Bahwa perjalanan naik kereta api dari Beijing menuju Dandong, dari Dandong melintasi Sungai Amnok atau Sungai Yalu menuju Sinuiju, dari Sinuiju menuju Pyongyang, adalah perjalanan yang asyik-asyik aja. []

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s