Havana Onana

Saya tak menyangka kemarin sore akan mendengarkan sebuah kisah romansa dari sejarawan asal Brisbane, Australia, Greg Poulgrain.

Saya mengenal Greg beberapa tahun lalu. Dia menghubungi kami, menjajaki kemungkinan membuat film dokumenter dari salah satu buku yang ditulisnya, The Incubus of Intervention.

Buku itu berkisah tentang persaingan atau pertarungan kepentingan antara Presiden AS John F. Kennedy dan Direktur CIA Allen Dulles. Dari sekian pertarungan di antara keduanya ada yang melibatkan Indonesia dan Bung Karno. Kontestasi berakhir bersama dengan tewasnya JFK pada November 1963.

Kisah yang luar biasa; membicarakan kepentingan-kepentingan abadi aktor negara dan aktor non-negara superpower di negeri-negeri bekas jajahan yang baru memerdekakan diri di era dekolonisasi.

Kami telah mengadakan pertemuan dengan seorang tokoh nasional yang memiliki ketertarikan pada tema seperti itu. Juga telah bertemu seorang sineas dan sutradara muda, serta seorang aktor kawakan yang rasa-rasanya pantas memerankan Bung Karno. Itu tiga tahun lalu. Belum ada kemajuan.

Kedua hal tersebut, buku The Incubus of Intervention dan keinginan membuat film dokumenter berdasarkan buku itu, adalah hal lain yang tidak akan dibahas dalam tulisan singkat ini.

Cerita yang disampaikan Greg kemarin sore di Metropole, Jakarta, tempat favorit kami bila bertemu, adalah tentang perjalanannya ke Kuba, hampir 40 tahun lalu.

Saya yang memulai pembicaraan tentang Kuba, menyampaikan kepadanya bahwa beberapa waktu lalu saya menghadiri resital piano seorang pianis wanita dari Kuba, Lianne Vega Serrano, di Perpustakaan Nasional di Jakarta.

Serrano membawakan nomor klasik dari Frederic Chopin, Scherzo No. 2 Op. 31. Juga karya kontemporer komposer Alberto Ginasteras, Ernesto Lecuona, Astor Piazolla Tango dan Ernesto Olivia. Ia pun membawakan dua karya Jaya Suprana, Fragmen dan Dolanan.

Kegiatan yang diselenggarakan Kedubes Republik Kuba dan Jaya Suprana School of Performing Arts itu digelar untuk mengenang 60 tahun kunjungan Ernesto Che Guevara.

Che Guevara berkunjung ke Indonesia di bulan Juni 1959 sebagai utusan Fidel Castro. Cukup lama ia berada di Indonesia, kira-kira dua bulan sampai bulan Agustus di tahun itu.

Indonesia adalah satu dari 14 negara yang dikunjungi Che Guevara untuk mengabarkan kemenangan revolusi Kuba di akhir Desember 1958. Dalam revolusi yang gemilang, Che dan Fidel bersama kompatriot revolusioner Kuba lainnya, termasuk Raul Castro, berhasil menggulingkan pemerintahan Fulgencio Batista.

Dalam pemerintahan baru, Fidel Castro menunjuk Che Guevara sebagai Direktur Industri pada Institut Nasional untuk Reformasi Agraria. Setelah kembali ke Kuba dari perjalanan mengunjungi 14 negara itu Che Guevara diangkat menjadi Gubernur Bank Sentral Kuba.

Kepada Greg, saya memperlihatkan beberapa foto dari kegiatan resital piano Serrano. Satu di antaranya foto tamu-tamu kehormatan di atas panggung yang memperlihatkan saya yang mengenakan batik lengan pendek dan celana jins biru berdiri canggung di sisi kanan karena merasa salah kostum.

Setelah melihat foto-foto itu, Greg membuka cerita. Tentang kunjungannya ke Kuba.

Greg sangat terkesan dengan wartawan dan penulis Amerika Serikat, Ernest Hemingway, yang tinggal di Kuba untuk waktu yang cukup lama, dari 1940 hingga 1960. Di kuba juga Hemingway menulis The Old Man and the Sea. Buku inilah yang secara khusus menarik minat Greg pada Kuba.

Buku itu menceritakan perjuangan seorang nelayan tua menaklukkan ikan cucut yang dipancingnya di tengah lautan. Atau bisa juga kisah itu dilihat sebagai perjuangan seekor ikan cucut melepaskan diri dari pancing seorang nelayan tua.

Tafsir lain mengatakan, musuh terbesar sang nelayan tua adalah lautan dan kesendirian berhari-hari di tengahnya untuk mencari ikan. Keinginan terbesarnya adalah menaklukkan lautan, bukan menundukkan sang ikan. Belakangan, kemenangan itu pun menjadi absurd.

Buku ini ditulis Hemingway di kediamannya di Pantai Cojimar, sekitar 10 kilometer dari pusat kota Havana, tahun 1951 dan diterbitkan setahun kemudian. Di tahun 1953, The Old Man and the Sea mendapatkan hadiah Pulitzer kategori fiksi. Sementara di tahun 1954, Hemingway mendapatkan Hadiah Nobel untuk kategori sastra.

Menurut sejumlah catatan, di samping The Old Man and the Sea selama berada di Kuba Hemingway menulis enam buku lain, di antaranya For Whom the Bell Tolls, A Movable Feast, dan Islands in the Stream.

Sedemikian terkesan dengan kisah Santiago sang nelayan tua, Greg memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke sana.

Di bulan Desember 1978, saat berada di London, Inggris, Greg mendatangi Kedutaan Kuba untuk mendapatkan visa. Musim dingin yang menusuk tulang.

Yang tidak diketahui Greg, Kuba baru saja mencabut peraturan yang melarang turis asal negara-negara anggota Persemakmuran berkunjung ke Kuba. Dia bahkan tidak tahu pernah ada larangan itu.

Greg bukan orang Persemakmuran pertama. Sebelumnya warganegara Kanada juga melancong ke Kuba.

Tetapi menurut Dubes Kuba di London, Greg adalah warganegara Persemakmuran pertama yang mengajukan permohonan visa setelah peraturan baru dikeluarkan. Botol rum dibuka, dan keduanya merayakan peristiwa bersejarah itu.

It was an amazing coincidence!” kata Greg dengan semangat.

Perjalanan ke Kuba dilakukan Greg di bulan Maret 1979. Ia berada di Kuba sampai awal April di tahun itu.

Tentu saja Pantai Cojimar menjadi salah satu tempat yang dikunjunginya. Ia ingin merasakan “kemewahan” yang didapatkan Hemingway selama berada di Vinca La Vigia.

Greg bertemu keluarga Kuba yang menjadi induk semang Hemingway ketika berada di Kuba untuk menyelesaikan buku-bukunya.

“Waktu itu, mereka masih memiliki alat pancing yang digunakan Hemingway selama di Kuba,” ujarnya lagi.

Selama di Havana, Greg tinggal di sebuah apartemen di persimpangan Jalan Virtudes dan Jalan Aquilla. Pemilik apartemen itu adalah kerabat dari keluarga Kuba yang menampung Hernest Hemingway selama berada di Kuba. Wanita yang indah, kenangnya.

Selama ia bercerita, saya berusaha menemukan persimpangan Virtudes-Aquilla itu di GoogleMap, lalu memperlihatkan pada Greg yang tampak terharu memandang kembali foto tempat yang pernah akrab dengan dirinya. Bangunan-bangunannya masih sama seperti 40 tahun lalu.

Greg juga masih ingat, di salah satu pojok di sisi utara Havana yang menghadap Teluk Meksiko warga yang tinggal di deretan apartemen memiliki tradisi yang unik. Setiap pukul 16.00 beberapa orang akan memainkan berbagai jenis alat musik dari tempat mereka masing-masing, lalu perlahan-lahan terdengarlah alunan serenade memuji senja.

“Sangat mengagumkan dan luar biasa,” ujarnya.

Greg pun jadi teringat pada buku catatan hariannya selama berada di Kuba. Buku itu disita petugas imigrasi saat dia hendak meninggalkan Kuba. Buku itu berisi catatan Greg dari perjalanan ke Papua Nugini sebelumnya. Hari itu diary adalah tempat terbaik untuk menyimpan kenangan, setelah hipokampus di otak manusia.

Saya sarankan kepadanya untuk menyampaikan hal ini kepada Dubes Kuba di Jakarta, Nirsia Castro Guevara.

“Mungkin sudah sulit untuk ditemukan. Tetapi tidak ada salahnya mencoba. Kalau ketemu, akan sangat luar biasa,” kata saya.

Greg setuju. Nanti bila bertemu Dubes Nirsia Castro Guevara dia akan menyampaikan hal itu.

Adapun saya jadi teringat kegagalan ke Kuba tahun lalu.

Di bulan Mei itu saya diundang Komisi Pemilihan Umum Venezuela untuk memantau jalannya pemilihan umum bersama sekitar 150 pemantau dari puluhan negara.

Saya tiba lebih awal, dengan harapan bisa melakukan perjalanan ke Kuba beberapa hari sebelumnya.

Visa kunjungan wisata ke Kuba sudah saya kantongi. Saya pun telah berkomunikasi dengan berbagai pihak di Kuba, termasuk KBRI di Havana.

Sebelum meninggalkan Indonesia, saya sempat pula ikut jamuan makan siang dengan Dubes RI Alfred Palembangan. Rencana sudah matang.

Saya membayangkan Santa Clara dan Santiago de Cuba di depan mata.

Tetapi apa daya. Sulit menemukan penerbangan dari Caracas ke Havana hari-hari itu. KPU Venezuela pun khawatir saya tidak bisa kembali pada waktunya. Selain jadwal penerbangan yang tidak pasti, suhu politik di Venezuela menjelang pemilu semakin tinggi. Ini semua membuat keinginan menginjakkan kaki di Kuba harus dikalahkan.

Dan, cerita Greg Poulgrain tentang Kuba dan Hemingway kembali menghidupkan keinginan saya berkunjung ke Coabana.

Jadi, seperti nyanyi Camila Cabello, “Half of my heart is in Havana.” []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s