#DiTepiAmuDarya: Dari Kacamata Post-Truth

PADA era yang disebut-sebut sebagai era post-truth saat ini, informasi menjadi senjata untuk menguasai. Pada era post-truth, informasi digelontorkan bertubi-tubi agar menjadi opini, tak peduli benar atau salah. Pada gilirannya, opini masyarakat atau seseorang terbentuk hanya oleh saking intensnya sebuah informasi terpapar, bukan oleh faktual atau tidaknya informasi tersebut.

Pada masa lalu penulisan sejarah mungkin relatif lebih sederhana justru karena terbatasnya informasi yang harus diseleksi. Hari ini, kita tidak dapat membayangkan akan ditulis jadi seperti apa sejarah kita kelak, mengingat banjir informasi sekarang ini juga membawa serta banjir hoaks atau kabar bohong di dalamnya.

Salah satu cara paling pas menurut saya adalah dengan bersama-sama memerangi hoaks melalui pasokan informasi yang benar dan konten yang positif di dunia maya. Memang kegiatan penanggulangan hoaks seperti ini adalah kegiatan yang sangat menguras energi, terutama bagi bangsa yang sebetulnya sedang lebih butuh memfokuskan energinya untuk mengejar banyak ketertinggalan seperti bangsa kita, namun kita harus melewatinya bersama-sama.

Oleh sebab itu saya mengapresiasi setiap upaya untuk memenuhi dunia ini dengan informasi yang sahih, detil, dan faktual seperti yang disampaikan oleh Mas Teguh Santosa ini.

Karena latar belakangnya yang wartawan, maka tulisan yang umumnya bercerita tentang Afghanistan ini mengalir dengan runtut, enak dibaca, dan tidak kehilangan detil-detil yang memperkuat posisi tulisan ini sebagai karya jurnalistik yang berbobot.

Pada persoalan politik internasional pelik seperti Afghanistan yang menjadi topik buku ini, perang yang terjadi bukan hanya fisik dengan ledakan bom dan tank, melainkan juga perang informasi pada tingkat internasional. Dunia pun terbelah dalam berbagai opini akibat pengaruh dari propaganda para pihak yang bermain di dalamnya. 

Penggambaran dengan rinci akan apa yang terjadi melalui investigasi yang detil, langsung ke lapangan, dan dalam rentang waktu yang panjang seperti disajikan dalam buku “Di Tepi Amu Darya” ini akan menyumbang kekayaan perspektif kita terhadap Afghanistan.

Membaca buku ini seperti membawa kita langsung ke jantung negeri yang terus menjadi rebutan itu, ikut merasakan isi hati para korban konflik yang jelas memiliki pandangan yang lebih faktual akan apa yang tejadi.

Post-truth tentang Afghanistan yang selama ini menjadi top of mind publik adalah bahwa mereka adalah negara yang gagal, yang sulit untuk bisa bersatu.

Namun Mas Teguh dalam buku ini menggambarkan gradasi nuansanya, bahwa dalam karut-marut itu tetap terdapat elan untuk hidup damai dan berprestasi. Negeri yang terkoyak itu saat ni adalah jawara cricket dunia. Demikian juga tim robotik mereka adalah salah satu yang terbaik di dunia.

Buku ini juga menggambarkan secara naratif tentang hasrat untuk mencari solusi damai yang tetap menyala. Di lain pihak juga menceritakan satu pesan penting bagi kita di Indonesia bahwa ketika kaum moderat berjalan sendiri-sendiri mengikuti egonya masing-masing, maka kesempatan akan diambil oleh kaum radikal.

Selamat membaca buku yang isinya lebih kaya dibanding berbagai informasi yang bersifat permukaan yang berseliweran di media atau media sosial ini. Membaca Afghanistan melalui tulisan Mas Teguh ini sungguh membuat kita setuju dengan adagium don’t judge the book by it’s cover.

Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika RI
Jakarta, 17 September 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s