Catatan Mendung yang Tak Berarti Hujan

SAYA diundang menjadi moderator dalam rilis hasil survei KedaiKopi hari Minggu lalu (30/10).

Dari survei yang dilakukan antara tanggal 19 hingga 24 Oktober, diperoleh informasi tentang elektabilitas ketiga pasangan.

Pasangan nomor 1 elektabilitasnya 21 persen, nomor 2 sebesar 27 persen dan nomor 3 sebesar 24 persen.

Terjadi penurunan elektabilitas pasangan nomor 2. Tapi suara yang hilang ini tidak pindah ke nomor 1 atau nomor 3, melainkan parkir sebagai swing voters, yang juga 27 persen. Mereka ini jadi ragu-ragu.

Hasil survei KedaiKopi itu kini dipersoalkan pihak tertentu yang tidak puas.

Tapi saya tidak akan cerita soal itu.

Saya sedang teringat pada pernyataan salah seorang narasumber usai peluncuran hasil survei. Katanya, ada kemungkinan pilkada DKI Jakarta tidak diikuti pasangan nomor 2.

Saat mendengar itu saya tak ambil pusing karena sedang mengkoreksi skripsi seorang mahasiswa saya yang datang jauh-jauh ke tempat peluncuran hasil survei di Cikini.

Oh ya, dalam peluncuran hasil survei itu, KedaiKopi memang mengundang wakil dari timses masing-masing pasangan untuk hadir dan memberikan respon atas hasil survei. Ada Andi Nurpati dari pasangan nomor 1, Hendrawan Supratikno dari pasangan nomor 2 dan Ferry Juliantono mewakili pasangan nomor 3.

Sehari setelah survei itu, Presiden Joko Widodo menemui Prabowo di Hambalang. Dia disambut pasukan kehormatan, drum band dan disuguhi nasi goreng, lalu diajak naik kuda.

Malam harinya, saya ikut mendampingi Mbak Rachma ketemu Habib Rizieq di rumahnya di Jalan Petamburan III, Tanah Abang. Habib Rizieq menyambut dengan tawa lebar. Cerita mengalir kesana kemari. Habib Rizieq pernah juga kuliah di UBK tahun 1983. Dia sedang mengikuti perkuliah hari pertama, saat itu, ketika kampus dibubarkan tentara.

Di hari Selasa situasi semakin aneh. SBY turun gunung menemui Menkopolhukam Wiranto yang pernah jadi atasannya, dan Wapres JK yang pernah jadi bawahannya.

Hari ini, pagi diawali dengan artikel Denny JA yang mengingatkan aparat agar tidak too late dan too little dalam menangani kasus Ahok.

Lalu siang hari, giliran SBY menyampaikan serangkaian pernyataan tegas dan keras antara lain tentang penanganan kasus Ahok, juga tentang tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan anaknya yang ikut dalam pilkada.

Juga ada Komnas HAM yang mengatakan demonstrasi adalah hak setiap orang terlebih di saat peradilan tak bisa diharapkan.

Sore, kabar heboh tersebar. Ahok diuber oleh warga yang marah padanya saat mengunjungi kawasan Kebun Jeruk untuk kampanye. Untunglah dia masih sempat dievakuasi naik angkot.

Sementara mendung semakin tebal. Tapi hujan belum juga turun di tempat saya, di persimpangan Kasablanka.

Seorang teman mengingatkan, sudah ada peribahasa: mendung tak berarti hujan.

Tapi, ah, saya rasa sebentar lagi hujan akan benar-benar turun. [***]

Ps. Perasaan saya salah, hujan belum turun juga sampai saat tulisan ringan ini diunggah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s