Inilah Kisah-kisah di Balik Ciuman Paling Populer di Dunia

vj-day-kiss-alfred-eisenstaedt

Foto seorang pelaut tengah mencium seorang perawat di Times Square New York ini barangkali adalah foto adegan ciuman paling populer di dunia setelah Perang Dunia Kedua.

Karya fotografer Life, Alfred Eisenstaedt, yang diambil pada tanggal 14 Agustus 1945 menjadi salah satu icon Perang Dunia Kedua.

Kedua orang yang sedang berciuman di dalam foto itu adalah pelaut George Mendonsa dan perawat Greta Zimmer Friedman. Saat adegan ciuman spontan itu terjadi Mendonsa berusia 22 tahun. Sementara Greta masih menggunakan nama ayahnya, Zimmer, dan berusia 21 tahun.

Foto ini kembali jadi pembicaraan menyusul kabar kematian Friedman hari Kamis lalu (8/9) di Richmond, Virginia. Dia disebutkan meninggal karena komplikasi berbagai penyakit dan usia tua. Mendonsa yang kini berusia 93 tahun dikabarkan masih hidup dan kini tinggal di Rhode Island.

Berikut ini beberapa kisah yang melatari atau setidaknya memiliki kaitan dengan kelahiran foto ciuman paling populer di dunia itu.

Kaisar Jepang Hiroito akhirnya mengibarkan bendera putih setelah Amerika Serikat menghancurkan dua kota utama Jepang di bulan Agustus 1945.

Bom atom pertama, diberi nama Little Boy, dijatuhkan di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945. Bom uranium seberat 64 kilogram yang melesat dari perut Boeing B-29 Enola Gay itu memiliki daya ledak sebesar 15 kiloton TNT. Akibat ledakannya diperkirakan antara 90 ribu hingga 146 ribu warga Hiroshima tewas. Hanya dalam hitungan detik, Hiroshima hancur lebur.

Tiga hari kemudian, 9 Agustus 1945, giliran Nagasaki dihajar Fat Man. Bom atom kedua ini dibawa Boeing B-29 Bockscar dan merupakan bom plutonium seberat 6,2 kilogram dengan daya ledak 21 kiloton TNT. Tidak kurang dari 60 ribu warga Nagasaki tewas akibat ledakan Fat Man. Seperti Hiroshima, Nagasaki pun hancur lebur.

Little Boy dan Fat Man barangkali tak akan digunakan Amerika Serikat apabila Jepang mengikuti permintaan Sekutu untuk menyerah tanpa syarat.

Pada tanggal 26 Juli 1945, Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan Jenderal Chiang Kai Shek dari Republik China bertemu di Postdam, Jerman, yang sudah lebih dahulu takluk. Dalam konferensi itu ketiga pemimpin menandatangani sebuah deklarasi yang isi meminta agar Jepang menyerah tanpa syarat. Di sisi lain, kalau Jepang enggan menyerah kalah, maka Sekutu akan menghancurkan Jepang.

Deklarasi Postdam ini tidak pernah dijawab secara resmi oleh Jepang. Satu-satunya pernyataan dari pihak Jepang disampaikan Perdana Menteri Kantaro Suzuki dalam edisi pagi Asahi Shinbun yang terbit tanggal 28 Juli 1945.

“Menurut saya, isi deklarasi itu sama seperti isi dari deklarasi sebelumnya. Pemerintah Jepang tidak merasa deklarasi itu memiliki nilai yang penting. Kami mokusatsu suru. Satu-satunya alternatif bagi kami adalah melanjutkan perjuangan hingga akhir,” katanya.

Moku-satsu dalam bahasa Jepang berarti “membunuh” dan “diam”. Secara bersama-sama, idiom ini diartikan sebagai “mengabaikan” atau “tidak memperhatikan”.

Dengan sendirinya, pernyataan Perdana Menteri Suzuki dianggap sebagai keengganan Jepang untuk menyerah kalah. Maka Sekutu pun mempersiapkan serangan besar untuk melumpuhkan dan memaksa Jepang bertekuk lutut.

Pada tanggal 8 Agustus 1945, dua hari setelah Little Boy menghancurkan Hiroshima, dan sehari sebelum Fat Man meluluhlantakkan Nagasaki, Uni Soviet menghentikan secara sepihak Pakta Non-agresi yang ditandatangani negeri itu dengan Jepang pada 13 April 1941.

Manuver Uni Soviet sebetulnya sudah dapat diperkirakan, dan sejalan dengan sikap serupa yang diambil Uni Soviet dalam Konferensi Yalta di bulan Februari 1945 untuk membicarakan reorganisasi Eropa pasca-Perang Dunia Kedua.

Dalam pertemuan di Istana Livadia, Yalta, pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin, bergabung dengan Presiden AS Franklin D. Roosevelt, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill. Ketiganya berhasil mempertemuan berbagai kepentingan mereka di Eropa dan sepakat untuk merancang serangan besar ke jantung pertahanan Jerman. Puncak dari serangan besar itu terjadi pada 8 Mei 1945, ketika Jerman menyerah kalah.

Setelah Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur oleh bom atom Amerika Serikat, jantung kekuasaan Jepang berdetak semakin tak menentu.

Di hari yang sama dengan peristiwa pengeboman Nagasaki, Perdana Menteri Kantaro Suzuki, Panglima Angkatan Laut Mitsumasa Yonai dan Menteri Luar Negeri Shigenori Togo menyarankan Kaisar Hiroito untuk menerima Deklarasi Postdam dan menyerah kalah tanpa syarat.

Tapi beberapa kalangan di Kementerian Perang menentang keinginan kubu Suzuki itu. Sempat terjadi upaya kudeta yang menewaskan sejumlah petinggi militer Jepang. Kudeta digagalkan tanggal 15 Agustus 1945, pagi hari. Adalah Panglima Armada Timur Jenderal Tanaka Shizuichi yang berhasil meyakinkan pemberontak untuk meletakkan senjata dan pulang ke rumah masih-masing.

Setelah pemberontakan berakhir, rekaman pidato Kaisar Hiroito diperdengarkan kepada seluruh dunia siang hari tanggal 15 Agustus 1945. Adapun Jenderal Tanaka memilih bunuh diri sembilan hari kemudian.

Tanggal 14 Agustus 1945, pagi hari, pelaut George Mendonsa yang gembira karena tak jadi dikirim ke Pasifik dan perawat Greta Zimmer Friedman yang juga gembira membayangkan kehidupan pasca perang yang indah, belum mendengar pengakuan kalah Kaisar Hiroito. Mereka juga tidak tahu bahwa ada drama kudeta yang hampir menggagalkan keinginan Jepang menyerah kalah.

Namun pagi itu media cetak dan radio sudah mengabarkan kekalahan Jepang. Maka tak ada alasan untuk menunda pesta kemenangan.

Sebelum pukul 07.00 warga New York sudah memenuhi jalanan. Tak sedikit yang, seperti Mendonsa dan Greta Zimmer, merayakan kemenangan di Times Square.

Itulah saat dimana Mendonsa melihat Friedman dan langsung menciumnya.

Kelak Greta Zimmer Friedman mengatakan itu bukan ciuman yang dalam, walaupun dari posisi tubuh ia terlihat seperti sangat menikmati ciuman itu.

Kelak Mendonsa mengatakan bahwa ketika itu dia datang ke Times Square bersama kekasih hatinya, Rita Petry, yang juga seorang perawat. Dari angle foto yang dihasilkan Eisenstaedt, wajah Petry terlihat di belakang Mendonsa dan Greta Zimmer yang sedang berciuman.

Beberapa tahun kemudian Mendonsa menikahi Petry.

Usai bertemu George Mendonsa, Greta Zimmer kembali ke kantornya. Beberapa tahun kemudian dia bertemu dengan seorang tentara Misha Friedman. Keduanya menikah dan dikarunia seorang putra dan seorang putri.

Misha Friedman meninggal dunia pada tahun 1998. Tubuhnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Arlington.

Menurut keluarga yang menyampaikan kabar kematiannya, Greta Zimmer Friedman pun akan dimakamkan di liang lahat yang sama dengan suaminya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s