
Namanya Kadhem Sharif Hussein. Di jalanan dia dikenal dengan julukan Al Yabani alias Si Jepang. Khadem Hussein adalah pecinta sepeda motor, atlet gulat dan angkat berat, serta sempat tercatat sebagai asisten pelatih tim gulat nasional Irak.
Sebagai atlet nasional, Al Yabani sempat memiliki kedekatan dengan Uday Hussein yang ketika itu adalah Ketua Komite Olimpiade Irak. Al Yabani mengenang Uday sebagai pribadi yang keras, yang akan memberikan hukuman cukur rambut dan alis setiap kali tim gulat dan angkat berat tampil buruk.
Al Yabani juga menjadi pelatih pribadi Uday, dan ikut membantu putra sulung Saddam Hussein itu membangun pusat kebugaran terbaik di Timur Tengah.
Kepada Guardian, Al Yabani mengatakan, bersama tim dokter, ia menyusun program latihan beban dan menyediakan supplement untuk Uday, untuk membentuk lengan, bahu, dan dadanya.
Uday menghabiskan 250 ribu dolar AS untuk membeli pil pembentuk otot yang termasuk steroid anabolik. Pada akhirnya, Uday tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh steroid dan mencampurnya dengan alkohol. Jadilah Uday seorang pemabuk berat.
Seperti Al Yabani, Uday juga menggemari sepeda motor. Setelah lolos dari upaya pembunuhan di tahun 1996, tubuh Uday cacat. Maka di bengkelnya, Al Yabani memodifikasi motor roda tiga agar bisa dikendarai Uday.
Hubungan Al Yabani dan Uday memburuk setelah Al Yabani membeli dua sepeda motor Harley Davidson dari Beirut, Lebanon, seharga 12.000 dolar AS. Uday yang mendengar pembelian dua Harley Davidson itu cemburu dan marah. Dia memaksa Al Yabani menjual kedua sepeda motor itu kepadanya seharga 5.000 dolar AS.
Sekarang giliran Al Yabani yang marah. Dia tidak mau lagi membantu Uday mereparasi sepeda motor.
Tidak bisa menerima pembangkangan Al Yabani, Uday merekayasa kasus pencurian mesin sepeda motor yang menempatkan Al Yabani sebagai tersangka utama. Al Yabani dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara, namun karena berbuat baik, di tahun 1998 dia dibebaskan.
Selain masalah pribadinya dengan Uday yang berkembang menjadi masalah hukum, sebenarnya belasan anggota keluarga Al Yabani, paman dan bibinya, tewas dalam pemberontakan melawan Saddam di tahun 1991. Seorang sepupunya dieksekusi rezim di tahun 1993. Jauh sebelum itu, di era 1980an, seorang saudaranya yang menganut paham komunisme melarikan diri ke Belanda.
Tapi yang membuatnya paling sakit hati adalah fitnah yang dilakukan Uday dan hukuman penjara yang harus dijalaninya.
Itu juga yang paling membuat rasa simpatinya yang pernah ada untuk Saddam Hussein berubah menjadi benci.
Maka demikianlah, pagi hari 9 April 2003, Al Yabani mendatangi patung raksasa Saddam Hussein di Taman Firdaus di pusat Baghdad. Dengan palu yang dibawanya, dia mulai memukul pondasi patung itu. Berkali-kali sampai tangannya terluka.
Di sekelilingnya, orang-orang yang marah pada pemerintahan Saddam Hussein bersorak-sorai. Tentara Amerika Serikat yang telah menguasai seluruh kota dan akhirnya menuju Taman Firdaus, bersiap siaga.
Wartawan dari berbagai negara yang berkunjung ke Baghdad untuk meliput episode terakhir kekuasaan Saddam Hussein mengarahkan kamera. Kebanyakan dari mereka menginap di Hotel Palestina, persis di seberang patung raksasa itu.
Adegan Al Yabani memukulkan palu ke pondasi patung raksasa Saddam Hussein menjadi foto spesial yang dicetak dalam ukuran besar oleh majalah Newsweek.
Tentu saja, patung raksasa itu tidak tumbang oleh pukulan palu Al Yabani dan orang-orang lain yang meluapkan kemarahan. Patung itu roboh oleh seutas tambang baja yang ditarik tank Amerika Serikat.
Seorang tentara AS sempat menutup bagian kepala patung dengan bendera Amerika Serikat. Al Yabani memintanya mengganti bendera itu dengan bendera Irak.
Beberapa detik kemudian, patung Saddam Hussein itu pun tumbang. Berakhirlah kisah kekuasaan sang pria dari Tikrit yang berlangsung selama dua dekade lebih.
Sempat melarikan diri, Saddam ditangkap di sebuah lubang persembunyian di kampung halamannya, 13 Desember 2003. Dia diadili di hadapan seluruh penduduk bumi. Diperlakukan layaknya seorang pria yang menanggung beban dosa seisi alam semesta.
Tanggal 30 Desember 2003, hidup Saddam berakhir di tiang gantungan, persis di ujung syahadat yang diucapkannya.
Bagaimana dengan Al Yabani?
Di dalam film dokumenter singkat yang diprodukdi BBC di bulan Juli 2016, Al Yabani prihatin pada perkembangan Irak pasca Saddam.
“Saddam telah pergi. Tetapi kini di tempat yang ditinggalkannya ada 1.000 Saddam,” katanya dengan pandangan hampa.
“Saya merasa sakit dan malu setiap kali melewati tempat itu. Saya bertanya pada diri sendiri, mengapa saya ikut menumbangkan patung itu. Saya ingin membangunnya kembali. Tapi saya takut akan dibunuh,” ujar Al Yabani di awal film.
“Tidak seperti ini di bawah Saddam. Kami tidak menyukainya, tetapi dia lebih baik daripada orang-orang itu… Saddam tidak pernah mengeksekusi orang tanpa alasan. Dia sekuat tembok. Tidak ada korupsi atau penjarahan, semuanya aman. Anda bisa aman,” kata Al Yabani lagi.
Jelas dia menyesali nyanyian revolusi.
