Verba Volant, Scripta Manent…

KATA-kata yang disampaikan akan mudah menguap, dan lalu dilupakan banyak orang. Kecuali kata-kata yang dituliskan. Demikian kira-kira pepatah dalam bahasa Latin, yang sudah diketahui hampir setiap penulis.

Di belahan bumi lain, di tengah gurun dan di tengah masyarakat yang rata-rata tak bisa membaca dan menulis, Ali Bin Thalib memberi nasihat: ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Di antara generasi era di 7 abad Masedi itu, hanya kumpulan kata-kata, pidato dan surat menyurat Ali yang dibukukan. Bukunya dikenal dan diberi judul Puncak Kefasihan atau Nahj al-Balaghah.

Menulis merupakan pekerjaan setiap hari wartawan. Namun menulis buku, tak semua bisa melakukannya. Karena itu, menulis buku bagi seorang wartawan cukup istimewa. Menulis buku, selain butuh waktu, tentu saja memerlukan konsentrasi yang lain. Dalam setiap tulisan di buku, bukan semata tinta yang bercucuran. Ada pikiran yang mengalir deras. Bagi sementara penulis, sebagaimana ada di berbagai lembaran sejarah, tumpukan goresan yang dikumpulkan menjadi buku, bahkan harus dilalui dengan tetesan darah dan air mata.

Karena itu, wartawan yang mau dan mampu menulis buku harus diberi tempat. Harus diapresiasi dengan proporsional. Apalagi buku yang terlahir dari seorang wartawan, semoga bukan buku biasa. Buku itu bisa dipenuhi tumpukan teori, dan di saat yang sama pasti kaya dengan pengalaman. Pengalaman dalam memandang satu realitas obyektif pun, bahkan bisa dari beragam sudut pandang. Karena itu akan kaya wawasan dan bisa memperluas horizon.

Dan karena itu juga, dalam setiap momentum Hari Pers Nasional (HPN), buku-buku yang ditulis oleh wartawan dan tokoh pers diterbitkan. Penerbitan ini menjadi bagian kecil dari apresiasi tersebut. Dan semoga saja wartawan semakin banyak dan kian bersemangat lagi menulis buku. Lebih-lebih, bagi penulis mana pun, menulis adalah kebahagiaan. Bahagia saat menulis; bahagia ketika diterbitkan; bahagia ketika tulisan dibaca banyak orang; bahagia ketika tulisan itu diapresasi; dan semoga bahagia bila tulisan itu dibukukan serta menjadi warisan dari generasi ke generasi.

Selain persoalan psikologis “kebahagian,” tentu saja menulis buku juga terkait dengan tanggung jawab sosiologis. Dengan menulis buku, wartawan bisa memberikan informasi dan pendidikan kepada warga negara, atau khalayak pembaca di belahan bumi mana pun. Tanggung jawab sosiologis itu, menulis buku juga bisa menjadi bagian dari kontrol sosial. Maka menulis buku adalah menjadi bagian dari implementasi wartawan yang mengemban misi profetik tersebut menemukan wujudnya.

Tema HPN 2016 adalah “Pers yang Merdeka Mendorong Poros Maritim dan Pariwisata Nusantara.” Ada pesan kuat dalam tema ini. Ada tanggung jawab sosial Pers. Ada tanggung jawab kebangsaan terkait dengan realitas yang dalam beberapa dekade hampir diketahui namun diabaikan atau terlupakan; bahwa 2/3 wilayah Republik Indonesia adalah laut. Selain itu, ada juga misi profetik, yaitu ikut berupaya memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Dan semoga tanggung jawab sosial dan misi kenabian ini semakin kuat dan kokoh dengan kehadiran buku-buku yang diterbitkan.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Teguh Santosa
Ketua Panitia Pelaksana HPN 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s