Menyoal Sumpah Pemuda 1928 (Komentar Singkat untuk www.TheIndonesianJournalist.com)

Bangsa dan juga negara adalah produk manusia. Ia adalah resultan dari proses sosial pada satu masa tertentu. Ia terikat pada ruang dan waktu; pada konteks yang melahirkannya. Untuk kasus Indonesia, seperti juga kasus di banyak bangsa dan negara yang merdeka setelah Perang Dunia Kedua, konteks yang dimaksud adalah kolonialisasi bangsa dan negara lain yang berlangsung untuk jangka waktu yang relatif begitu panjang.

Dari sudut ini, saya memandang Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai rumusan cita-cita bersama yang disepakati (tidak hanya oleh) pemuda-pemuda di masa itu untuk membentuk satu bangsa dari berbagai bangsa-bangsa yang dianggap lebih dahulu ada. Asumsi dasarnya adalah, bangsa-bangsa yang dianggap lebih dahulu ada itu merasa perlu bersatu untuk menghadapi kolonialisasi bangsa lain. Ketika itu, pemuka-pemuda bangsa-bangsa yang dianggap lebih dahulu ada itu merasa yakin hanya dengan persatuan di antara mereka, mereka dapat membebaskan diri dari kolonialisasi.

Karena ia adalah cita-cita, maka menurut saya, Sumpah Pemuda selalu relevan. Termasuk relevan untuk menjawab persoalan yang sedang kita hadapi akhir-akhir ini, yang kita khawatirkan dapat merusak dan bahkan menghancurkan pondasi bangsa dan negara Indonesia.

Di sisi lain, dari sudut ini pula saya menilai Sumpah Pemuda konsisten dengan semangat pembentukan sebuah bangsa dan negara yang tidak pernah memiliki akhir. Ia akan terus bergulir. Sebagai sebuah momentum, ia merupakan salah satu penanda perjalanan sejarah sebuah bangsa yang dinamis tidak mengenal garis finish.

Ini bukan sesuatu yang khas dan unik hanya di Indonesia.

Karena ia adalah cita-cita, atau bisa juga disebut sebagai sebuah pengandaian, yang disimpulkan pada masa kolonial bahwa kehidupan akan lebih baik bila bangsa-bangsa yang dianggap lebih dahulu ada itu meleburkan diri menjadi satu bangsa yang baru dan melingkupi semuanya, maka sudah sepatutnya Sumpah Pemuda menghadapi berbagai ujian di dalam perjalanannya.

Hal ini kira-kira sama seperti teori yang selalu “diuji” oleh realita. Teori yang setiap saat diverifikasi (dibuktikan kebenarannya) dan sekaligus difalsifikasi (dibuktikan kesalahannya). Teori yang boleh dan bisa saja mengalami modifikasi demi memenuhi unsur kegunaannya.

Persoalannya terletak pada pertanyaan, sedahsyat apa ujian yang dihadapi (teori) Sumpah Pemuda kita dan seberapa kuat ia menghadapi ujian tersebut.

Karena itu pula, Sumpah Pemuda mengikat kita yang hidup hari ini.

Kakek dan nenek kita telah menjawab persoalan yang mereka hadapai dengan menggunakan rumusan yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda itu. Kini kita yang harus menjawab persoalan-persoalan yang kita hadapi (yang bisa jadi jauh lebih kompleks dari yang pernah dihadapi kakek dan nenek kita).

Teori yang tersedia di depan mata kita adalah Sumpah Pemuda yang diwariskan generasi pendahulu kita.

Karena Sumpah Pemuda dilahirkan (di tahun 1928) oleh konteks kolonialisasi bangsa-bangsa lain terhadap bangsa-bangsa yang ada di Nusantara ini, maka untuk merevitalisasinya (dalam arti memverifikasi dan memfalsifikasi) hari ini kita harus menjawab satu pertanyaan penting: apakah situasi kolonialisasi juga sedang kita alami?

Pertanyaan ini yang akan memberi ruh.

Di sisi lain, gagasan mengenai kolonialisasi, seperti halnya gagasan mengenai bangsa dan negara, dalam beberapa dekade terakhir ini telah mengalami perubahan yang sangat fundamental. Ia seakan-akan secara tiba-tiba tidak lagi kasat mata. Ia menjadi hyper-reality, atau realita yang dibayangkan dan diandaikan.

Inilah lah yang terjadi hari ini. Kita hidup di tengah hyper-reality yang dekat di mata namun tak tersentuh. Sebuah masa dimana simpati dan benci bisa terjadi begitu saja tanpa alasan-alasan yang adekuat. Masa dimana dukungan dan kebencian dapat dengan mudah di-copy dan di-paste begitu saja. Mengabaikan natur yang membentuk kultur.

Kita kesulitan membedakan mana yang merupakan cara, dan mana yang merupakan tujuan. Lebih celaka lagi, terkadang kita menjadikan cara sebagai tujuan, dan tujuan sebagai cara. Dalam konteks ini, baik untuk simpati dan benci, kita telah menjelma menjadi fundamentalis yang mengandaikan bahwa hanya ada satu hal absolut dan mengabaikan hal-hal lain yang bisa jadi semestinya dilibatkan dalam dialog agar simpati dan benci tidak sedemikian rupa terjadi.

Sumpah Pemuda, bangsa dan negara Indonesia, adalah hasil dialog.

Praktik menyimpang dari pelaksanaan otonomi daerah (yang sebetulnya diharapkan sebagai faktor penguat pondasi bangsa dan negara) juga apa yang disebut sebagai semangat primordialisme yang berkembang akhir-akhir ini, misalnya, hanya terjadi dan ada karena kita menghilangkan elemen penting dalam dialog: inklusifitas, kedewasan dan akal sehat.

Bila ini dibiarkan, teori apapun, seindah apapun, seberapa kuat pun ia selama ini, akan tumpas tergerus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s