Inilah Drama Kematian Muhammad Merah

Di tengah keheningan yang menyelimuti Toulouse, Prancis, pukul 3.00 Rabu dinihari (21/3), polisi anti-teroris Prancis mengepung sebuah apartemen bertingkat lima yang dibangun di era 1960an di Jalan Sergent Vigné di lingkungan Côte Pavée.

Muhammad Merah, seorang pemuda berusia 23 tahun, bertahan di dalam salah satu unit apartemen. Ia dipercaya membekali diri dengan berbagai jenis senjata. Mulai dari A-47, Uzi, Colt-45 dan beberapa granat tangan. Negosiasi dengan polisi berlangsung alot. Pengepungan berlangsung lebih dari 31 jam.

Ayah dan ibu Merah adalah warganegara Prancis keturunan Aljazair. Seperti kedua orangtuanya, ia juga dilahirkan di Prancis. Merah disebutkan pernah mengunjungi Pakistan danAfghanistan. Di kedua negara inilah kemungkinan ia berhubungan dengan kelompok Al Qaeda.

Tahun 2008 lalu ia gagal menjadi tentara Prancis. Tidak kenal menyerah, dua tahun kemudian Merah mendatangi kantor penerimaan Tentara Asing Prancis. Tetapi entah mengapa ia hanya tinggal satu malam di pusat penerimaan itu. Keesokan harinya Merah pergi tanpa sempat dievaluasi. Teman-temannya mengenang laki-laki berkepala plontos ini sebagai seorang yang baik. Tiga minggu yang lalu Merah tampak berada di sebuah kelab malam di Toulouse.

Beberapa saat setelah melewati tengah malam, Rabu lalu, pemuda kelahiran Oktober 1988 itu menghubungi statiun televisi French24 dan mengaku sebagai orang yang membunuh tiga tentara Prancis dalam dua peristiwa berbeda di bulan Maret ini.

Pembunuhan pertama terjadi pada tanggal 11 Maret. Merah membunuh Sersan Kepala Imad Ibn-Ziaten yang berusia 30 tahun. Keduanya bertemu karena Merah berpura-pura hendak membeli sepeda motor Ziaten. Nyawa Ziaten yang bertugas di Resimen Logistik Parasut ke-1 dihabisi dengan satu tembakan pada bagian kepala di luar sebuah pusat kebugaran. Setelah membunuh Merah melarikan diri dengan sepeda motor milik Ziaten.

Pembunuhan kedua dilakukan Merah pada tanggal 15 Maret. Ia menyerang tiga tentara anggota Resimen Teknis Parasut ke-17 yang sedang mengambil uang di sebuah mesin ATM di pusat perbelanjaan di Montauban sekitar 50 kilometer di selatan Toulouse. Dalam serangan itu, Kopral Abel Chennouf (24) dan prajurit Mohamed Legouad (23) tewas. Adapun tetara ketiga, Kopral Loïc Liber (28) dari Guadeloupe terluka parah hingga koma.

Seperti dirinya, ketiga tentara yang dibunuh Merah merupakan keturunan Afrika Utara.

Selain dua pembunuhan itu, Merah juga mengaku sebagai pihak yang menyerang Sekolah Yahudi Ozar Hatorah. Seorang Rabbi dan tiga murid tewas dalam serangan itu.

Muhammad Merah mengaku merekam semua aksinya dan akan mengatakan akan mengunduh rekaman tersebut ke dunia maya.

Isi pembicaraan dengan Muhammad Merah sudah barang tentu mengagetkan. Polisi segera mendatangi apartemen Merah dan memintanya menyerahkan diri. Menteri Dalam Negeri Claude Gueant, mengatakan, Merah sama sekali tak mengajukan permintaan spesifik selama proses negosiasi. Ia hanya bertahan.

Menjelang Rabu tengah malam, polisi anti-teror mengubah taktik. Jurubicara Menteri Dalam Negeri, Pierre-Henry Brandet, mengatakan, polisi anti-teror merengsek maju karena Merah tetap bertahan dan tak mau menyerahkan diri. Dalam gerakan maju ini tidak ada tembakan yang dilepaskan. Setelah semakin dekat dengan kamar Merah, barulah sebuah peledak ringan dilemparkan untuk melumpuhkan Merah. Tetapi Merah tak juga lumpuh.

Selama masa pengepungan itu, dilaporkan bahwa saudara-saudara laki-laki Merah ditahan polisi. Ada juga yang menyerahkan diri dengan sukarela. Sementara ibunya dibawa ke lokasi pengepungan dan diminta untuk ikut membujuk Merah. Tetapi sang ibu menolak terlibat. Ia mengatakan tak memiliki banyak informasi mengenai anaknya itu.

Kamis pagi (22/3), sekitar pukul 10.00, polisi kembali mengubah taktik. Keputusan bulat telah diambil. Merah harus segera lumpuh dan ditahan. Beberapa granat dilemparkan, tetapi sama sekali tak ada respon dari dalam kamarnya.

Pasukan pertama memutuskan untuk menyerang dan masuk lewat pintu, dan kemudian menerobos jendela. Setelah menguasai titik itu, mereka menggunakan peralatan khusus untuk memantau keadaan di masing-masing kamar. Merah bersembunyi di dalam kamar mandi.

Hanya beberapa detik kemudian Merah melepaskan tembakan membabi buta ke arah pasukan polisi anti-teror yang tengah mengepungnya. Dua polisi terluka dalam kontak senjata ini. Polisi membalas tembakan Merah. Sementara penembak jitu segera mengambil posisi membidik untuk melumpuhkan Merah bila ia memperlihatkan diri dari dalam kamar mandi.

Setelah tembak-menembak berlangsung beberapa saat, Merah bergerak. Ia melompati jendela. Dan saat itulah seorang sniper melepaskan tembakan ke kepala Merah.

Merah tewas karena tembakan itu. Tubuhnya terjatuh di atas lantai.

Polisi segera menyisir kamar Merah dan mengambil semua dokumen dan benda-benda lain yang diperkirakan memiliki hubungan dengan pembunuhan yang dilakukan Merah. Kurang satu jam setelah Merah tertembak, pihak polisi secara resmi mengumumkan kematiannya.

Presiden Nicholas Sarkozy yang sedang menghadapi pemilihan presiden juga ikut mengumumkan kematian Merah itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s