Konflik Terjadi Karena Ketidakadilan, Bukan Perbedaan!

RMOL. Konflik yang terjadi di Indonesia bukan karena perbedaan suku atau agama. Konflik yang terjadi lebih berdimensi struktural yang diakibatkan ketidakadilan kebijakan nasional dan komitmen penegakan hukum yang lemah.

“Di Indonesia, keberagaman dan pluralisme itu memang ada dan hidup. Bukan mengada-ada. Tidak ada satu keluarga pun yang dari kakek sampai cicitnya sama, baik dalam hal suku maupun agama. Kawasan nusantara ini sudah beragam jauh sebelum Indonesia ada,” kata pemerhati konflik Teguh Santosa dalam Dialog Kenegaraan di DPD, Senayan bertema “Menjaga NKRI, Mencegah Perpecahan Daerah, Jangan Ulang Tragedi Ambon”, Rabu siang (14/9).

Lebih lanjut dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Jakarta ini mengatakan bahwa konflik memiliki tiga wajah. Pertama adalah direct conflict yang paling mudah dikenali karena kasat mata. Misalnya orang saling serang dan aksi tembak menembak.

Setelah itu structural conflict yang berkaitan dengan hukum dan perundangan dan proses penegakannya yang tidak berdimensi keadilan. Serta yang terakhir dan paling sulit dihilangkan adalah cultural conflict.

“Elemen yang satu ini berkaitan dengan kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain, sentimen, antipasti, kebencian, dan lain-lain,” jelas Teguh.

Sisi cultural conflict ini menguat manakala masyarakat Indonesia di banyak daerah tidak lagi bisa diyakinkan bahwa pemerintah baik di pusat atau daerah ada dan bekerja untuk mereka.

“Setiap hari masyarakat Indonesia disajikan berita-berita yang memperlihatkan ketidakpedulian kelompok elite dan pemerintah pada nasib mereka. Sehingga akhirnya mereka dipaksa untuk memikirkan bahwa secara de facto pemerintahan di negara ini tidak ada,” kata dia lagi.

Dan karena khawatir pemerintah memang tidak ada, akhirnya masyarakat memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri demi memecahkan masalah yang mereka hadapi. Termasuk masalah kesenjangan kesejahteraan tersebut.

“Jadi tidak usah heran, bila manusia menggunakan apa saja sebagai identitas untuk mengikat dirinya dan manusia-manusia lain yang senasib dengannya,” demikian Teguh.

One thought on “Konflik Terjadi Karena Ketidakadilan, Bukan Perbedaan!”

  1. ya benar, apa yang disampai teguh santosa, saya telah mengalaminya dan merasakan. yang lebih celakanya lagi pemerintah berkuasa lalu menciptakan kebencian antar sesama rakyatnya dengan berbagai cara. rakyatnya malah dijadikan ujicoba untuk teori politiknya.

    buat hukum dan peraturan bukan untuk keadilan tapi untuk mengekalkan kekuasaannya,

    padahal mereka-mereka itu adalah orang yang pernah dijajah dan ditindas, sekarang malah jadi penjajah dan penindas.

    pantas untuk mereka kita doakan agar cepat masuk neraka jahannam, doakan agar anak cucunya mati dalam keadaan sekarat karena laknattullah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s