Dahlan Iskan Bisa Jadi Panutan Anas Urbaningrum Cs

Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara Dahlan Iskan sama sekali tidak mencak-mencak menanggapi “nyanyian” mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat, M. Nazaruddin. Padahal, Nazaruddin dua kali menyentil nama PLN dalam nyanyiannya.

Sebaliknya, jurnalis senior itu memberikan penjelasan utuh kepada masyarakat, lewat tulisan, termasuk wawancara di berbagai media, untuk menepis dugaan di perusahaan yang ia pimpin masih terjadi proses beking-membeking untuk memenangkan proyek, seperti ditudingkan Nazaruddin.

“Penjelasan Dahlan Iskan ini sebenarnya bisa dijadikan contoh oleh pihak-pihak tertentu di Partai Demokrat yang terganggu dengan nyanyian Nazaruddin,” kata pengamat politik Teguh Santosa pagi ini menanggapi penjelasan Dahlan Iskan.

Dalam pengamatan Teguh, selama ini elit Partai Demokrat hanya bisa membantah berbagai tudingan yang disampaikan buronan Interpol itu, termasuk tudingan tentang aliran dana Kongres partai dari proyek wisma atlet SEA Games dan proyek Hambalang, tidak betul. Tapi, Demokrat tidak pernah memberikan penjelasan kepada masyarakat secara utuh ihwal keuangan dan asal muasal keuangan partai. Padahal, cara ini perlu dilakukan daripada sekadar membantah tudingan Nazaruddin.

Meski memang, diakui Teguh, tidak semua reaksi Demokrat tidak tepat. Imbauan Demokrat agar Nazaruddin kembali dan memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi memang sudah seharusnya dilakukan. Tapi, dia ingatkan lagi, melakukan hal itu saja tidak cukup. Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan elit partai lainya yang tersengat dengan nyanyian Nazaruddin harus menyontoh langkah Dahlan Iskan. Dalam konteks inilah, Teguh angkat topi untuk Dahlan.

“Saya apresiasi penjelasan Dahlan Iskan, jurnalis senior yang sekarang dipercaya menangani BUMN yang sangat penting. Penjelasan dia memperlihatkan kematangan dia dalam menghadapi berbagai isu. Sebagai jurnalis senior, dia mereaksi nyanyian Nazar dengan cerdas dan elegen. Dalam penjelasan itu tidak ada ketakutan dan kekhawatiran. Hal itu malah dia jadikan untuk menjelaskan sistem pengadaan barang di PLN yang mennggunakan system auction. Karena itu, semua orang bisa mengontrolnya,” ungkap Teguh, dosen FISIP UIN Jakarta ini.

Teguh juga menyentil kinerja Kapolri Jenderal Timur Pradopo. Menurutnya, publik akan semakin curiga kalau Polri tidak juga berhasil menangkap tersangka kasus suap proyek pembangunan wisma atlet SEA Games di Palembang itu.

“Semakin lama aparat keamanan tidak bisa menangkap Nazaruddin, maka semakin kuat dugaan orang bahwa kasus ini menyimpan banyak misteri dan keanehan. Dan bukan tidak mungkin ketika keanehan itu terbuka, maka korban dalam arti sesungguhnya akan jatuh,” demikian Teguh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s