Menurut Gus Dur Cikal Bakal NII Konstitusional

Kehadiran isu Negara Islam Indonesia (NII) atau gerakan lain yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI harus dibaca secara jeli. Saat ini hampir tidak ada gerakan yang betul-betul dimotivasi ideologi.

Darul Islam yang kerap dianggap sebagai cikal bakal NII pun awalnya bukan gerakan yang didasari pada keinginan ideologis mendirikan sebuah negara yang menggunakan Islam sebagai dasar negara.

Dosen Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Teguh Santosa, mengutip pernyataan mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang pernah didengarnya mengenai riwayat pendirian Darul Islam Indonesia (DII). Ketika bertemu dengan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa pekan sebelum meninggal dunia, Gus Dur mengatakan bahwa DII adalah gerakan konstitusional untuk mengagalkan negara boneka bentukan Belanda menyusul berakhirnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Gerakan itu direstui oleh empat tokoh bangsa, yakni Presiden Sukarno, Panglima Besar Jenderal Sudirman, Ketua Umum PB NU Wahid Hasyim dan SM Kartosuwiryo. DII ini dipakai untuk menghadapi Negara Pasundan. Ada semacam janji politik yang tidak terpenuhi setelah RIS dan Negara Pasundan berakhir. Inilah yang mengawali pemberontakan Kartosuwiryo yang merasa tidak dapat apa-apa.

Begitu juga dengan gerakan serupa di Sulawesi Selatan yang dipimpin Kahar Muzakkar, seorang perwira TNI yang dikirim ke Makassar untuk menghadapi kelompok yang tidak puas karena terkena kebijakan rasionalisasi jumlah tentara. Belakangan Kahar Muzakkar bergabung dengan teman-temannya dan menggunakan berbagai simbol untuk melawan Jakarta sebelum menggabungkan diri dengan gerakan Kartosuwiryo.

“Mulai dari kedekatan Bung Karno dengan kiri, sampai permintaan agar sila pertama Pancasila dikembalikan ke teks Piagam Jakarta,” ujar Teguh.

Di Aceh, gerakan serupa beberapa waktu kemudian pun lebih didasarkan pada motivasi politik dan persaingan ekonomi.

“Bacalah The Price of Freedom karya Tengku Hasan Di Tiro. Di situ disebutkan apa motivasi dia (mendirikan GAM). Seringkali kita a-historis akhirnya gampang digerakkan ke satu isu yang tidak lebih fundamental daripada kenyataan mengapa sampai ada pasangan suami istri yang bersepakat untuk gantung diri,” demikian Teguh.

Kasus gantung diri pasangan suami istri yang dirujuknya terjadi beberapa waktu lalu di Riau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s