Mari Alkatiri: Berterimakasilah pada Fretilin


“Assalamualaikum, Your Excellency,” saya menjabat tangannya.

“Waalaikum salam,” ia, sang pemimpin Frente Revolucionária do Timor-Leste Independente alias Fretilin, tersenyum lebar menyambut uluran tangan saya.

Hari itu, Kamis, 3 Maret 2011, Mari Alkatiri mengenakan baju berlengan panjang berwarna hitam dan celana panjang yang juga berwarna gelap. Rambut, kumis dan janggutnya tampak lebih putih.

Dalam kunjungan ke Indonesia kali ini pemilik nama lengkap Mari Bim Amude Alkatiri bertemu dengan sejumlah tokoh dan pemimpin partai politik dan organisasi kemasyarakatan di Indonesia. Mulai dari Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga kubu oposisi PDI Perjuangan dan pendatang baru di blantika politik Indonesia, Nasional Demokrat.

Ini adalah pertemuan kedua saya dengan pria kelahiran Dili, 26 November 1949 itu. Kami bertemu di Executive Floor Lagoon Tower Sultan Hotel, Jakarta. Saya ditemani dua wartawan mingguan Tempo Semanal dari Timor Leste yang sedang magang di Rakyat Merdeka Online, Dominggo da Costa dan Christavao da Costa. Sementara beberapa anggota rombongan Mari Alkatiri duduk tak jauh dari tempat kami duduk di pinggir jendela. Seorang anggota rombongan sibuk merekam pembicaraan kami dan mengabadikan pertemuan itu.

Pertemuan pertama saya dengan Mari Alkatiri terjadi pada Juli 2008 di Hotel Bidakara Jakarta, hanya beberapa hari setelah Presiden SBY dan Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmao bertemu di Bali untuk menerima laporan Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) yang dibentuk kedua negara.

Karenanya dalam pertemuan pertama itu kami membahas agak dalam persoalan di seputar laporan KKP dan proses hukum pasca-KKP.

Laporan itu sekitar 300 halaman. Terdiri dari tujuh bab, termasuk bab khusus mengenai tujuh rekomendasi yang antara lain mendorong resolusi konflik dan menyediakan layanan psikososial bagi para korban juga kompensasi ekonomi, selain pembentukan komisi untuk orang hilang. Dalam laporan itu pemerintah kedua negara diminta menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf.

KKP menyimpulkan bahwa milisi pro-otonomi (baca: pro-Indonesia) merupakan pelaku utama pelanggaran HAM berat, dan ini kerap kali melibatkan anggota TNI, Polri, dan pejabat sipil. Karena itu, KKP berkesimpulan, TNI, Polri, dan pemerintah sipil harus memikul tanggung jawab kelembagaan atas kejahatan yang terjadi.

Kami juga membahas kondisi politik internal Timor Leste, yang berkaitan dengan hubungan antara dirinya dengan Ramos Horta yang adalah menteri luar negeri di pemerintahan Alkatiri, juga Xanana Gusmao yang sebelumnya adalah presiden.

Baku tembak yang menewaskan pemimpin kelompok Petitioner, Mayor Alfredo Reinado, pada suatu pagi di depan rumah Presiden Ramos Horta bulan Februari 2008 juga kami bicarakan. Ramos Horta sedang jogging di pinggir pantai ketika peristiwa itu terjadi. Sekitar 1,5 jam setelahnya Horta roboh diterjang peluru anggota kelompok Reinado yang ingin membalas dendam. Ia sempat menjalani perawatan intensif di Australia.

Menurut Mari Alkatiri, peristiwa itu, mulai dari kerusuhan 2006 sampai kematian Reinado adalah salah satu misteri besar yang pernah ada di muka bumi.

Kelompok Petitioner beranggotakan sekitar 400 tentara dan polisi Timor Leste yang terkena kebijakan rasionalisasi pada tahun 2006. Pada akhir April di tahun itu, kelompok Petitioner yang ketika itu masih dipimpin Letnan Gastao Salsinha menggelar demonstrasi di pusat kota Dili. Kelompok sipil yang terdiri dari kaum muda dan pengangguran juga ikut turut ke jalan. Demonstrasi berlangsung selama beberapa hari dan berubah menjadi kerusuhan dan huru-hara yang tak tertahankan pada 28 April 2006. Baru pada 4 Mei Mayor Reinado bergabung dengan kelompok Letnan Salsinha. Ia dan kelompoknya bertahan di pebukitan Aileu, sebelah baratdaya Dili.

Alkatiri yang ketika itu menjabat sebagai Perdana Menteri menyebut peristiwa tersebut sebagai kudeta yang bertujuan menghalangi institusi demokrasi bekerja untuk kepentingan nasional. Satu-satunya solusi yang tersedia untuk menghentikan kerusuhan itu adalah pembubaran parlemen yang dengan sendirinya bermuara pada kejatuhan pemerintahan Alkatiri.

Pada tanggal 22 Juni Presiden Xanana Gusmao mengultimatum Alkatiri. Ia meminta Alkatiri mengundurkan diri. Kalau tidak, kata Xanana dalam pidatonya, dirinya lah yang akan mengundurkan diri sebagai presiden.

Menyusul pernyataan Xanana Gusmao, sejak itu di jalan-jalan di kota Dili, rakyat menggelar demonstrasi mendesak agar Mari Alkatiri mengundurkan diri. Beberapa menteri Mari Alkatiri juga mengancam akan mengundurkan diri, termasuk menteri luar negeri Ramos Horta. Tanggal 26 Juni, jumpa pers yang digelar Ramos Horta untuk mengumumkan pengunduran dirinya dibatalkan mendadak. Kepada wartawan yang telah berkumpul Ramos Horta menginformasikan bahwa Mari Alkatiri akan menyampaikan pengumuman penting. Dan pengumuman penting itu adalah pengunduran diri Mari Alkatiri.

“Setelah merefleksikan situasi yang tengah terjadi di negara kita, dengan mempertimbangkan bahwa di atas semua kepentingan adalah kepentingan negara, dengan mengambil bagian tanggung jawab saya atas krisis yang melanda negara, dengan maksud tidak memberikan kontribusi pada krisis yang semakin dalam, dengan memahami bahwa rakyat Timor berhak mendapatkan kehidupan yang damai, serta memahami bahwa semua pengikut dan simpatisan Fretilin dapat memahami dan mendukung posisi ini, saya mengumumkan saya siap untuk mengundurkan diri dari posisi saya sebagai Perdana Menteri pemerintahan Republik Demokratik Timor Leste, untuk menghindarkan pengundurkan diri Yang Mulia Presiden Republik Demokratik Timor Leste.”

Begitu bunyi pidato pengunduran diri Mari Alkatiri.

Pada tanggal 6 Juli, Ramos Horta dilantik sebagai Perdana Menteri.

Dalam pertemuan dua tahun lalu, awalnya Mari Alkatiri terlihat begitu kaku. Ia tak mau menggunakan bahasa Inggris, melainkan bahasa Portugis. Adapun saya akhirnya memilih menggunakan bahasa Indonesia. Seorang teman Mari Alkatiri yang hadir dalam pertemuan itu terpaksa difungsikan sebagai penterjemah kami.

Setelah sesi wawancara “berakhir”, barulah saya melemparkan satu dua pertanyaan ringan untuknya. Kali ini dalam bahasa Inggris. Ia pun menjawab dalam bahasa Inggris. Senyumnya mulai merekah satu dua.

Saya bertanya, misalnya, mengapa ia memiliki nama “berbau” Arab. Ini bukan hal baru. Dan saya juga sudah mendengar jawabannya. Tetapi yang saya inginkan adalah mendengarkan langsung jawaban itu dari mulut Mari Alkatiri.

Ia pun bercerita tentang kakeknya yang datang dari Yaman ke kepulauan nusantara. Setelah singgah di Pulau Jawa, sang kakek lalu menuju Pulau Timor. Di sebelah timur pulau itulah ayah Mari Alkatiri dan Mari Alkatiri dilahirkan.

Mari Alkatiri mengatakan, dia memiliki hubungan kekerabatan dengan mantan menteri keuangan Indonesia, Mari’e Muhammad. Tetapi, sampai saat pertemuan kami tahun 2008 itu, ia belum pernah sekalipun berbicara dan bertemu dengan Mari’e Muhammad. Ia hanya mendapatkan cerita tentang kerabat-kerabatnya di Indonesia dari keluarga. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa Mari Alkatiri berasal dari keluarga pedagang Al Kathiri di Seiyun yang sekarang menjadi bagian Yaman.

“Are you a Moslem,” tanya saya lagi setelah sebelumnya meminta maaf bila pertanyaan ini dianggapnya terlalu naif.

“Yes, I am a Moslem,” jawab Alkatiri lalu bercerita tentang kehidupan umat Muslim di Timor Leste. Ada sekitar 6.000 umat Muslim Timor Leste yang berpartisipasi aktif dalam membangun proyek negara-bangsa bernama Timor Leste ini.

Pertanyaan lain yang saya ajukan saat itu adalah pertanyaan yang tak kalah naifnya barangkali bagi sebagian orang: “Apakah Fretilin adalah komunis?”

Ia menggelengkan kepala sambil mengatakan bahwa stempel komunisme yang diberikan kepada Fretilin dan kelompok lain yang menentang kehadiran Indonesia di Timor Leste kala itu ada kaitannya dengan pertarungan politik global di era Perang Dingin.

Sementara itu, dalam pertemuan kedua ini, saya bertanya tentang pemilihan umum yang akan dilakukan tahun depan, juga tentang peluang dan kemungkinan Alkatiri kembali menduduki kursi perdana menteri. Dan yang agak menyentak adalah pernyataan Alkatiri bahwa kaum muda di pemerintahan Timor Leste adalah yang paling korup.

Berikut adalah petikannya:

From left to right: Me (Teguh Santosa), Domingo da Costa (Tempo Semanal), Mari Alkatiri (Fretilin), and Christavao da Costa (Tempo Semana).

Saya mengunjungi Timor Leste bulan Desember lalu, dan saya melihat Timor Leste kini lebih stabil dan damai…
Berterimakasihlah kepada Fretilin. Bukan kepada pemerintah. Pemerintahan yang korup saat ini tidak bisa membuat perdamaian dan stabilitas.

Tahun depan akan ada pemilihan di Timor Leste. Apa rencana Anda? Apakah Anda akan mencalonkan diri…
Saya tidak pernah mencalonkan diri sebagai perdana menteri. Yang mengikuti pemilihan umum adalah partai politik. Nanti (bila menang) partai (Fretilin) yang akan menentukan siapa yang menjadi perdana menteri.

Anda tidak akan maju sebagai presiden?
Tidak. Profil saya di eksekutif. Tidak sebagai simbol.

Apakah Anda yakin Fretilin akan menang?
Absolute majority, 50 plus.

Dalam pemilu 2007 partai Anda menang, tapi Anda akhirnya kalah karena tidak bisa menjadi perdana menteri. Apa yang terjadi?
Itu karena ketiadaan etika demokrasi dan etika politik di kalangan elit politik. Itu hal biasa yang dapat kita temukan dimana saja di muka bumi. Padahal, pemenang pemilu seharusnya memiliki hak membentuk pemerintahan.

Yang terjadi di Timor Leste adalah dua kudeta secara berturut-turut. Pertama kudeta di tahun 2006 (yang memaksa Mari Alkitiri berhenti), dan kedua kudeta setelah pemilihan umum di tahun 2007. Kudeta kedua ini saya sebut sebagai kudeta konstitusional. Aktor utamanya adalah sahabat sata Xanana Gusmao.

Tetapi kelihatannya hubungan Anda berdua semakin baik belakangan ini…
Ya. Itulah sebabnya, saya sebut dia sebagai sahabat saya. (Mari Alkatiri tertawa.)

Anda pernah mengalami, walau menang dalam pemilu tapi gagal memimpin pemerintahan. Apakah Anda tidak khawatir akan menghadapi hal serupa lagi?
Itulah sebabnya kini kami bekerja keras untuk mendapatkan kemenangan absolut seperti yang kami peroleh di tahun 2001. Saat itu, dari 88 kursi di parlemen kami memiliki 57 kursi. Sementara sekarang dari 65 kursi di parlemen kami memiliki 21 kursi.

Apa yang akan terjadi bila Anda mendapatkan masalah yang sama?
Tidak akan. Karena faktanya kami menghadapi situasi yang berbeda. Bahkan kalaupun kami hanya menang dengan simple majority, saat ini jauh lebih mudah untuk membuat koalisi. Bahkan Xanana ingin membuat koalisi dengan yang lain, termasuk dengan kami. Jadi, apakah dengan simple majority atau absolute majority, kami akan memimpin dan memerintah tahun depan.

Anda akan menerima Xanana?
Sebagai wakil saya, mungkin.

Bagaimana dengan regenerasi politik di Timor Leste?
Di dalam pemerintahan yang sekarang ini ada yang dapat kita sebut sebagai regenerasi politik. Tetapi, mereka inilah yang paling korup. Saya tidak mau menyebut nama mereka. Biarkan Komisi Anti Korupsi yang bekerja untuk memecahkan masalah itu. Tetapi perlu dicatat merekalah yang paling kourp.

Mengapa?
Lebih baik tanya mereka. Tetapi menurut saya ini terjadi karena mereka sama sekali tidak memiliki kualifikasi sebagai pejabat eksekutif, dan tidak pernah membayangkan hal itu. Namun tiba-tiba mereka diangkat sebagai pejabat eksekutif oleh aliansi yang sangat kosmetikal ini.

Tidakkah menurut Anda agak aneh bila di Timor Leste hanya ada tiga tokoh yang selalu muncul, yakni Anda, Ramos Horta dan Xanana Gusmao…
Kami punya hampir 1 juta orang. Dari jumlah itu, sebetulnya ada yang memiliki kualifikasi. Tetapi mungkin orang lebih suka nostalgia, berbicara tentang pemimpin dari masa lalu. Kami perlu menghentikan hal ini.

Banyak yang mengatakan Xanana lebih Timor daripada Anda dan Ramos Horta, karena ia berjuang di Timor Leste sementara Anda dan Horta berjuang di luar negeri…
Kami tidak melarikan diri. Kami dikirim untuk berjuang dari luar negeri. Benar bahwa Xanana berjuang di Timor Leste. Dan saya adalah orang pertama yang menghormati hal itu. Tetapi yang dibutuhkan oleh Timor Leste hari ini adalah bergerak ke depan. Bukan lagi terjebak pada nostalgia masa lalu.

Bagaimana hubungan Timor Leste dengan Indonesia dan negara tetangga lain?
Kami di antara dua raksasa (Indonesia dan Australia). Kami harus membangun hubungan yang baik dengan keduanya. Kami tidak bisa berpura-pura menjadi kekuatan besar di kawasan ini. Masa lalu adalah masa lalu. Kami berbagi batas dan sumber daya alam dengan cara yang tepat dan pantas. Namun yang juga jelas, kami tidak bisa mengisolasi diri kami.

3 thoughts on “Mari Alkatiri: Berterimakasilah pada Fretilin”

  1. artikelnya menarik sekali pak. kebetulan saya sedang menulis skripsi tentang Timor Leste. saya mahasiswa HI UIN Jkt semester 9. kalau ada waktu untuk ketemu kira-kira kapan pak? saya ingin tahu lebih jauh tentang situasi politik Timor Leste dari 2006-2008. terima kasih pak. salam.
    Rizky M. Zein
    @iqiezein

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s