Inilah Penjelasan Mengapa Indonesia Sulit Maju

Pemerintah yang secara buta menghamba pada pemikiran neokolonialisme gemar menaikkan harga, seperti harga bahan makanan, energi, dan pendidikan nasional, dan menyesuaikannya dengan di pasar internasional.

Persoalannya, sebagian besar rakyat Indonesia memiliki “pendapatan Melayu”. Untuk kelompok masyarakat ini, kenaikan harga berarti jalan tol menuju kemiskinan massal dan ketimpangan struktural.

Indonesia seharusnya belajar bagaimana sejumlah negara Asia timur menyesuaikan diri dengan terlebih dahulu menaikkan pertumbuhan ekonomi sehingga mencapai dua digit, lalu menyediakan lapangan pekerjaan agar masyarakat memiliki pendapatan yang memadai sebelum perlahan-lahan menyesuaikan harga di pasar domestik dengan harga di pasar internasional.

“Sayangnya pemerintah Indonesia sudah kadung menjadi penyembah neoliberalisme dan ingin memperlihatkan pada dunia internasional bahwa Indonesia mampu sejajar dengan negara-negara Barat dalam hal harga barang,” jelas ekonom senior Rizal Ramli ketika mengomentari klaim keberhasilan pembangunan pemerintahan SBY, di Jakarta (Sabtu, 28/8).

Selain itu, dia juga menyesalkan kecenderungan pemerintah Indonesia menggantungkan diri pada pendapatan yang diperoleh dari ekspor bahan mentah dan aliran uang panas di dalam negeri.

Menggantungkan diri pada ekspor barang mentah, sebut mantan Menko Perekonomian ini, sama artinya dengan mengekspor lapangan kerja, keuntungan dan nilai tambah. Akhirnya, yang beruntung adalah negara lain.
Ketergantungan pada ekspor bahan mentah khususnya energi, seperti minyak bumi dan batubara ini juga lebih cepat membawa Indonesia ke lubang kubur. Pasalnya, dalam rata-rata 40 tahun lagi cadangan minyak dan batubara Indonesia akan habis.

Hal lain yang memperparah kondisi perekonomian sebagian besar rakyat Indonesia adalah kecenderungan pemerintah untuk memberikan kesempatan pada perusahaan asing mengontrol sumber daya alam. Hal ini dilakukan walaupun sebenarnya berseberanyan dengan konstitusi ekonomi nasional.

“Padahal, bila sumber daya alam itu dikelola dengan baik oleh perusahaan negara, maka pendapatan yang diperoleh dari sektor ini dapat digunakan untuk membiayai pendidikan generasi muda dan meningkatkan kesejahteraan,” demikian Rizal.

Advertisements

1 thought on “Inilah Penjelasan Mengapa Indonesia Sulit Maju”

  1. Mungkin itu ada benarnya, setelah membaca sajian tulisan diatas. Tapi menurut femikiran saya juga ada lagi factor2 lain, mengapa kita masih terbelakang bila dibandingkan dng negara2 lain yang seumur kita tahun merdekanya. Menilik dng situasi sekarang setelah reformasie berlangsung 12 tahun yang lalu, ada juga hasil positifnya.Yaitu pengertian demokrasie sudah sedikit kita rasakan, walaupun belum sepenuhnya, setelah lebih dari tigapuluh tahun dalam kungkungan pemerintahan diktator. Puing2 yang ditinggalkan oleh orde baru, yaitu utang negara yang begitu besar,ditambah kewajiban untuk membayar lebih lama lagi.Serta mentaal kita yang terbawa oleh situasi waktu itu. Terima kasih kita kepada pemimpin2 orde baru yang teken kontrak kepada pemberi kredit dimana isinyapun achirnya menyenggsarakan yang generasie ditinggal. Dng sedikit hawa demokrasie ini, kita sudah sedikit sadar bhw ode baru banyak cacatnya, sehingga moral/etika bernegara harus dirubah. yang intinya factor keagamaan/spiritueel yang kurang waktu itu.Lebih susahnya lagi orang yang berkuasa memakai agama untuk melindas lawan politiknya untuk melanggengkan kekuasaannya. Mungkin itu cara yang terbaik. Dng demikian sekaligus cara berfikir kita bukan produksie sandang pangan papan yang diperbesar untuk membangun negara ,tapi produksie keagamaan yang lebih diutamakan.Alhamdullilah. Mungkin ini adalah yang paling baik untuk kita. Biarkan saja kita ketinggalan dlm ekonomie, tapi kita adalah negara yang beragama. Lain dng negara2 barat yang sudah kaya raya memakmurkan bangsanya, tapi tidak beragama. Kata kita tapi. Biarkan mereka orang barat mengutamakan materi,Kita bukan mereka ,kita anti itu semua. Framework negara RI yang digandrung oleh Soekarno dng tujuan sosialisnya, ditelikung dan dikadalin oleh orde baru yang tergantung dng kapitalis itu ya kita harus juga menerimanya. Soalnya kita sendiri adalah produk dari orde itu. Mereka orang barat makannya cepat2, mereka mengutamakan enovasie, produksie,produksie, untuk mensejahterakan rakyatny.kita pelan2 saja tapi kita beragama. Kita tidak usah takut, sebab dalam kurun 300tahun mendatang tata ekonomie dunia adalah sama.Asia,Afrika,America,Europa seluruh dunia.Ini adalah pendapat Prof Tienbergen,dng catatan asal negara maju memberi 0,7 % bnp untuk negara berkembang.Bukti teori tadi sudah kelihatan. Coba RRT negara komunis (yang tidak bertuhan/beragama itu ) dalam jangka dua atau tiga puluhan tahun sudah menjadi negara kapitalis yang terbesar didunia sekarang, sampai Amerika yang kita sebut embahnya kapitalis harus bersimpuh kemereka. Aneh kan ? Aan ons zelf de keus. Tinggal kita pilih yang mana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s