Centurygate: Misteri Semprotan Tinta Chepalopods

Tidak sembarangan chepalopods dipilih George Junus Aditjondro untuk menggambarkan perkawinan kepentingan politik dan kepentingan bisnis keluarga Cikeas seperti yang dibeberkannya dalam buku “Membongkar Gurita Cikeas”.

Selain memiliki delapan kaki yang bisa geratil kesana dan kemari, mencomot ini dan itu pada saat bersamaan, chepalopods atau gurita juga memiliki trik khusus untuk mengelabui musuh yang mengejarnya. Ia dengan mudah akan menyemprotkan tinta ke arah lawan. Setelah pandangan lawan tertutupi oleh sebaran tinta tadi, si gurita bebas bergerak ke segala arah dan melarikan diri.

“Istilah gurita itu tentu ada maksudnya, dan tidak mengada-ada. Istilah gurita sangat diterima masyarakat Biak di Papua, misalnya, untuk menyimbolkan seseorang yang sangat rakus dan licik. Tangannya mengambil semua barang, dan dia suka menyemprotkan tinta saat melarikan diri,” George Aditjondro menceritakan lagi sebab mengapa ia memilik kata gurita untuk judul bukunya kepada Rakyat Merdeka Online. Soal semprotan tinta gurita saat melarikan diri inilah yang, kelihatannya luput dari perhatian banyak orang setiap kali membicarakan buku George itu.

Diterbitkan Galang Press, buku itu menguliti sejumlah yayasan dan figur politisi dan pengusaha yang diduga kuat menjadi penangguk dan pundi uang yang mem-back up Partai Demokrat dalam Pemilu 2009 dan duet SBY-Boediono dalam Pilpres 2009. Terang saja karya investigator korupsi itu mengundang kontroversi. Kubu SBY dan politisi Demokrat menganggapnya sebagai isapan jempol yang tidak masuk akal.

Adapun George bersikukuh bahwa apa yang ditulisnya dalam buku itu sebenarnya sudah menjadi pengetahuan publik, karena telah lebih dahulu tersebar di sejumlah media massa baik cetak, elektronik maupun online. Dan karenanya, George menegaskan dirinya tidak mengarang.

Salah satu cerita yang menarik di buku itu adalah tentang kedekatan keluarga Cikeas dengan salah sorang pengemplang BLBI, Bos Gajah Tunggal Syamsul Nursalim, lewat si Ratu Suap Artalyta Suryani alias Ayin yang disebut-sebut akan segera mendapatkan pembebasan bersyarat dari LP Perempuan Tangerang. Ayin adalah bendahara dalam Yayasan Mutu Manikam Nusantara yang dibina Ani Yudhoyono.

Oktober tahun 2007, Ani Yudhoyono meresmikan Alun-alun Indonesia milik Syamsul Nursalim. Ia juga memamerkan batik koleksinya bersama batik koleksi ibunda Presiden AS, Barack Obama di Grand Indonesia yang dimiliki Syamsul Nursalim. Sedemikian dekat hubungan mereka, SBY dan Ani Yudhoyono juga pernah menghadiri pernikahan salah seorang anak Ayin.

Yayasan Mutu Manikam Nusantara dan peranannya di balik operasi politik keluarga Cikeas hanya merupakan satu dari sekian yayasan yang dibina Ani Yudhoyono dan disoroti George Aditjondro di buku itu.

George Aditjondro juga menyimpulkan bahwa sejumlah kasus yang muncul belakangan, setidaknya saat buku itu disusunnya, merupakan “tabir asap atau pengalih isu” yang sengaja dimunculkan untuk mencegah pengusutan skandal dana talangan Bank Century senilai Rp 6,7 triliun. Ketika buku itu disusun George, Polri sedang memperkarakan dua pimpinan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. Keduanya dituduh menyuap tersangka dalam kasus korupsi pengadaan alat komunikasi di Kementerian Kehutanan, Anggoro Widjaja.

Tulis George di buku itu:

“Selain merupakan tabir alias pengalih isu, penahanan Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah oleh Mabes Polri dapat ditafsirkan sebagau usaha mencegah KPK bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam membongkar skandal Bank Century. Soalnya, investigasi kasus Bank Century itu sudah didorong oleh Bibit Samad Rianto yang waktu itu masih aktif sebagai Wakil Ketua Bidang Investigasi KPK. Sedangkan BPK juga sedang meneliti pengikutsertaan dana publik di bank itu, atas permintaan DPR RI pra-Pemilu 2009.”

Ketika buku itu diluncurkan, dibedah dan diperbincangkan di banyak forum, skandal dana talangan Bank Century telah memasuki etape pengusutan di Panitia Khusus DPR.

Setelah bersidang selama 90 hari pada tengah malam 3 Maret Pansus DPR memutuskan bahwa bail out yang dikucurkan pada tanggal 21 November 2008 tersebut melanggar peraturan hukum.

Dalam kesimpulan yang disetujui itu disebutkan bahwa dana yang dikucurkan untuk Bank Century baik dalam skema Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) yang dikucurkan BI maupun Penyertaan Modal Sementara (PMS) yang dikucurkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) termasuk dalam keuangan negara.

Juga patut diduga telah terjadi penyimpangan dalam proses pengambilan kebijakan oleh otoritas moneter dan fiskal yang diikuti banyak penyalahgunaan, mulai dari akuisisi dan merger yang melahirkan Bank Century, pemberian FPJP, PMS, hingga aliran dana pasca bailout 21 November 2008.

Pun diduga terjadi penyimpangan proses pengambilan kebijakan oleh otoritas moneter dan fiskal dengan mengikutsertakan pemilik saham dan manajemen Bank Century. Penyimpangan ini merugikan negara.

DPR berpendapat, pengucuran dana talangan untuk Bank Century merupakan perbuatan melanggar hukum yang berlanjut atau penyalahgunaan wewenang oleh pejabat otoritas moneter dan fiskal sehingga dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi karena diduga merugikan negara.

DPR pun merekomendasikan agar skandal dana talangan ini diusut oleh lembaga-lembaga penegak hukum.

Tetapi, belum lagi rekomendasi itu dijalankan, Presiden SBY memotong di tengah jalan.

Dalam pidato yang disampaikannya sehari setelah keputusan Pansus DPR itu, SBY antara lain berkata:

“Hasil penyelidikan itu juga mengenyampingkan semua tuduhan bahwa seolah penyelamatan Bank Century merupakan kedok semata untuk mengalirkan uang kepada Partai Politik tertentu dan sejumlah nama lainnya. Semua itu juga ‘nyata-nyata tidak terbukti’ dan memang tidak pernah ada. Hal ini perlu dinyatakan secara tegas dan nyaring, agar tidak siapa pun dari kita, apa pun latar belakang politik dan asal partainya, boleh dibiarkan mendapatkan penistaan karena nama baiknya dicemarkan secara sewenang-wenang dengan maksud dan niat politik yang buruk, yaitu merusakkan reputasi diri, keluarga, dan institusinya.”

Sejak saat itu, upaya mengurai skandal ini seperti menemukan jalan buntu. Polri dan Kejaksaan Agung mengaku belum menemukan bukti kerugian negara. Adapun KPK yang diharapkan menjadi palang pintu terakhir terlihat terengah-engah. Untuk mengawal proses hukum skandal Century, DPR membentuk Tim Pengawas. Namun kinerjanya pun setali tiga uang dengan lembaga-lembaga penegak hukum tadi.

Rapat kordinasi antara Timwas DPR, Polri, Kejaksaan dan KPK yang sedianya diselenggarakan Rabu pagi (23/8) pun urung dilakukan. Tim Polri batal hadir karena Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) masih cuti sakit. Adapun Tim KPK tidak memperlihatkan batang hidung karena belum siap menyampaikan hasil investigasi mereka. Hanya Tim Kejaksaan Agung yang hadir di gedung DPR. Rencana uji silang pun kembali batal.

Adapun orang-orang yang dianggap memiliki peranan di balik bailout itu tetap tak tersentuh. Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan yang merupakan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang memutuskan bailout “diselamatkan” World Bank Group. Ia kini berkantor di Washington DC sebagai salah seorang Managing Director World Bank. Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo diangkat SBY menjadi Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani. Darmin Nasution yang mantan Komisaris Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), lembaga yang diperintahkan KSSK untuk menggelontorkan dana talangan, diajukan SBY sebagai satu-satunya calon Gubernur BI beberapa waktu lalu. Dan lucunya, Komisi XI DPR secara aklamasi menyetujui pencalonan itu. Baru pada rapat Paripurna, Fraksi PDI Perjuangan mencoba menyelamatkan muka dengan memilih walk out.

Sementara itu, satu persatu kasus baru bermunculan ke permukaan. Mulai dari penangkapan Susno Duadji, penggelapan pajak yang dilakukan pegawai Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Gayus Tambunan, rekening gendut sejumlah perwira tinggi Polri, bom molotov di kantor Tempo, upaya pembunuhan aktivis Indonesian Corruption Watch (ICW), rekaman pembicaraan Deputi Penindakan KPK Ade Rahardja dan Ary Muladi yang membantu Anggodo Widjaja, perpecahan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, sejumlah kasus terorisme sampai penangkapan Amir Jamaah Ansharut Tauhid Abu Bakar Baasyir, juga kasus Sistem Administrasi Bantuan Hukum (Sisminbakum) yang melibatkan Yusril Ihza Mahendra dan pengusaha Hartono Tanoesoedibjo.

Kalau meminjam istilah George Aditjondro, inilah modus yang biasa dilakukan gurita.

“Kalau gurita dikejar dia akan menyemprot tintanya, hingga dia hilang dari pandangan dan nanti akan muncul lagi di tempat baru,” demikian George.

Bagaimana reaksi kubu SBY?

Seperti biasa, memandang sebelah mata.

“Kalau George Junus Aditjondro ngomong kita anggap dagelan saja. Tong kosong banyak bunyinya,” kata Jurubicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul.

Anggota DPR itu tidak percaya George memiliki data valid mengenai apa yang dituliskan di buku itu.

“Ini kan katanya, kalau tidak bisa membuktikan maka itulah tong kosong banyak bunyinya. Namun kalau ia memiliki datanya ya silahkan (buka),” tantang pria yang biasa disapa Poltak itu. [guh]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s