Mengenang Gus Dur dan Mbah Tardjo Connection

Beberapa hari setelah mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggal dunia akhir tahun lalu, nama politisi sepuh kaum nasionalis Soetardjo Soerjogoertino kembali muncul ke permukaan.

Dan hari ini (Sabtu, 7/8) di saat tahlilan digelar di Ciganjur untuk mengenang hari lahir Gus Dur, nama Soetardjo pun kembali terdengar. Ia menghembuskan nafas terakhir di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, sekitar pukul 17.45 WIB. Jenazahnya saat tulisan ini diturunkan disemayamkan di rumah duka di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 76 tahun lalu, Soetardjo yang biasa disapa Mbah Tardjo sudah lama sakit-sakitan. Sejak tahun 2007 sakit yang diakibatkan usia tua membuat Mbah Tardjo hampir tak pernah terlihat di depan umum. Di kala sakit, bila ingin bertemu dan bertukar pikiran dengannya teman-teman dekat dan kader PDI Perjuangan mengunjungi Mbah Tardjo di kediaman dinas yang ditempatinya di Jalan Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan, sampai Desember 2009, dan di rumahnya di Lenteng Agung yang ditempatinya sejak pindah dari Jalan Denpasar.

Sebelum jadi politisi, Mbah Tardjo adalah guru di Sleman pada 1965. Setahun kemudian, di saat kekuasaan Bung Karno mulai pudar, Mbah Tardjo muda memulai karierny di Partai Nasional Indonesia (PNI). Jabatan pertamanya adalah Sekretaris DPC PNI Sleman (1966), Lalu antara 1969 sampai 1977 ia menjabat sebagai Ketua DPC PNI Sleman, disusul sebegai Sekretaris DPD PNI Yogyakarta antara 1970 hingga 1982. Di luar partai, ia pernah menjadi anggota DPRD Sleman antara 1967 sampai 1971, lalu anggota DPRD Jogjakarta antara 1971 hingga 1977 dan Wakil Ketua DPRD Jogjakarta dari 1977 sampai 1982.

Puas bermain-main di daerah, pada dekade 1980an Mbah Tardjo hijrah ke Jakarta dan melanjutkan pekerjaannya membesarkan PDI dan kemudian bergabung dengan kubu Megawati Soekarnoputri mendirikan PDI Perjuangan pada 1999. Mbah Tardjo adalah Wakil Ketua Fraksi PDI di DPR/MPR pada 1987 sampai 1993, lalu Wakil Ketua Fraksi PDI DPR/MPR RI antara 1993 dan 1997, dan Wakil Ketua DPR sejak 1999 sampai 2009.

Dan begitulah, hingga di tahun 2007 namanya seolah tenggelam karena sakit-sakitan. Tetapi, di tengah sakitnya itu Mbah Tardjo masih menyempatkan waktu untuk membicarakan persoalan-persoalan penting yang dihadapi bangsa ini. Ia bersedia membuka pintu rumah dinasnya di Jalan Denpasar untuk dijadikan tempat pertemuan rutin yang kemudian dikenal dengan nama Majelis Denpasar.

Gus Dur menjadi pembicara di Majelis Denpasar pada tanggal 4 Desember 2009. Itu adalah “pengajian politik” terakhir Majelis Denpasar. Karena setelah itu, Mbah Tardjo angkat koper meninggalkan Jalan Denpasar. Pengajian politik dipindahkan ke kediamannya di Lenteng Agung. Tetapi tidak lama, karena kondisi kesehatan Mbah Tardjo terus menurun.

Pembicaraan Gus Dur di Majelis Denpasar tanggal 4 Desember 2009 dianggap cukup keras. Digambarkan sebagai bintang utama, dalam pengajian politik itu Gus Dur mengkritik berbagai kebijakan pemerintah dan gaya kepemimpinan Presiden SBY.

Belakangan, isi pembicaraan Gus Dur dalam pertemuan tanggal 4 Desember 2009 itu sempat dikait-kaitkan dengan kematian Gus Dur pada tanggal 30 Desember 2009. Sesuatu yang tentu saja sumir.

Benar bahwa Gus Dur dan anggota pengajian politik Majelis Denpasar mengkritik jalannya pemerintahan, terutama ketika itu kasus dana talangan Bank Century yang membengkak menjadi Rp 6,7 triliun. Tetapi mengaitkan kematian Gus Dur dengan isi pembicaraan di dalam pertemuan itu tentulah hal mengada-ada.

Salah seorang panitia Majelis Denpasar, Ahmad Ridwan Dalimunthe, menjelaskan bahwa hal lain yang dibicarakan peserta pengajian politik Majelis Denpasar ketika itu adalah rencana aksi memperingati Hari Anti-korupsi tanggal 9 Desember 2009.

“Majelis Denpasar menilai bahwa demonstrasi itu sebetulnya sudah gembos sejak awal. Kalau mau demo, demo aja. Gak usah talkshow di televisi berhari-hari,” urai Dalimunthe menggambarkan kesimpulan umum pertemuan malam itu.

Sambung Dalimunthe, Majelis Denpasar menilai bahwa demo Hari Anti-korupsi merupakan agenda istana, dan juga mencium deal khusus yang terjadi antara pihak penyelenggara demo dengan kubu istana, yang intinya hanya soal perut saja.

Majelis Denpasar juga tidak menaruh harap pada proses penyelidikan skandal dana talangan Bank Century yang dilakukan oleh Pansus di DPR. Intinya lagi, masih kata Dalimunthe, hasil akhir dari pengusutan di parlemen itu sudah diketahui sebelum Pansus dibentuk.

“Nah, ada semacam kebuntuan. Majelis Denpasar mencoba untuk mencari jalan keluar. Kami percaya bahwa gerakan rakyat tidak dapat dihentikan. Pada akhirnya rakyat akan jenuh dan menemukan logika dan metode gerakannya sendiri,” demikian Dalimunthe .

Di pengajian politik Majelis Denpasar terakhir itu, sebetulnya kondisi Mbah Tardjo tampak lebih teruk dari Gus Dur. Saking teruknya, Mbah Tardjo hampir-hampir tak banyak bicara. Seperti Gus Dur, ia duduk di atas kursi roda mengenakan sarung. Tetapi walau tampak teruk, ia tetap tersenyum dan menyimak cerita Gus Dur juga cerita aktivis-aktivis lain yang hadir dalam pengajian itu.

Gus Dur dan Mbah Tardjo mengajarkan hal yang sama pada kita. Mencintai negara dan bangsa ini dengan segala macam persoalannya walau pun ajal sudah terbayang di depan mata. Tetapi di sisi lain, Mbah Tardjo dan Gus Dur menyadarkan kita bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan untuk benar-benar memerdekakan bangsa ini dan menciptakan kesejahteraan untuk seluruh rakyatnya.

Selamat jalan Mbah Tardjo. Selamat Ulang tahun Gus Dur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s