Flu Burung Menjelang Pemilu 2014

Virus avian influenza H5N1 yang umum disebut flu burung kembali menggila. Kali ini terjadi hanya satu bulan menjelang Pemilu 2014. Tidak kurang dari 200 orang telah meninggal dunia dalam dua pekan terakhir. Kebanyakan korban berasal dari kota-kota padat huni di Pulau Jawa dan Sumatera. Sampai hari ini tercatat 750 orang berada dalam perawatan intensif di sejumlah rumah sakit. Sekitar setengah dari jumlah itu diperkirakan tidak akan selamat.

Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menetapkan status kejadian luar biasa. Sementara ada kekhawatiran, penyelenggaraan Pemilu 2014 dapat terancam.

Ini adalah materi role play, sebuah situasi hipotetikal, yang saya sampaikan dalam Diklat Kehumasan Setneg di Jakarta, 21 Juli 2010. Merupakan pelengkap dalam materi Komunikasi Krisis.

Kelompok civil society menyalahkan pemerintah yang dinilai lamban dalam mengantisipasi kemunculan kembali flu burung. Pemerintah juga dianggap mengabaikan peringatan yang pernah disampaikan sejumlah lembaga, termasuk World Health Organization (WHO), tahun 2005 silam. Ketika itu dalam beberapa bulan flu burung menewaskan lebih dari seratus orang. Di pertengahan 2006 kasus flu burung menghilang, namun WHO mengingatan bahwa yang terjadi sesungguhnya adalah situasi di mana penyebaran virus flu burung terjadi di “bawah permukaan” dan akan kembali muncul di tahun 2014.

Di sisi lain, kubu oposisi memanfaatkan krisis ini untuk mendapatkan keuntungan dan membangun ketidakpercayaan publik terhadap partai pemerintah. Anggota koalisi juga mulai meninggalkan partai pemerintah. Selain karena kesibukan dan konsentrasi menghadapi Pemilu 2014, juga karena mereka tak mau terkena getah.

Presiden telah membentuk sebuah tim untuk menangani masalah ini. Beberapa orang yang berasal dari sejumlah kementerian terkait diberi tugas untuk menangani komunikasi di masa krisis.

Beberapa jam lagi, tim khusus itu akan memberikan keterangan pers pertama.

Tugas:
1. Tim Komunikasi Krisis mempersiapkan bahan-bahan yang akan disampaikan dalam jumpa pers.
2. Kelompok reporter mempersiapkan sejumlah pertanyaan kunci, dan menurunkan laporan dari jumpa pers itu di halaman utama masing-masing media.
3. Persiapan masing-masing pihak selama 30 menit.
4. Jumpa pers berlangsung paling lama 15 menit.
5. Kelompok reporter mempersiapkan berita paling lama 15 menit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s