Presiden (Bikin) Macet (?)

Posting ini terdiri dari empat bagian:

Pertama: kartun di Harian Rakyat Merdeka, edisi 21 Juli 2010. Kedua: Surat pembaca Hendra NS di Kompas, edisi 16 Juli 2010. Ketiga: surat pembaca Staf Khusus Presiden Bidang Publikasi dan Dokumentasi, Ahmad Yani Basuki, di Harian Rakyat Merdeka, edisi 17 Juli 2010. Keempat: kolom Adhie Massardi di Indonesia Monitor, edisi 21-27 Juli 2010.

Bagian pertama telah membuka posting ini. Selanjutnya adalah bagian kedua, ketiga, dan keempat.

Hendra NS di Kompas, 16 Juli 2010.

SEBAGAI tetangga dekat Pak SBY, hampir saban hari saya menyaksikan arogansi Patroli dan Pengawalan (Patwal) iring-iringan Presiden di jalur Cikeas-Cibubur sampai Tol Jagorawi. Karena itu, saya –juga mayoritas pengguna jalan itu– memilih menghindar dan menjauh bila terdengar sirene Patwal.

Namun, kejadian Jumat (9/7) sekitar pukul 13.00 WIB di Pintu Tol Cililitan (antara Tol Jagorawi dan tol dalam kota) sungguh menyisakan pengalaman traumatik, khususnya bagi anak perempuan saya. Setelah membayar tarif tol dalam kota, terdengar suara sirene dan hardikan lewat mikrofon untuk segera menyingkir. Saya pun sadar, Pak SBY atau keluarganya akan lewat. Saya dan pengguna jalan lain memperlambat kendaraan, mencari posisi berhenti paling aman.

Tiba-tiba muncul belasan mobil Patwal membuat barisan penutup semua jalur, kira-kira 100 meter setelah Pintu Tol Cililitan. Mobil kami paling depan. Mobil Patwal yang tepat di depan saya dengan isyarat tangan memerintahkan untuk bergerak ke kiri. Secara perlahan, saya membelokkan setor ke kiri.

Namun, muncul perintah lain lewat pelantam suara untuk menepi ke kanan dengan menyebut merek dan tipe mobil saya secara jelas. Saat saya ke kanan, Patwal di depan murka bilang ke kiri. Saya ke kiri, suara dari pelantam membentak ke kanan. Bingung dan panik, saya pun diam menunggu perintah mana yang saya laksanakan.

Patwal di depan turun dan menghajar kap mesin mobil saya dan memukul spion kanan sampai terlipat. Dari mulutnya terdengar ancaman, “Apa mau Anda saya bedil?”

Setelah menepi di sisi paling kiri, polisi itu menghampiri saya. Makian dan umpanan meluncur tanpa memberi saya kesempatan bicara. Melihat putri saya ketakutan, saya akhirnya mendebatnya. Saya jelaskan situasi tadi. Amarahnya tak mereda, malah terucap alasan konyol tak masuk akal seperti “dari mana sumber suara speaker?”, atau “mestinya kamu ikuti saya saja”, atau “tangan saya sudah mau patah gara-gara memberi tanda ke kiri”.

Permintaan saya dipertemukan dengan oknum pemberi perintah dari pelantam tak digubris. Intimidasi hampir 10 menit yang berlangsung tepat di depan Kantor Jasa Marga itu tak mengetuk satu pun dari anggota Patwal lain yang menyaksikan kejadian itu. Paling tidak, menunjukkan diri sebagai pelayan pelindung masyarakat.

Karena dialog tak kondusif, saya buka identitas saya sebagai wartawan untuk mencegah oknum melakukan tindak kekerasan. Ia malah melecehkan profesi wartawan dan tak mengakui perbuatannya merusak mobil saya. Identitasnya tertutup rompi. Oknum ini malah mengeluarkan ocehan, “Kami ini tiap hari kepanasan dengan gaji kecil. Emangnya saya mau kerjaan ini?”

Saat rombongan SBY lewat, ia segera berlari menuju mobil PJR-nya, mengikuti belasan temannya meninggalkan saya dan putri saya yang terbengong-bengong.

Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga. [***}

Surat pembaca Staf Khusus Presiden, Ahmad Yani Basuki, di Rakyat Merdeka, 19 Juli 2010.

MEMBACA Berita Rakyat Merdeka, tanggal 17 Juli 2010, halaman 1, berjudul Presiden Diminta Tinggal Di Istana, perlu disampaikan tanggapan dan penjelasan agar publik memperoleh pemahaman atas permasalahan tersebut.

Terkait dengan peristiwa yang dialami Sdr Hendra NS seperti yang ditulis HU Rakyat Merdeka, hal tersebut telah mendapat perhatian serius Presiden Sby. Ketika mendapat laporan adanya pemberitaan atau Surat Pembaca dengan substansi isinya seperti tersebut, Presiden pun merasa perlu membaca sendiri. Setelah membaca dan mencermati isinya, maka dengan serta merta Presiden Sby memanggil beberapa pejabat terkait dan memberikan beberapa tugas dan penekanan. Pertama, Presiden meminta segera dilaksanakan investigasi kebenaran isi surat pembaca tersebut. Kedua, Presiden sangat menyesalkan atas kejadian tersebut. Oleh karena itu apabila terbukti ada tindakan dan pelanggaran yang demikian, maka kepada pelakunya agar diambil tindakan tegas.

Satu hal yang perlu diketahui, Patwal Presiden selalu melekat dengan konvoi dan tidak pernah berhenti, sedangkan yang mengatur lalulintas adalah angota Satuan Lalulintas. Jadi dua satuan yang berbeda.

Presiden Sby menaruh perhatian serius, karena sesungguhnya kejadian demikian sangat tidak sejalan dengan semangat dari arahan dan penekanan Presiden Sby selama ini tentang tugas pengawalan yang harus terhindar dari tindakan-tindakan yang merugikan rakyat. Dalam keadaan daruratpun, tindakan yang merugikan maupun mengakibatkan trauma kepada rakyat harus dihindari. Bahkan Presiden pun tidak ragu-ragu mengingatkan, menjelaskan dan mengulangi peringatannya atas hal-hal teknis untuk menghindari terjadinya kemacetan yang merugikan masyarakat akibat perjalanan Presiden. Presiden tidak mau melihat adanya penutupan total atas poros kanan kiri jalan yang berlebihan, hanya semata-mata karena Presiden mau lewat. Beberapa teguran spontan sering beliau lakukan jika dalam perjalanan melihat kemacetan panjang akibat Petugas terlalu lama melakukan sterilisasi dan penutupan jalan sebelum Presiden lewat. Begitu juga atas pengamanan terlalu ketat ketika melihat ada masyarakat ingin bertegur sapa atau say hello pada saat Presiden melakukan kunjungan ke daerah-daerah atau mengunjungi tempat-tempat keramaian. Meskipun untuk itu harus melonggarkan tindakan dari ketentuan prosedur pengamanan yang semestinya.

Untuk melengkapi tambahan informasi dan pemahaman publik, melalui surat pembaca ini ada beberapa hal yang perlu dijelaskan. Pertama, sesungguhnya waktu keseharian Presiden lebih banyak berada di lingkungan Istana Negara. Rata-rata hanya pada akhir pekan Presiden pulang ke Puri Cikeas, atau jika ada kegiatan malam yang harus dilaksanakan di Cikeas, karena tidak semestinya dilaksanakan dengan menggunakan fasilitas Istana Negara. Juga kalau ada hal-hal khusus yang harus meninggalkan Istana Negara, seperti takziah-kematian, bezuk ke rumah sakit, membuka acara atau meresmikan sesuatu obyek yang pelaksanaanya di luar Istana. Bahkan sangat banyak acara-acara pembukaan konggres, seminar, rapat kerja dan sebagainya dibuka di Istana Negara, walaupun konggresnya sendiri dilaksanakan di hotel-hotel atau tempat lain di luar Istana Negara. Kebijakan tersebut diambil semata-mata mengurangi intensitas perjalanan Presiden di keramaian yang mengganggu perjalanan masyarakat umum.

Untuk menghindari kemacetan lalu lintas tidak jarang Presiden berangkat jam 05.00 selesai shalat shubuh dari Cikeas menuju Istana Negara. Sebaliknya seringkali pulang dari Istana Negara menuju Cikeas pukul 21.00. Secara khusus, dalam perjalanan di pemukiman, Cibubur-Cikeas (setelah keluar Tol) Presiden telah memerintahkan agar rombongan Presiden hanya mengambil separuh jalan, tidak satu jalur penuh agar perjalanan masyarakat lainnya juga terus mengalir, meskipun sesungguhnya standar pengawalan dan pengamanan VVIP yang berlaku universal mensyaratkan penutupan utuh dalam satu jalur. Dengan demikian, sebenarnya sudah sering pula terjadi kebijakan tindakan pengawalan dan pengamanan yang menyimpang dari standar internasional yang semestinya, untuk menghindari ketidak nyamanan publik, walaupun sesungguhnya ada potensi riskannya.

Namun demikian atas adanya kasus seperti yang dialami Sdr Hendra NS, Presiden Sby dengan tulus menyampaikan permintaan maaf sekaligus ucapan terima kasih dan tulus menerimanya sebagai masukan untuk evaluasi. [***]

Adhie Massardi, Indonesia Monitor 21-27 Juli 2010

Presiden Diusir Warga!

ORANG Blitar bangga pada Soekarno yang jadi presiden. Jalan Cendana jadi harum karena salah satu rumah di sana jadi tempat tinggal presiden (Soeharto). Masyarakat Parepare, Sulsel sangat menghormati BJ Habibie meskipun sudah tidak jadi presiden.

Warga Ciganjur bersyukur Gus Dur tinggal di kawasan mereka, karena sejak jadi Presiden RI, selain jadi masyhur, harga tanah di sana terus merangkak naik. Hal yang kurang lebih sama dirasakan warga Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di sanalah Megawati memulai karier politiknya hingga jadi presiden.

Maka jadi pertanyaan besar kenapa warga desa Cikeas, kecamatan Sukaraja, Bogor, malah terganggu ketika warganya, Jenderal TNI (Pur) Susilo Bambang Yudhoyono, jadi presiden pertama yang dipilih langsung.

Tapi masyarakat yang tinggal di Cikeas dan sekitarnya, tak perduli soal itu. Mungkin karena mereka, sebagaimana rakyat Indonesia umumnya, tak pernah merasakan nikmatnya kebijakan pemerintahan Yudhoyono. Yang mereka rasakan langsung justru penderitaan di jalanan setiap hari, yang mampat berjam-jam hanya untuk memberi keleluasan bagi konvoi Presiden, keluarga presiden, anak buah presiden, dan para pembesar partai milik presiden.

Bertahun-tahun warga Cikeas dan sekitarnya menyimpan kegeraman akibat disengsarakan di jalanan. Hingga suatu hari, meledaklah kemarahan warga Cibubur, seperti diekspresikan dengan berani oleh Hendra NS, yang mengakhiri gerutuannya di harian Ibukota dengan kalimat:

“Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga!”

Terus terang, dalam sejarah politik modern Indonesia, inilah kali pertama presiden “diusir” dari kampungnya oleh masyarakat. Waktunya cukup berdekatan dengan penolakan warga Bandung atas Ariel Peterpan dan Luna Maya gara-gara video seks bernuansa maksiat yang dibuatnya.

Banyak orang percaya “pengusiran” presiden oleh warga sekitarnya bukan semata karena sering mengganggu kenyamanan mereka di jalanan. Sebab semua presiden di muka bumi kalau mau pergi memang bikin macet.

Jangan lupa, rombongan Presiden Yudhoyono punya catatan sejarah hitam di jalanan, yakni pernah mengakibatkan terjadi tabrakan beruntun di Tol Jagorawi yang menewaskan sekurang-kurangnya lima orang. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa pekan (17/11/04) setelah Yudhoyono dilantik sebagai presiden untuk pertama kalinya.

Jadi kalau hanya karena sering bikin masalah di jalanan, tentu sudah lama masyarakat desa Cikeas dan sekitarnya “mengusir” keluarga presiden.

Dalam perspektif politik kekuasaan, “balada pengusiran presiden” adalah cermin kegusaran masyarakat secara umum terhadap langkah dan kebijakan yang diambil Kabinet Yudhoyono yang lebih banyak menyusahkannya ketimbang menyenangkan rakyat. Kegusaran ini makin lama mengerucut ke sosok pribadi dan personal pemilik kabinet: Presiden.

Kalau saja pemerintah bisa meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan rakyat, tentu tak akan menimbulkan masalah kalau hanya bikin macet beberapa jam sehari. Bagi rakyat kebanyakan, jangankan macet, bergencetan berjam-jam pun tak ada masalah demi uang, sekalipun hanya untuk beberapa puluh ribu rupiah saja!

Tapi karena rezim ini malah menarik mundur kualitas hidup rakyat, sehingga sebagian masyarakat harus kembali masak dengan kayu bakar, maka kebencian pun menggumpal. Menjadi personal. Dan pada suatu saat nanti akan terakumulasi, menjadi sesuatu yang sudah kita duga![***]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s