Chellah atau Sala Colonia, Saksi Bisu Keganasan Gempa Lisboa

Pagi itu, Sabtu, 1 November 1755, Lisbon, Lisabon atau Lisboa di Portugal, menggelepar. Sebuah gempa berkekuatan 9 skala MW dengan episentrum di Samudera Atlantik, sekitar 200 kilometer baratdaya Cape St. Vincent, menghancurkan kota itu.

Di Portugal, gelombang tsunami yang dihasilkannya menewaskan sekitar 40 ribu jiwa. Sebuah angka yang ketika itu luar biasa banyak dan nyaris tak terpikirkan.

Di tahun 1755 Portugal adalah adidaya Eropa yang rasa-rasanya sulit untuk ditandingi. Ia tengah menikmati buah dari semangat para pelaut dan petualangnya yang tergila-gila mencari koloni baru dalam dua abad sebelumnya. Adapun Lisbon merupakan salah satu kota besar dan termegah di benua putih itu dengan penduduk diperkirakan 275 ribu jiwa.

Daerah-daerah taklukan Portugal tersebar dari Atlantik hingga Pasifik. Kota pertama di luar benua Eropa yang mereka taklukkan adalah Ceuta, sebuah kota perdagangan di utara Afrika milik Kerajaan Maroko. Kota itu diduduki di tahun 1415. Tak lama setelah itu, pelaut dan penjelajah Portugal menemukan Madeira (1419) dan Azores (1427) di Atlantik. Pelaut Portugal juga menduduki Newfoundland (1473) dan Labrador (1498) di pantai timur benua Amerika, kini wilayah Kanada.

Hampir bersamaan dengan penaklukan Labrador, Vasco da Gama tiba di India. Tahun 1500, Pedro Alvares Cabral yang ingin mencapai India malah menemukan Brazil di Amerika Latin. Tahun 1510, Alfonso de Albuquerque kembali berlayar ke timur dan menaklukan Goa di India dan Ormuz di Selat Parsi, juga Malaka di Malaysia kini.

Sampai di situ, kekayaan Portugal telah menumpuk. Tetapi Raja dan Ratu juga pelaut-pelaut Portugal masih belum mau berhenti. Mereka melanjutkan perjalanan ke timur, dan mengklaim semua tanah yang mereka temukan sebagai milik tahta Tuhan yang berada di Portugal; Maldives dan Sri Lanka (1518), Sumatera (1511), Makassar, Ternate, Ambon, Banda dan Timor dalam sekali kayuh di tahun 1512, Papua Nugini (1526), dan mungkin juga merupakan pelaut Eropa pertama yang tiba di daratan yang kini dikenal sebagai Australia dan Selandia Baru.

Petaka politik sempat menghampiri Portugal antara 1580 hingga 1640 menyusul kematian Raja Sebastian dalam pertempuran Alcacer Quibir di dekat kota Ksar el Kebir, antara Tangier dan Fes, Maroko, pada 4 Agustus 1578. Raja Sebastian hadir di medan perang Alcacer Quibir untuk membantu Abu Abdallah Mohamed II Saadi yang ingin merebut kembali kekuasaan dari pamannya, Sultan Abd Al Malik, yang didukung Ramazan Pasha, Gubernur Ottoman di Aljazair.

Menyusul kematian Raja Sebastian, Raja Philip I dari Spanyol mengambil alih kekuasaan dan menyatukan kedua negara itu. Penyatuan sepihak ini menimbulkan petaka berikutnya yang menyeret Portugal dalam perang selama 80 tahun melawan Belanda yang sebetulnya merupakan salah satu sekutu lama Portugal. Tidak hanya di Eropa, perang dengan Belanda juga terjadi di koloni Portugal yang tersebar dari Atlantik hingga Pasifik tadi. Bedanya, di Eropa yang bertempur adalah dua kekuatan militer bersenjata, sementara di daerah-daerah jajahan pertempuran terjadi antara dua perusahaan dagang besar, milik Belanda dan milik Portugal. Perusahaan dagang Belanda keluar sebagai pemenang dan menumbangkan dominasi Portugal dan Spanyol di lautan.

Tak tahan berada di bawah kekuasaan Spanyol, pada 1640 John IV memimpin pemberontakan dan membubarkan Uni Iberia yang dipimpin raja Spanyol. Dan keadaan pun kembali bergerak ke titik normal, walau kekuasaan Portugis di Atlantik dan Pasifik telah jauh berkurang.

Begitulah, Portugal sebenarnya baru bangkit dari tidur panjang ketika gempa berkekuatan dahsyat menghantam negeri itu, pagi hari 1 November 1755.

Raja Joseph I yang diliputi rasa takut terpaksa memindahkan pusat kekuasaannya ke Ajuda, sebuah kota kecil di luar Lisbon, dan memerintah dari dalam tenda sampai akhir hayatnya pada 1777.

Bencana alam yang kemudian dikenal sebagai gempa Lisbon ini tercatat sebagai salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah manusia. Tak kurang dari 100 ribu orang tewas di banyak tempat di kawasan itu. Pun banyak kota yang runtuh. Tetapi di sisi lain ia telah mendorong perkembangan ilmu seismologi modern dan berbagai pendekatan yang digunakan untuk mempelajari kecenderungan gerakan lempeng-lempeng bumi. Ia juga diperbincangkan dan diperdebatkan para filsuf di era Pencerahan Eropa dan menjadi salah satu kajian pokok para pencari keadilan illahiah.

Jejak keganasan gempa Lisboa juga dapat ditemukan di Rabat, yang berada di pojok barat belahan utara Afrika, tepatnya di sebuah benteng tua yang kini dikenal sebagai Chellah.

Benteng yangmengelilingi Sala Colonia dibangun oleh Sultan Abu I-Hasan dari Dinasti Almohad di abad ke-14. Setelah dihancurkan Gempa Lisbon 1755, Chellah hanya menjadi taman kota dan pusat wisata. Di dalam benteng, puing-puing kompleks Sala Colonia yang dibangun Romawi bersebelahan dengan reruntuhan kompleks masjid dan sekolah yang dibangun Sultan Abu I-Hasan.

Sayap  benteng Chellah yang berseberangan dengan benteng tua yang mengelilingi kota Rabat dan kompleks istana (pojok kiri).

Salah satu menara pengawas di benteng yang dibangung Sultan Abu I-Hasan.

Reruntuhan bangunan utama Sala Colonia yang disebut Capitole, di sebelah kiri Arc de Triomphe.

Chlellah atau Sala Colonia adalah sebuah kota kuno yang didirikan Romawi di mulut Sungai Bou Regreg di selatan Rabat, Maroko modern.

Chellah dan kawasan di sekitar muara Sungai Bou Regreg mulai dihuni saat orang-orang Phoenician dan Carthaginian menetap di tempat itu ribuan tahun lalu. Adalah orang-orang Romawi yang datang kemudian yang mendirikan benteng Sala Colonia. Sungai Bou Regreg yang mengalir sejauh 240 kilometer dari ketinggian 1.627 meter di Jbel Mtourzgane di Pegunungan Atlas Tengah menuju muaranya di Samudera Atlantik menjadi salah satu faktor yang ikut membantu kawasan itu tumbuh dan bertahan hingga kini.

Reruntuhan patung marmer di depan Capitole.

Puing-puing menara marmer di atas jalan batu Romawi dengan menara masjid sebagai latar belakang.

Burung-burung liar ini kerap ditemukan bersarang di puing-puing dan reruntuhan kota atau bangunan tua di Maroko.

Hamparan jalan batu dan puing marmer Romawi serta jalan menuju makam Sultan Abu I-Hasan di belakangnya (pojok kiri). Tiga undakan di belakang puing menara marmer adalah sisa dari pondasi Arc de Triomphe.

Di dalam benteng Chellah kita masih bisa menemukan jejak atau tepatnya puing dan reruntuhan bangunan khas Romawi, seperti forum yang menjadi tempat warga kota berkumpul untuk membicarakan berbagai hal, juga Decumanus Maximus atau ruas jalan batu yang menghubungkan sisi timur dan barat, dan tentu saja Triumph Arch atau Arc de Triomphe.

Tidak diketahui kapan pastinya Sala Collonia didirikan. Namun yang jelas, sejumlah catatan menyebutkan bahwa filsuf dan ilmuwan Romawi, Claudius Ptolemaeus atau Ptolemy yang hidup antara 90 hingga 168 M di Mesir sempat merujuk Sala Colonia dalam karyanya.

Sebuah prasasti Romawi kuno.

Salah satu sudut Sala Colonia. Walaupun bangunan Romawi dan bangunan Muslim berdampinginan, namun cukup mudah untuk membedakan keduanya. Bangunan Romawi terbuat dari batu keras yang disusun dengan warna sedikit lebih terang. Sementara bangunan Muslim seperti masjid di dalam kompleks ini terbuat dari batu tanah liat yang warnanya lebih cokelat gelap.

Reruntuhan kamar-kamar kecil untuk para penghafal Al Quran yang dibangun di era Dinasti Marinid.

Atap hammam atau rumah mandi khas Romawi yang dibangun di masa Sultan Abu I-Hasan.

Seiring dengan pertumbuhan kota-kota lain di sekitar Salla Colonia, benteng itu perlahan tapi pasti mulai diabaikan hingga 1154 M ia benar-benar ditinggalkan. Kala itu, sebuah pusat kota baru di luar benteng di seberang Sungai Bou Regreg, yang dikenal sebagai Sale, mulai tumbuh subur dan mencapai babak kegemilangan. Dari nama yang disandangnya, kelihatannya kota Sale pun meminjam kemahsyuran Sala Colonia.

Peter Lamborn Wilson, seorang penulis Amerika, dalam Pirate Utopias (1995) menulis bahwa Sale awalnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Sala Colonia yang mulai dihuni orang-orang Carthago sekitar abad ke-7 SM, dan merupakan bagian provinsi Mauritania Tingitine.

Sumber air bersih yang mengalir Sala Colonia. Masjid dan sekolah yang dibangun Sultan Abu I-Hasan juga memiliki sumber air bersih sendiri. Diperkirakan, pada masa Sultan Abu I-Hasan sumber air bersih di atas sudah tidak berfungsi.

Tumpukan batu-batu yang merupakan puing-puing dari bangunan Sala Colonia. Sementara di latar belakang adalah salah satu gerbang masjid yang dibangun Sultan Abu I-Hasan.

Gerbang masjid dan menara masjid.

Pilar-pilar bagian dalam masjid yang masih kokoh berdiri.

Adalah panglima Angkatan Laut Romawi, Gaius Plinius Secundus yang juga dikenal dengan sebutan Pliny the Elder, yang menceritakan sejarah Sale dan Sala Colonia. Lalu, orang-orang Vandals dari timur Jerman kini menguasai kota itu sekitar abad ke-5 M. Dari merekalah kini kita bisa menemukan orang-orang Berber berambut pirang dan bermata biru. Lalu pada abad ke-7, orang-orang Arab merebut kota itu dan mempertahankan nama lamanya, Sale, yang menurut mereka berasal dari Sala atau Salah, anak Ham keturunan langsung Nabi Nuh. Oleh orang-orang Arab, Sale dianggap sebagai kota pertama yang dibangun orang-orang Berber.

Reruntuhan Kuil Mauretaniens milik Romawi dengan latar belakang menara masjid yang dibangun Sultan Maroko.

Reruntuhan Forum, bangunan khas milik masyarakat Romawi kuno. Forum digunakan sebagai arena musyawarah masyarakat untuk membicarakan berbagai hal. Juga merupakan tempat untuk menggelar berbagai pertunjukan seni budaya di masa itu.

Pondasi Arc de Triomphe dan hamparan jalan batu Romawi. Di sebelah kiri terlihat dinding luar masjid dan salah satu gerbang utamanya.

Lanskap yang memperlihatkan posisi bangunan Romawi dan bangunan Muslim yang dibangun setelahnya. Juga terlihat kawasan perbukitan di luar benteng. Di sebelah bukit itulah Sungai Bou Regreg mengalir tenang dari Pegunungan Atlas Tengah menuju Samudera Atlantik.

Di pertengahan abad ke-14, Sultan Abu I-Hasan dari Dinasti Almohad tertarik pada Sala Colonia, dan menambahkan beberapa bangunan penting persis bersebelahan dengan bangunan Romawi; sebuah masjid, kompleks pemakaman kerajaan, dan sebuah sekolah yang disebut zawiya. Ketika mengunjungi Chellah dua pekan lalu, pada salah satu gerbang masjid saya menemukan angka 1316 tertulis di bagian atas sebuah gerbang. Tetapi beberapa catatan menyebut bahwa Sultan I-Hasan membuka kembali Chellah pada tahun 1339. Sultan Abu I-Hasan juga membangun tembok baru yang mengelilingi Sala Colonia dan masjid yang dibangunannya.

Salah satu bagian dari kompleks masjid yang terletak di belakang.

Sumber air bersih yang dibangunan Sultan Maroko. Para pengunjung biasanya melemparkan koin ke dalam kolam itu sambil mengharapkan peruntungan baik.

Penggalan Menara masjid dilihat dari belakang. Kawasan di belakang masjid adalah taman bunga.

Salah satu puing bangunan tua milik Romawi.

Kemudian begitulah. Sala Colonia kembali ditinggalkan setelah ia porak poranda dihantam gempa Lisbon. Penguasa-penguasa Maroko setelah masa itu tidak berusaha menghidupukan kembali Sala Colonia. Terakhir, ia hanya dijadikan taman umum dan objek wisata semata, sementara pusat pemerintahan dipindahkan ke Sale dan Rabat secara bergantian.

Ini merupakan bagian dari Capitole yang terletak di dataran yang lebih tinggi dari Arc de Triomphe.

Salah satu pintu masuk ke masjid dari arah makam keluarga raja.

Tahun yang menandai pembangunan kembali komplek Chellah atau Sala Colonia ini oleh pemerintahan Sultan Abu I-Hasan.
 

Kemungkinan ini adalah bagian mihrab dari masjid yang dibangun oleh pemerintahan Muslim di Sala Colonia.

Advertisements

1 thought on “Chellah atau Sala Colonia, Saksi Bisu Keganasan Gempa Lisboa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s