Air Mata Gus Dur yang Tumpah Membaca Manuskrip Ibnu Rusyd

Berbagai manuskrip yang ditulis filsuf Islam, Ibnu Rusyd, masih dapat ditemukan di Fez, Maroko.

Fez yang merupakan kota terbesar ketiga di Maroko, setelah Casablanca dan Rabat, kini adalah ibukota Provinsi Fez Boulemane. Di masa lalu, ia merupakan ibukota pertama Maroko. Pendiri Maroko, Idris I, memulai pembangunan kota di tepi Sungai Fez itu pada 789. Pembangunan diselesaikan Idris II pada 808. Pada 859 Dinasti Idrisid mendirikan Universitas Al Karaaouine yang dipercaya sebagai universitas tertua di dunia. Universitas ini memiliki peran yang begitu penting dalam menyebarkan agama Islam di Afrika dan Eropa pada masa itu.

Manuskrip-manuskrip Ibnu Rusyd yang lahir di Marrakesh, Maroko pada 1126 dan meninggal 1198, berisi berbagai komentarnya atas karya sejumlah filsuf dan pemikir yang hidup sebelum dirinya, seperti filsuf Yunani Plato (429-347 SM) dan Aristoles (384-322 SM), sampai Al Farabi (874-950) dan ilmuwan Muslim peletak dasar-dasar ilmu kedokteran modern Ibnu Sina (980-1037).

Pemikiran Ibnu Sina mempengaruhi banyak filsuf dan pemikir yang mendorong kelahiran abad pencerahan di Eropa. Mulai dari filsuf Yahudi Maimonides yang sejaman dengan dirinya, sampai filsuf dan tokoh kunci kemerdekaan sipil Perancis François-Marie Arouet alias Voltaire (1694-1778) atau salah seorang peletak dasar ilmu politik modern Jean Jaques Rousseau (1712-1778).

Sedemikian kuatnya pengaruh Ibnu Rusyd pada filsuf-filsuf Eropa itu, sampai ada pandangan yang menilai bahwa Eropa berutang budi begitu besar kepada Ibnu Rusyd, karena ialah yang menyalakan lilin pencerahan di kegelapan masyarakat Eropa abad pertengahan. Penulis dari abad pertengahan Florence Dante Alighieri yang hidup satu abad setelah Ibnu Rusyd, antara 1265-1321, dalam bukunya Divina Commedia memberikan julukan Pengulas Aristoteles kepada Ibnu Rusyd. Julukan itu adalah penghargaan yang pantas atas peranan Ibnu Rusyd bukan saja dalam hal menerjemahkan, namun juga dalam hal memberikan pandangan baru yang lebih progresif bagi karya-karya Aristoteles. Sejak itu Ibnu Rusyd dikenal di dunia Eropa sebagai Averroes sampai secara perlahan namun pasti ia dilupakan Eropa.

Manuskrip yang ditulis Ibnu Rusyd, khususnya yang mengenai akhlak dan berisi kritik atas karya Aristoteles pernah begitu menyentuh perasaan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Kepada kerabat dan keluarga beberapa bulan sebelum menghembuskan nafas terakhir, Gus Dur bercerita bahwa ia sempat membaca manuskrip Ibnu Rusyd di Fes. Kata Gus Dur, ia yang sebelumnya tidak pernah menangis, hari itu mengucurkan air mata.

“Kalau tak membaca karya Ibnu Rusyd, ajaran Islam yang saya terima selama ini dapat mengubah saya menjadi teroris,” ujar Gus Dur seperti ditirukan Duta Besar RI untuk Maroko, Tosari Widjaja.

Gus Dur menceritakan pengalaman rohaninya membaca manuskrip Ibnu Rusyd ketika menggelar pertemuan keluarga menjelang pernikahan putri Gus Dur, Zannuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid dengan anggata DPR dari Partai Gerindra Dhohir Farisi. Tosari Widajaja hadir dalam pertemuan itu, karena ia masih terhitung anggota keluarga besar Gus Dur. Gus Dur adalah paman istrinya, Mahsusoh Ujiati. Sementara Tosari Widjaja adalah paman Dhohir Farisi.

Kepada Tosari yang akan bertugas di Maroko, Gus Dur berpesan dan berwasyiat agar Tosari mengunjungi Fes dan membaca kembali manuskrip itu, serta menyebarkannya kepada generasi muda Indonesia.

Kini sudah tiga bulan Tosari bertugas di Maroko. Ia belum memiliki waktu yang tepat untuk mengunjungi Fes. “Perlu waktu untuk lama untuk singgah dan membaca kembali manuskrip Ibnu Rusyd seperti wasiat Gus Dur,” ujar Tosari Widjaja di kediaman resmi Duta Besar RI di Rabat, Maroko, Minggu malam (6/6), kepada Rakyat Merdeka Online yang sedang mengunjungi Maroko.

Sebagian dari manuskrip Ibnu Rusyd itu saat ini sedang dipamerkan di Perpustakaan Nasional Maroko di Rabat. Menurut Tosari, bulan lalu ia telah mengunjungi pameran itu dan bertemu dengan kepala Perpustakaan Nasional Maroko dan pihak Yayasan Kebudayaan Islam yang berpusat di Madrid, Spanyol, yang membantu konservasi manuskrip-manuskrip yang dipamerkan itu. Kedua pihak, sebut Tosari, setuju memamerkan manuskrip itu di Indonesia, negeri dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Sampai sejauh ini, sebut Tosari lagi, pihak Kedubes RI di Rabat masih mempersiapkan pameran itu bersama pihak terkait lain di Indonesia.

“Saya kira kita harus bekerja keras untuk mengangkat kembali peranan, pengaruh dan sumbangan Islam pada peradaban dunia di masa lalu. Ibnu Rusyd hanya satu dari sekian pemikir dan ilmuwan Muslim yang membangun peradaban dunia. Tanpa mereka, sulit membayangkan berbagai kemajuan yang kini ada di muka bumi,” ujar Tosari.

Tosari juga mengingatkan, Islam moderat yang menyebar ratusan tahun lalu di kepulauan Nusantara yang kemudian dikenal sebagai Indonesia berawal dari Maroko. Itu pula sebabnya, Tosari bertekad memperkuat kerjasama kedua negara dan masyarakat dalam pengembangan paham Islam moderat di Indonesia selama masa jabatannya.

3 thoughts on “Air Mata Gus Dur yang Tumpah Membaca Manuskrip Ibnu Rusyd”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s