Perjudian Obama

Sabtu, 20 Maret 2010 | 03:44 WIB
Oleh Budiarto Shambazy, Kompas

Rancangan undang-undang jaminan kesehatan menurut rencana akan disahkan atau ditolak lewat voting di DPR atau Majelis Rendah (House of Representatives), Kongres Amerika Serikat, Minggu (28/3). Dibutuhkan 216 suara rendah agar RUU ini disahkan menjadi undang-undang.

RUU telah disetujui majelis tinggi (Senat) pada Desember lalu, tetapi dikirim lagi ke DPR untuk direvisi/diperbaiki. Andai disahkan DPR, diperlukan persetujuan Senat dan setelah itu baru ditandatangani Presiden Barack Obama.

Kalau RUU ditolak DPR, masih ada kesempatan bagi Obama mengajukannya lagi pada masa mendatang. Sejarah menunjukkan ada RUU yang mondar-mandir lebih dari 20 kali sebelum disahkan.

Akan tetapi, konteks politik sudah berubah drastis karena Obama dan Partai Demokrat secara moral dan politis mengalami kegagalan dan makin tak populer. Obama telah tercatat sebagai presiden paling tidak populer dalam sejarah pada awal tahun kedua karena hanya didukung 47 persen rakyat.

Sebaliknya, kegagalan itu akan dimanfaatkan Partai Republik sebagai peluang memenangi pemilu sela November mendatang untuk sepertiga dari 100 senator dan semua 435 anggota DPR. Dominasi Demokrat di Kongres terancam berakhir.

Itulah sebabnya nasib Obama kini bagai telur di ujung tanduk sebab, sampai kolom ini diturunkan semalam, jumlah anggota DPR yang mendukung RUU diperkirakan hanya mencapai 214, sementara yang menolak 217 anggota.

Tampaknya mudah mencari dua suara anggota DPR untuk memenuhi 216 suara agar RUU jaminan kesehatan (jamkes) disahkan, tetapi belum ada jaminan mereka 100 persen mendukung Obama dan Demokrat. Loyalitas mereka beralih ke distrik dan negara bagian masing-masing anggota DPR.

Jika menyimak peta politik mutakhir, lebih dari 60 persen negara bagian menolak RUU jamkes—yang setuju tak lebih dari lima negara bagian. Peta itu tecermin dari hasil sejumlah jajak pendapat: rakyat yang menolak mencapai 55 persen, sedangkan yang mendukung 35 persen.

Mayoritas menolak karena berbagai alasan ideologis. Bagi rakyat konservatif-Republik, tidak pada tempatnya pemerintah mengatur jamkes karena kesehatan adalah urusan pribadi yang tak boleh dicampuri, apalagi menentukan kebijakan asuransinya.
Bisnis asuransi kesehatan swasta sudah berjalan sesuai dengan free market capitalism. Bantuan pemerintah mesti dibatasi, umpamanya cuma mengelola Medicare untuk manula dan Medicaid bagi rakyat miskin.

Lewat RUU jamkes, Obama bertekad membantu 31 juta rakyat agar punya asuransi dengan gelontoran dana 940 miliar dollar AS selama sepuluh tahun. Sekitar 550 miliar dollar AS berasal dari pajak—inilah yang membuat mereka tak rela.

Selain alasan ideologis pembatasan peranan pemerintah (small government) dan anti-kenaikan pajak, rakyat menganggap RUU jamkes tak akan mengurangi defisit. Mereka kurang yakin dengan dalih Obama yang menyebut RUU mengurangi defisit 1,2 triliun dollar AS selama 20 tahun.

Selain itu banyak yang meragukan RUU akan membuka lowongan kerja. Padahal, AS masih dililit krisis moneter global sejak tahun 2007 yang dipicu krisis kredit rumah bodong yang sampai kini mengakibatkan PHK terhadap hampir 10 juta orang.

Alasan-alasan itulah yang menyulitkan Obama menjual RUU jamkes. Padahal, jika disahkan, RUU ini menyandang predikat landmark bill. AS satu-satunya negara industri yang belum punya UU jamkes yang memadai.

Ambil contoh salah satu tujuan RUU jamkes, yakni memudahkan mahasiswa/pebisnis usaha kecil dan menengah membeli asuransi dengan harga terjangkau. Contoh lain, rakyat tak mampu dijamin memperoleh pengobatan penyakit berat yang sudah menjangkit sebelum membeli asuransi.

Obama akan dikenang sebagai pemimpin besar jika RUU jamkes yang pernah diperjuangkan Presiden Bill Clinton ke Kongres ini disahkan. Namun, politik di AS bersumber pada pertarungan ideologis kelompok liberal prorakyat versus konservatif probisnis.

Bagi Obama, perjuangan mulia ini bukan soal menang atau kalah, tetapi soal politik pengabdian yang diemban sejak usia awal 20 tahunan. Bagi Obama, politik bukan hanya berpidato, tetapi juga mengurus selokan mampat, mencegah remaja terjebak narkoba, dan soal sepele lainnya.

Kamis lalu, Rakyat Merdeka dan Rajawali Foundation menyelenggarakan bedah buku karya ibu Obama, Ann Dunham-Soetoro, Pendekar-pendekar Besi Nusantara. Ini disertasi Ann Dunham, perempuan liberal yang berani menembus tembok-tembok budaya dan negara, tentang ekonomi kerakyatan di Jawa.

Disertasi ini menggugat kekurangberdayaan perajin menghadapi industrialisasi sejak zaman penjajahan sampai Orde Baru. Sistem ekonomi berubah, tetapi kultur begitu-begitu saja karena pengabaian yang disengaja atau tak disengaja.

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Obama mirip ibunya: berani menerjang tantangan sekalipun terjebak perjudian yang bisa memaksa dia bertekuk lutut hanya menjadi presiden satu periode yang gagal menjalankan misi menyejahterakan rakyat.

Sebaliknya, tetap ada kemungkinan ia sukses mendapatkan 216 suara anggota DPR pada hari Minggu esok. Kita tunggu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s