Will Be On TV

I. PENDAHULUAN
Ibunda Presiden Obama, Stanley Ann Dunham atau Ann Dunham-Soetoro menghabiskan belasan tahun di Indonesia untuk meneliti kehidupan pelaku ekonomi sektor informal di kawasan perdesaan di Indonesia.

Di sepanjang masa itu An Dunham-Seotoro membantu sejumlah lembaga di tanah air dalam membangun model mikrokredit yang dapat digunakan untuk mendorong ekonomi kerakyatan.

Hasil penelitian yang panjang dan mendalam itu dituangkan Ann Dunham-Soetoro dalam disertasi pada jurusan antropologi University of Hawaii at Manoa (UHM), Honolulu, dengan judul “Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving and thriving against all Odds” (1992).

Disertasi tersebut telah diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia pada November 2008 dengan judul “Pendekar-pendekar Besi Nusantara”. Disertasi ini mendeskripsikan kehidupan pandai besi di perdesaan Yogyakarta dan menjelaskan perjuangan mereka untuk dapat bertahan dan berkembang di tengah gelombang pembangunan dan globalisasi yang menghantam dari segala arah.

Indonesia adalah negara pertama yang menerbitkan disertasi Ibunda Presiden Obama tersebut. Buku dalam bahasa Inggris dari disertasi tersebut baru diterbitkan setahun kemudian oleh Duke University, Amerika Serikat.

II. EKONOMI KERAKYATAN DI MATA IBUNDA PRESIDEN OBAMA
Tesis utama dalam karya akademik Ann Dunham-Soetoro adalah: perekonomian yang berbasis pada nilai-nilai tradisional dapat bertahan dan berkembang di tengah arus pembangunan dan globalisasi.

Tesis ini berseberangan dengan tesis mainstream yang dibawa oleh kebanyakan antropolog dan sosiolog Barat yang umumnya memandang nilai-nilai tradisional dan kebijaksanaan lokal sebagai sesuatu yang rapuh dan tidak dapat menyesuaikan diri terhadap proses pembangunan yang mengemuka.

Bahkan sebagian dari mereka menganggap bahwa nilai-nilai tradisional adalah faktor penghambat kemajuan.

Menurut pandangan mainstream ini, nilai-nilai modernitas berikut aktor-aktor ekonominya akan dengan mudah menggantikan nilai-nilai tradisional serta aktor ekonomi kerakyatan dan pelaku ekonomi sektor informal.

Di dalam bukunya, Ann Dunham-Soetoro menegaskan bahwa ekonomi kerakyatan dan ekonomi sektor informal hanya dapat bertahan bila pemerintah yang menjadi pelindung dan pengatur semua aktivis ekonomi di sebuah negara, dalam hal ini Indonesia, memiliki kepedulian yang tinggi dan keberpihakan yang jelas.

III. SCHOOL OF THOUGHT
Dalam mengerjakan disertasinya, Ibunda Presiden Obama dibimbing oleh Profesor Emeritus Alice G. Dewey, salah seorang antropolog terkemuka di Amerika Serikat. Prof. Dewey adalah satu dari segelintir antropolog muda pasca Perang Dunia Kedua yang mengunjungi Indonesia bersama antropolog lain yang dikenal luas masyarakat akademis dan praktisi Indonesia, Prof. Clifford Geertz.

Keduanya dari Cornell University, keduanya mengunjungi Indonesia di masa yang sama dan di daerah yang sama. Namun keduanya menghasilkan pendektan yang berbeda 180 derajat dalam memandang model pembangunan Indonesia sebagai “negara baru” pasca Perang Dunia Kedua.

Tidak seperti Prof. Geertz, Prof. Dewey memandang bahwa nilai-nilai tradisional memiliki logika sendiri yang pada prinsipnya dapat bertahan dan menemukan bentuk baru di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang hingga kini menjadi tema besar.

Prof. Dewey tidak melakukan generalisasi terhadap semua nilai tradisional yang dia temukan; sebaliknya, dia memahami bahwa setiap masyarakat lokal memiliki cara hidup dan kebijaksanaan sendiri dalam menghadapi berbagai tantangan.

Dari sudut pandang ekonomi pembangunan, Prof. Dewey mensyaratkan kerja keras pemerintah sebagai pelindung dan pengatur tata kelola ekonomi nasional. Keberpihakan pemerintah haruslah jelas, agar rakyat di lapisan bawah dapat mengembangkan model ekonomi mereka yang mandiri. Lebih jauh, Prof. Dewey dan muridnya, Ann Dunham-Soetoro, memandang bahwa ekonomi kerakyatan adalah tulang punggung sejati perekonomian nasional.

IV. KARYA ANN DUNHAM-SOETORO DAN PERDEBATAN MUTAKHIR
Mengangkat pemikiran Ibuda Presiden Obama memiliki arti penting tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Di dalam otobiografinya, “Dreams from My Father”, Presiden Obama mengakui bahwa dirinya memiliki keterikatan yang begitu kuat dengan pemikiran-pemikiran ibunya yang menghargai keberagaman dan kehidupan masyarakat yang kurang beruntung di banyak tempat di muka bumi. Pemikiran-pemikiran ibunya inilah yang telah menginspirasi tema besar yang dibawa Presiden Obama hingga hari ini.

Sejak masa kampanye pemilihan presiden 2008 yang lalu, Presiden Obama tampil sebagai pembela ekonomi kerakyatan Amerika Serikat. Menurutnya arus globalisasi juga merugikan masyarakat Amerika. Pergerakan uang dan modal yang begitu bebas telah melemahkan pondasi ekonomi negara itu. Globalisasi, juga menurut Presiden Obama, cenderung menguntungkan sebagian kecil masyarakat, yakni para pemilik modal besar, dan merugikan sebagian besar masyarakat Amerika Serikat. Seperti halnya di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, di Amerika Serikat globalisasi pun telah menciptakan jurang yang begitu dalam dan lebar antara dua kelompok masyarakat; sebagian kecil pemilik modal dan sebagian besar rakyat pekerja. Inilah yang oleh para pengkritik globalisasi di Amerika Serikat, termasuk Presiden Obama, disebut sebagai Wall Street dan Main Street.

Dengan dasar pemikiran seperti inilah, Presiden Obama dalam pertemuan tingkat tinggi APEC di Singapura bulan November 2009 yang lalu, misalnya, menegaskan bahwa kini adalah saat yang tepat bagi pemerintah Amerika Serikat untuk memproteksi perekonomian dan industri dalam negeri. Presiden Obama memahami bahwa globalisasi telah membuat bangsa Amerika Serikat menjadi bangsa konsumtif. Celakanya, konsumerisme itu telah melemahkan basis industri dalam negeri dan menciptakan gelombang pengangguran terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

Tanpa bermaksud untuk menutup diri, Presiden Obama berupaya mengurangi ketergantungan Amerika Serikat pada industri luar negeri. Hanya dengan menggerakkan roda industri dalam negeri, Presiden Obama percaya, rakyat sebagai tulang punggung sejati perekonomian nasional dapat benar-benar kuat dan mandiri.

Pandangan di atas juga dibawa Presiden Obama ke level internasional. Presiden Obama percaya, bila negara-negara di dunia memiliki basis industri dan ekonomi yang kuat maka pertukaran nilai ekonomi yang adil dan, selanjutnya, perdamaian abadi di muka bumi dapat terwujud. Dengan demikian, Presiden Obama dalam berbagai kesempatan mendorong agar pemerintah di semua negara memperkuat industri dalam negeri.

Proposal Presiden Obama tersebut memiliki relevansi yang begitu signifikan manakala kita membicarakan proses pembangunan nasional, khususnya dalam hal membangun ekonomi kerakyatan yang dimotori oleh aktor ekonomi sektor informal di tanah air.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s