Notes

Marsilam Simanjuntak Tokoh Penting di Balik Kejatuhan Gus Dur

Marsilam Simanjuntak kini menjadi kontroversial menyusul kasus dana talangan Bank Century yang membengkak menjadi Rp 6,7 triliun.

Ia hadir dalam Rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) yang dilakukan di gedung Departemen Keuangan, dinihari 21 November 2008, yang akhirnya memutuskan status Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik diikuti pengucuran bailout sebesar Rp 632 miliar untuk mendongkrak rasio kecukupan modal bank itu. Kala itu, Marsilam adalah Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R) Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I.

Unit kerja ini berada langsung di bawah Presiden SBY.

Kehadiran Marsilam menjadi petunjuk penting mengenai “keterlibatan” atau setidaknya “pengetahuan” Presiden SBY terhadap rencana “penyelamatan” Bank Century. Tetapi kubu Istana Negara belakangan membantah kehadiran Marsilam dalam rapat itu atas perintah Presiden.

Bukan sekali ini saja Marsilam menjadi tokoh kontroversial. Ia juga menjadi figur yang kontroversial saat berada di tubuh pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001). Menurut Hermawan Sulistyo, Marsilam Simanjuntak adalah orang yang memiliki peran paling penting sehingga akhirnya di dalam Maklumat yang disampaikan Gus Dur terdapat poin tentang pembekuan parlemen dan percepatan pemilu.

Padahal, sebut Hermawan Sulistyo kepada Rakyat Merdeka Online, sejatinya Gus Dur hanya ingin agar Partai Golkar yang dibekukan.

Marsilam bergabung dengan Kabinet Persatuan Nasional yang dipimpin Gus Dur tanggal 10 Juli 2001 menggantikan Jaksa Agung baharuddin Lopa yang meninggal dunia. Ia dan Gus Dur adalah teman lama sejak di Forum Demokrasi.

Menjelang tengah malam kala itu, 22 Juli 2001, Marsilam menjadi orang terakhir yang menyusun draf Maklumat. Ada pun Gus Dur yang sudah “patah hati” menerima apa saja yang dikonsepkan.

Tadinya, sebut Hermawan, Gus Dur masih punya sedikit harapan. Tetapi begitu mengetahui bahwa panser dan tank yang diparkir di sekitar silang Monas mengarah ke Istana, dirinya mulai kehilangan semangat. Gus Dur membiarkan semua tokoh LSM yang malam itu mengunjunginya untuk menyusun draf. Dan Marsilam lah yang menjadi perumus akhir.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s