Si “Robert” Itu Ternyata Marsilam Simanjuntak

Ini adalah kelanjutan dari misteri Robert Tantular, pemegang saham pengendali Bank Century, yang hadir dalam Rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK), dinihari 21 November 2008 di lantai tiga Gedung Djuanda I, Departemen Keuangan, Jakarta.

Dan, juga merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya: Misteri Robert Tantular yang Mendadak Muncul di Rapat Dinihari.

Dalam bagian pertama Rapat KSSK tersebut, yang berlangsung terbuka dan bukan merupakan rapat pengambilan keputusan, diketahui bahwa Robert Tantular dihadirkan Bank Indonesia ke gedung itu. Kehadiran Robert di gedung itu disampaikan seseorang kepada Ketua KSSK dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Menurut orang itu, yang dalam transkrip pembicaraan ditulis sebagai “Tidak Diketahui”, Robert Tantular berada di lantai bawah.

Mendengar pernyataan itu, Sri Mulyani balik bertanya tentang kapasitas Robert.

Apakah Robert mengantongi surat kuasa dari dua pemegang saham lainnya, yakni Hesham Al Waraq dan Rafat Ali Rizvi yang bersama Robert menguasai surat-surat berharga Bank Century dengan menggunakan bendera First Gulf Asian Holding (FGAH), tanya Sri Mulyani.

Si “Tidak Diketahui” menjawab. Singkat saja.

“Ya, karena hanya itu yang bisa dihadirkan oleh BI.”

Jawaban itu jelas tidak memuaskan Sri Mulyani.

Yang dibutuhkan dalam memutuskan apakah Bank Century layak ditetapkan sebagai bank gagal yang berdampak sistemik, seperti yang diusulkan Gubernur Bank Indonesia Boediono, dan karenanya harus dibantu dengan menyuntikkan dana segar agar rasio kecukupan modalnya naik, bukanlah kehadiran fisik, melainkan legalitas.

Bagaimana mungkin, sambung Sri Mulyani, Robert yang hanya mengantongi 10 persen saham dapat mewakili RUPS Bank Century. Enak bener di republik ini, katanya lagi.

Sri Mulyani masih melanjutkan kalimatnya. Seperti tertulis dalam transkrip, kalimat-kalimatnya seperti ini:

“Makanya ini mekanisme komunikasi dan artinya urgensinya dari sisi waktu dimana BI bahwa nyawanya sudah selesak jam 8 ini. Tetapi kalau sudah selesai dan yang lain tidak siap kan seharunya, di atas kertas, kan harusnya dimatikan saja. Tapi karena ada aspek yang dianggap sistemik untuk menuju sistemik ini ternyata requirement-nya juga tidak mudah untuk dipenuhi. Selain bukan hanya bahwa KSSK mengatakan ini sistemik dan bisa dianulir. Kan nggak juga. Ternyata waktu membutuhkan sistemik pun harus dibutuhkan tadi.”

Saat itu pukul 03.02 menit, 21 November 2008.

Setelah itu nama Robert sempat beberapa kali lagi disebut saat peserta rapat membahas posisi tiga pemegang saham Bank Century, Warraq, Rafat dan Robert, dalam skema penyelamatan Bank Century.

Menjelang akhir bagian pertama Rapat KSSK, nama Robert kembali terdengar. Kali ini yang menyebut adalah Sekretaris dan notulis rapat, Raden Pardede. Dalam transkrip yang kami pegang, kalimat Raden tertulis seperti ini:

“Tapi saya rasa, dananya besar itu ada special deal, mungkin dia kuasai pemilik. Jadi kalau seandainya yang dua miliar mau diselamatkan, yang di atas dua miliar dimasukkan ruangan, minta jumlah itu untuk ditanggung sama Robert Tantular. Nanti Robert Tantular pasti nyanyi, bahwa ini sebetulnya pemilik. Itu mungkin bisa diatasi, mungkin ya. Tapi memang betul-betul harus bisa keras dan proses hukumnya juga harus cepat karena pilihannya nggak banyak tapi kalau ada yang betul-betul jujur, kita harus berani bayar juga. Karena dia memang nggak sengaja gitu.”

Setelah Raden Pardede mengakhiri kalimatnya, Sri Mulyani kembali angkat bicara.

“Ya udah. Rapat tertutup sekarang. Ya Robert.”

Nah, di sinilah masalahnya. Mengapa kata “Robert” keluar dari mulut Sri Mulyani? Apakah di saat itu, di saat Sri Mulyani akan menutup rapat, Robert Tantular yang sebelumnya telah disebutkan berada di lantai bawah mendadak masuk ke ruang rapat yang digelar terbuka dan dihadiri oleh sekitar 30 orang itu?

“Keanehan” ini menjadi salah satu hal yang dibicarakan dalam jumpa pers yang digelar Sri Mulyani di Departemen Keuangan, Minggu siang ini (13/12). Dikemas dengan gaya talk show, jumpa pers yang dipandu Wimar Witoelar ini dihadiri oleh sejumlah pejabat Depkeu. Marsilam Simanjuntak juga memperlihatkan batang hidung. Ia adalah mantan ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R) yang ikut hadir dalam rapat tanggal 21 November 2008.

Raden Pardede yang kini menjadi salah seorang staf khusus Sri Mulyani menjelaskan bahwa kata “Robert” meluncur begitu saja dari Sri Mulyani saat hendak memberikan kesempatan kepada Agus Martowardoyo, salah seorang peserta rapat, yang ingin mengajukan pertanyaan.

Tetapi, kata Raden Pardede, sebelum Agus Martowardoyo menyampaikan pertanyaannya, Marsilam Simanjuntak menyela.

Nah, di dalam transkrip rekaman rapat yang tertulis bukan “Marsilam” melainkan “Robert”. Di dalam transkrip rekaman si “Robert” yang menurut Raden Pardede adalah Marsilam Simanjuntak berkata seperti ini:

“Saya kira Ibu rapat tertutup saja dengan catatan bahwa kesimpulan ini mengakhiri, pasalnya adalah keadaan krisis yang kita hadapi sekarang.”

Mendengar pernyataan “Robert” yang Marsilam Simanjuntak”, Sri Mulyani menjawab singkat:

Sebetulnya, rapat tertutupnya ada di kamar.”

“Jadi yang disangkakan itu adalah Robert Tantular adalah jelas-jelas Pak Marsilam, Ketua UKP3R. Sesudah itu ada pernyataan sedikit tentang rapat tertutup di dalam kamar,” kata Raden dalam jumpa pers tadi.

Kehadiran Robert Tantular di gedung tempat Rapat KSSK digelar dan “pembicaraan” antara dirinya dengan Sri Mulyani ikut memperpanas suhu politik di akhir pekan ini. Adalah anggota Pansus centurygate dari Partai Golkar, Bambang Soesatyo yang menyampaikan perihal pembicaraan singkat antara Sri Mulyani dan Robert Tantular itu hari Jumat yang lalu.

Kemarahan Sri Mulyani yang pada hari Kamis sebelumnya, di Wall Street Journal, mengatakan bahwa Pansus Centurygate dibentuk untuk menghabisi kariernya dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie berikut orang-orang Partai Golkar tidak menyukainya, semakin menjadi. Jumpa pers Minggu siang ini digelar khusus untuk menjawab tudingan Bambang yang oleh Sri Mulyani itu dianggap sebagai fitnah.

Sementara Bambang, langsung merespon bantahan Sri Mulyani. Dalam jumpa pers di Pulau Dua, Senayan, dia meminta agar Sri Mulyani menyampaikan keterangannya ini di depan Pansus Centurygate.

Di sisi lain, Bambang juga mempertanyakan, sejak kapan Agus Martowardoyo menjadi “Robert Martowardoyo” atau Marsilam Simanjuntak menjadi “Robert Simanjuntak”. Bambang masih menyimpan kecurigaan ada yang tidak beres dengan proses pengambilan keputusan mem-bailout Bank Century. Dan suhu politik tampaknya belum akan segera mereda.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

One thought on “Si “Robert” Itu Ternyata Marsilam Simanjuntak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s