Barack Obama

Michael Moore Tanya Apakah Obama Memang Ingin Jadi Presiden Perang

All politicians are alike, semua politisi adalah sama.

Begitu Michael Moore, sutradara film dan aktivis HAM, memulai surat terbukanya untuk Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama.

Selasa malam waktu Amerika (1/12) atau Rabu pagi waktu Indonesia (2/12) Obama akan menyampaikan pidato kenegaraan di Akademi Militer West Point, New York. Dalam pidato itu, Obama akan menyampaikan keputusannya menambah jumlah pasukan AS di Afghanistan yang sudah sewindu diduduki Amerika Serikat.

Bagi orang-orang seperti Michael Moore yang begitu kritis terhadap perang yang digelar Amerika Serikat di banyak negara, keputusan Obama mengirimkan pasukan tambahan merupakan kesalahan besar, blunder besar yang merusak citra Obama sebagai tokoh sipil pencinta perdamaian.

“Apakah Anda sungguh-sungguh ingin menjadi “presiden perang” yang baru?” tanya Michael Moore dalam suratnya yang ditulis tanggal 30 November.

“Bila Anda berangkat ke West Point besok malam dan mengumumkan bahwa Anda menambah, bukan mengurangi, pasukan Amerika di Afghan, Anda adalah presiden perang. Jelas dan sederhana. Bersama dengan itu Anda akan melakukan hal paling buruk yang dapat Anda lakukan, yakni menghancurkan begitu banyak harapan dan mimpi yang disandarkan banyak orang kepada diri Anda,” sambungnya.

Sutradara film “9/11” dan penulis buku “Stupid White Man itu mengingatkan Obama bahwa pidatonya di West Point dapat mengecewakan begitu banyak anak muda yang menjadi tulang punggung kampanye Obama dalam pemilihan presiden tahun lalu.

“Anda akan mengajarkan mereka bahwa apa yang selama ini mereka dengar adalah benar, bahwa semua politisi itu sama,” ujarnya lagi.

Michael Moore juga mengingatkan Obama bahwa sebagai presiden yang menjalankan pemerintah sipil, hal yang harus dilakukan Obama mestinya adalah memerintahkan jenderal-jenderalnya untuk menarik pasukan. Bukan melaksanakan perintah jenderal-jenderal pasukan Amerika untuk menambah pasukan di Afghanistan.

“Kita yang mengatakan apa yang harus jenderal-jenderal itu lakukan. Bukan sebaliknya,” tulis Michael.

Michael mencontohkan apa yang dilakukan Presiden Harry S. Truman saat Jenderal Mc Arthur ingin menduduki China seusai Perang Dunia Kedua. Bukannya mengikuti kemauan Jenderal Mc Arthur, Presiden Truman marah dan memecat sang jenderal.

“Anda pun seharusnya memecat Jenderal Stanley McChrystal, Komandan Pasukan AS di Afghanistan, saat dia di depan media mengatakan apa yang harus Anda lakukan,” demikian Michael Moore.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s