Misteri Ibu Endang dan Namru-2

Namru-2 atau Navy Medical Research Unit Two kembali jadi pembicaraan setelah Presiden SBY menujuk Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan menggantikan Siti Fadillah Supari.

Siti Fadillah Supari yang dikenal kritis terhadap keberadaan Namru-2 menyebut Endang sebagai salah satu pihak yang memiliki hubungan erat dengan Namru-2. Endang juga yang membawa virus flu burung strain Indonesia H5N1 tanpa seizin Siti Fadillah ke Amerika Serikat untuk selanjutnya dikomersialisasi oleh sejumlah perusahaan farmasi raksasa. Hal inilah yang pernah menjadi pangkal sengketa antara Siti Fadillah tidak hanya dengan pemerintah Amerika Serikat juga dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun lalu.

Dalam buku “Komisi I: Senjata, Satelit, Diplomasi” yang terbit bulan lalu disebutkan bahwa sebelum singgah di Indonesia, Namru-2 atau Navy Medical Research Unit Two sudah menjejakkan kaki di tiga negara lain.

Awalnya Namru-2 didirikan Angkatan Laut AS bekerjasama dengan Rockefeller Institute di Guam, salah satu pangkalan militer Amerika Serikat di Pasifik selama Perang Dunia Kedua. Tahun 1955, Komando Namru-2 dipindahkan ke Taipei, Taiwan, yang ketika itu masih berada di bawah perlindungan politik Amerika Serikat.

Menyusul kejatuhan Soekarno, di tahun 1968, pihak Amerika Serikat mulai membicarakan rencana mendirikan semacam laboratorium cabang setingkat detasemen untuk Namru-2 di Jakarta. Detasemen ini dimaksudkan untuk mempermudah penelitian mengenai penyebaran virus penyakit di kawasan Asia Tenggara. Dua tahun kemudian laboratorium cabang itu pun resmi berdiri di Jakarta sementara di tahun 1979, pemerintah AS memindahkan laboratorium pusat Namru-2 ke Manila, Filipina.

Selanjutnya, di tahun 1990, setelah serangkaian pembicaraan negosiasi antara Angkatan Laut AS dan Departemen Luar Negeri AS di satu pihak dengan Departemen Kesehatan Indonesia di pihak lain, laboratorium Komando Namru-2 resmi dipindahkan ke Jakarta untuk mendukung kepentingan riset kesehatan AS dan menjadi salah satu mesin diplomatik AS di kawasan Asia Pasifik. Namru-2 secara terus menerus memberikan informasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan penyebaran virus dan wabah penyakit.

Laboratorium ini juga meneliti penyebaran wabah penyakit pasca gempa hebat dan tsunami di utara Pulau Sumatera, Desember 2004, dan pasca gempa bumi di Jogjakarta, Mei 2005. Saat ini Namru-2 telah mengembangkan aktivitas penelitian dan laboratorium di beberapa negara lain di Asia Tenggara, seperti Laos, Singapura, Thailand, dan Kamboja.

Polemik mengenai keberadaan Namru-2 di Indonesia mulai marak akhir 2007. Laboratorium ini diduga mengambil keuntungan untuk AS, dan sebaliknya merugikan Indonesia, dalam bidang kesehatan maupun intelijen, militer dan pertahanan.

Dalam jumpa pers di kediamannya di Kompleks IKIP, Rawamangun, Jakarta Timur tadi pagi (Kamis, 22/10), Endang membantah tuduhan tersebut.

“Itu kan penelitian, jadi boleh dibawa ke mana saja,” katanya sambil menambahkan bahwa dia memang memiliki hubungan dengan sebatas urusan penelitian dengan sejumlah pihak.

One comment

  1. Ketua Komisi IX DPRRI, dr. Ribka Tjiptaning kabarnya akan segera memanggil Menkes dan berbincang tentang Namru 2 dan banyak hal lain.
    Kita tunggu saja hasil pertemuan tersebut kelak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s