Tahun 1998, Wiranto berpeluang besar menjadi presiden, namun kesempatan itu tidak diambilnya.
Juga dimuat di Rakyat Merdeka Online.
“Saya tidak mau menjadi presiden di atas secarik kertas,” kata Wiranto ketika melakukan kampanye dialogis dengan sekitar 400 pendukungnya di Hotel BJ Perdana di Jalan Sultan Agung, Pasuruan, Jawa Timur, siang ini (Sabtu, 13/6).
Ketua Umum Partai Hanura ini mengatakan pada masa itu, di tengah situasi politik tak menentu setelah Soeharto dilengserkan dari kursi kekuasaannya oleh gerakan mahasiswa, sebagai Panglima ABRI yang memang telah mendapatkan mandat tertulis dari Soeharto dia bisa saja mengambil alih kekuasaan.
Tapi itu tidak dilakukan sebab Wiranto menyadari tindakan tersebut tidak akan membawa kemaslahatan bagi umat. Bahkan, menurut Wiranto, kalau dia memaksakan diri menjadi presiden saat itu maka akan terjadi perang saudara. Militer yang berada di belakangnya akan berhadapan dengan rakyat.
Kepada para pendukungnya Wiranto mengatakan, setelah peristiwa 1998 itu dirinya tidak kapok untuk maju sebagai capres.
Yang jelas, “Saya tidak mau jadi penguasa tanpa proses demokrasi,” demikian Wiranto.
