Rizal Ramli: Kolom Jaya Suprana

dsc069461

SEBENARNYA di antara sekian banyak calon presiden (capres), salah seorang yang paling cendekia akademis, khususnya di bidang ekonomi, adalah Dr Rizal Ramli.

Dikutip dari Koran Sindo, Sabtu 18 April 2009.

Beberapa kali saya memperoleh kehormatan bersama ilmuwan ekonomi sakti-mandraguna ini tampil di berbagai forum seminar ekonomi. Saya benar-benar kagum atas pandangan beliau tentang kemelut ekonomi Indonesia. Bukan sekadar dalam bentuk analisis, melainkan juga solusi yang jelas dan sistematis terhadap permasalahan ekonomi yang telah, sedang, maupun akan dihadapi bangsa Indonesia.

Kekaguman saya juga akibat merasakan gelombang semangat nasionalisme luar biasa menggelora di sanubari dan nurani RR (Rizal Ramli) yang kini sempat membuat kita pangling akibat dulu berkumis kini mulus itu! Di samping kecendekiaan, RR juga memiliki pengalaman yang mendukung keterampilan dalam memimpin perusahaan maupun negara.

Dalam jabatan kepemerintahan, RR tidak tanggung-tanggung sempat menjabat menteri koordinator (menko) bidang perekonomian di Kabinet Gus Dur,menteri keuangan dan kepala Bulog. RR juga mendirikan lembaga penelitian ekonomi, Econit, yang menampilkan hasil-hasil penelitian kritis namun konstruktif terhadap ekonomi Nusantara.

Sejak kepala Bulog sampai menko perekonomian, RR menjadi semacam sapu baru yang gigih berusaha menyapu bersih praktik tangan-tangan kotor di jalur kepemerintahan. Sayang masa jabatan RR di kepemerintahan terlalu singkat untuk sempat menampilkan prestasi-prestasi pembersihan korupsi secara lebih spektakuler.

Setelah bersama Gus Dur lengser dari jabatan menko, RR diangkat menjadi Presiden Komisaris Semen Gresik, yang dalam waktu sangat singkat mampu menghadirkan fakta kinerja efisiensi secara sangat meyakinkan. Pendek kata, keilmuan dan kepiawaian ekonomi RR tidak perlu diragukan lagi.

Namun, sikap skeptis dan keterbukaan Rizal Ramli yang berani terbuka menyatakan yang benar sebagai benar, justru menjadi kendala utama bagi karier politiknya sendiri. Terutama akibat kritik-kritik tajam dan pedas tetapi realistis yang kerap memerahkan telinga mereka yang sedang memegang kendali kepemimpinan ekonomi Indonesia.

Maka, tidak mengherankan apabila RR memang banyak pengagumnya, sekaligus juga banyak pencemoohnya. Setelah memperoleh restu Gus Dur, RR lantang mencanangkan hasratnya untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 2009.

Hasrat RR dilengkapi tujuan jelas, yakni ingin melakukan perubahan terhadap kebijakan ekonomi nasional Indonesia yang dinilai masih jauh-api-dari panggang, terutama dalam kemiskinan yang masih merajalela di persada Nusantara.

Menurut RR, kebijaksanaan ekonomi Nusantara masih terlalu terjebak arus globalisme hingga melalaikan kepentingan nasional dan kepentingan rakyat sesuai cita-cita terluhur bangsa dan negara Indonesia: masyarakat adil dan makmur. Namun, niat RR menjadi presiden ternyata tidak disukai banyak pihak!

Ketika demonstrasi para mahasiswa merebak akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) secara drastis, langsung RR diseret ke pengadilan atas tuduhan sebagai biang keladi alias provokator. Mereka yang mengerti duduk permasalahan menganggap tuntutan hukum terlalu berlebihan, bahkan dicari-cari, sekadar demi menyebar batu sandungan untuk menjegal derap langkah RR menuju babak kecapresan.

Namun RR menganggap tuntutan hukum yang selalu menjadi sorotan media massa justru sebagai kesempatan untuk tampil dalam berita koran, majalah, radio sampai televisi. Jadi semacam kampanye gratis yang lazimnya harus dibayar mahal oleh para capres yang tidak sempat dituduh provokator demo! Semangat maju tak gentarRR memang mengagumkan.

Kasus RR menarik untuk disimak, karena dia merupakan salah satu bukti nyata betapa dengan kemauan dan kemampuan saja ternyata belum memenuhi syarat untuk terpilih menjadi presiden Republik Indonesia. Aturan main pemilu mempersulit bahkan mempermustahil seseorang yang sebenarnya potensial menjadi presiden untuk benar-benar bisa menjadi presiden apabila tidak didukung oleh partai politik yang memenuhi syarat peraturan pemilu untuk mengajukan calon.(*)

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

One thought on “Rizal Ramli: Kolom Jaya Suprana”

  1. siang pak. saya punya usul terkait dengan maraknya koruptor di indonesia yang tidak bisa ditangani secara intensif oleh aparat pemerintah karena kepincangan hukum di indonesia yang hanya diberikan kepada rakyat kecil. Saya sudah tahu sepak terjang bapak. Saya usul, bagaimana jika bapak menerbitkan satu buku yang di dalamnya mencantumkan para koruptor di indonesai mulai dari yang koruptor kelas kakap sampai kelas teri. Hal ini saya ajukan dengan asumsi agar para koruptor jera dengan apa yang telah mereka lakukan. jika dengan proses hukum mereka tidak akan jera. Jera tapi hanya waktu hukuman berlangsung, setelah itu mereka korup lagi. Buatlah guinness book para koruptor, dan membuat satu monumen bagi para koruptor yang ada di indonesia, agar anak cucu para koruptor dapat melihat bahwa nenek moyangnya adalah orang yang corrupt, sehingga ini akan jadi wacana bagi masyarakat indonesia dan bagi koruptor itu sendiri.
    yang kedua, ketua umum PSSI juga bekas napi, apakah tidak ada orang yang berkompeten di negeri ini selain bekas napi, bagaimana sepak bola di indonesia bisa maju jika yang mimpin juga tidak memiliki ahlak yang baik. Maju negeriku, maju banagsaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s