Coretan Dinding yang Terpojok di Tempat Sampah: Pemilu 2009

JUMLAH pemilih yang memberikan suara dalam sebuah pemilihan umum bukan satu-satunya indikator DEMOKRASI. Ia hanya salah satu petunjuk. Mulai sekarang kita *harus* menjadikan hal-hal yang berkaitan langsung dengan PELAYANAN PUBLIK sebagai indikator utama demokrasi.

***

Mestinya kita juga melihat bahwa pemilihan umum dan sistem perwakilan yang kita kenal hari ini bukan esensi demokrasi. Ia hanya salah satu cara untuk melembagakan demokrasi. Don’t get me wrong.

Inti dari ajaran utama demokrasi adalah “lu senang, gua senang, dia dan mereka juga senang.”

Itu juga sebabnya mengapa demokrasi dimanapun sulit dilakukan. Karena ada saja pihak yang tak senang bila orang lain merasa senang…

***

Di sisi lain, penyelenggaraan Pemilu 2009 lalu memperlihatkan kejahatan rezim: tindakan semena-mena menghilangkan hak pilih sebagian rakyat dengan menggunakan persoalan2 teknis sebagai alasan. Dan ini tidak bisa dibiarkan. Sebaliknya, harus dilawan.

***

Saya salut dan hormat pada teman, sahabat dan handai taulan yang dengan berbagai pertimbangan menyatakan dirinya golput pada pemilu yang lalu.

Tapi saya pun sungguh merasa prihatin dan sedih melihat kenyataan betapa banyak warga negara yang ingin menggunakan hak pilih terpaksa gigit jari hanya karena sekadar *kesalahan teknis* yang dilakukan kpu.

Saya mengecam kejahatan ini. Kejahatan yang telah mengangkangi hak dasar manusia.

***

Sehari setelah pemilu, saya memilih diam. Mengambil waktu untuk merenungi apa yang telah terjadi. Membaca sebanyak mungkin berita, menghubungi teman dan handai taulan di Indonesia (orang-orang yang tidak punya hubungan dengan elit politik), juga menghubungi beberapa teman yang terlibat dengan pemilu dan dunia politik kita.

Agak sulit buat saya untuk merangkum itu semua di saat ruang dan waktu begitu membatasi.

Tapi pada akhirnya, saya kembali pada pendekatan yang amat sederhana: bertanya pada diri sendiri apakah ini sebuah kejahatan, atau tidak.

Kesimpulan saya, ini adalah sebuah kejahatan. Dan seperti kata orang-orang tua kita yang bijaksana, semua kejahatan mestilah dilawan. Tujuannya agar kebenaran muncul ke permukaan.

Selemah-lemah perlawanan, saya percaya, ada di dalam hati.

Tetapi sulit bagi kita untuk melawan, walaupun itu selemah-lemahnya perlawanan, bila kita tidak melihat ini sebagai kejahatan.

***

Kekecewaan ini bukan sikap latah. Tahun 2004 lalu saya jadi calon anggota DPR-RI dari daerah pemilihan Jakarta. Saya kalah. Tetapi saya dapat menerima hasil pemilu 2004 dan mengakui pemilihan itu, mulai dari persiapan dan pelaksanaannya, telah dilakukan secara matang dan cermat. Berbeda dengan yang terjadi di tahun ini.

Masing-masing kita punya penilaian sendiri pada proses yang baru berlangsung. Bagi yang merasa puas, silakan puas. Bagi yang merasa prihatin, seperti saya, silakan merasa prihatin.

Tidak ada ajakan untuk berbuat rusuh di balik rasa prihatin itu. Apalagi keinginan untuk membuat rakyat kecil semakin menderita.

Benar bahwa elit politik akan selalu berusaha menelikung dan memanfaatkan. Tetapi di sisi lain, masyarakat sipil juga punya independensi untuk menyuarakan pendapat dan mengorganisir diri dan kelompok untuk menyuarakan pendapatnya itu.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s