PPI: Pameran Produksi Irak

sur49

PRESIDEN Irak Saddam Hussein mengirim delegasi perdagangan ke negara-negara Arab. Delegasi ini menggelar pameran barang-barang buatan Irak. Mereka menunjukkan pada dunia internasional bahwa Irak masih bisa bernafas walau diembargo 13 tahun lamanya.

Saya mengunjungi pameran produk Irak di Damaskus hari Jumat lalu.

Tulisan bersambung ke bawah…

 

sur47

sur48

 

Tulisan ini dimuat di Rakyat Merdeka dan blog ini.

Sebelumnya, delegasi perdagangan Irak ini telah menggelar pameran serupa di Uni Emirat Arab dan Lebanon. Barang-barang yang dipamerkan mulai dari karpet Irak, kerajinan kulit (kualitas kulit Irak terkenal luar biasa hebatnya), kerajinan tembikar dan patung, sampai televisi, telepon, kulkas, ban mobil dan jam tangan dengan gambar wajah Saddam di antara angka-angka dan jarumnya yang berputar.

Mereka juga memamerkan sebuah mesin besar yang mereka sebutsweet machine. Setelah mereka panjang lebar menjelaskan, akhirnya saya tahu, sweet machine adalah mesin pembuat roti, biskuit, wafer, dan sebagainya.

Saya terharu. Untuk membuktikan negaranya masih ada, delegasi Irak ini mesti membawa mesin pembuat kue sebesar itu. Saya membayangkan, alangkah repotnya membongkar-pasang sweet machine ini.

Saya dibawa ke stand Al Man wa Salwa. Orang Irak yang mengantar saya bercerita sedikit soal jenis makanan ini. Katanya, Tuhan mengirimkan sejenis butiran dari langit di wilayah Irak bagian utara. Butiran yang hanya turun di bulan Maret itu menempel di daun sejenis pohon. Lalu diproses dan dijadikan makanan. Adonannya keras. Tapi rasanya manis. Manfaatnya untuk kesehatan banyak sekali.

“Anda bisa temukan cerita makanan ini di Al Quran,” katanya.

Tidak semua barang-barang yang dipamerkan itu seratus persen buatan Irak. Televisi dan telepon, misalnya. Sebagian komponennya diproduksi negara lain, misalnya Korea Selatan dan Jerman. Lalu dirakit di Irak. Jadilah televisi dan telepon nasional Irak.

Puas berkeliling dari satu stand ke stand lain, saya bertemu dengan sang ketua delegasi. Namanya Ahmad Al Mukhtar. Dia seorang pejabat di Deperindag Irak. Tapi dia tak menyebutkan posisi persis dirinya di departemen itu.

“Kami punya kesepakatan dengan negara-negara Arab untuk menjalin hubungan dagang. Barang-barang yang ada di sini cuma simbolisasi dari produk-produk Irak. Tentu kami punya jauh lebih banyak dari sekedar ini,” katanya.

Kata Mukhtar, embargo ekonomi menyulitkan Irak. Tetapi, mereka tak mau menyerah begitu saja. Pemerintah Irak berusaha sekuat mungkin menyediakan barang-barang kebutuhan pokok rakyat.

Mukhtar cerita soal betapa liciknya Amerika dan Inggris menghajar negeri seribu satu malam itu. Sebelum embargo 1991, Irak punya frozen asset sebesar 20 miliar dolar Amerika di berbagai bank di beberapa negara. Kini jumlah aset itu tinggal 4 miliar dolar Amerika.

“Kami dilarang menggunakan aset itu. Bahkan untuk membeli makanan buat anak-anak kami yang kelaparan,” ujar Mukhtar.

Beberapa waktu lalu, mereka diizinkan menggunakan sisa aset mereka itu. Tetapi, Amerika dan Inggris menolak mencairka duit Irak yang tersimpan di bank-bank kedua negara pongah ini. Besarnya tidak kurang dari 2 milyar dolar Amerika. Bagi Irak, jumlah itu besar sekali.

“Mereka ingin kami mati. Tapi, insya Allah tidak semudah itu.”

Saya tanya, apakah benar Prancis dan Jerman mendukung Irak karena punya kepentingan ekonomi di Irak. Kata Mukhtar, cerita itu bagian dari propaganda Amerika. Bush ingin dunia menilai dukungan Prancis dan Jerman terhadap Irak tidak murni. Padahal, Amerika Cs lah yang punya kepentingan ekonomi: petrol alias minyak.

“Kalau Anda perhatikan, semua pemimpin negara yang mau menyerang kami, George W Bush (Amerika), Tony Blair (Inggris), Jose Maria Aznar (Spanyol) dan Silvio Berlusconi (Italia) punya bisnis minyak. Mereka ingin memanfaatkan jabatan mereka untuk memperoleh minyak Irak. Setelah lengser dari kekuasaan, mereka akan kembali ke bisnis mereka, mengolah sumur minyak Irak yang akan mereka rebut hari ini,” kata Mukhtar lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s