News

Amerika Minta Bantuan Indonesia Perbaiki Citra Buruk

PEMERINTAH Amerika Serikat menerima uluran tangan Indonesia dalam menyelesaikan konflik menahun di Timur Tengah, terutama antara Israel dan Palestina. 

Permintaan bantuan untuk memperbaiki citra Amerika di hadapan dunia Muslim disampaikan Wakil Presiden AS Joseph Joe Robinette, Jr. saat menerima kunjungan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla di West Wing, White House, Washington DC, Rabu siang waktu setempat (4/2) atau Kamis dinihari WIB (5/2). 

Juga dimuat di myRMnews.

Dalam pertemuan itu, Joe Biden berkali-kali meyakinkan Kalla bahwa pemerintahan Barack Hussein Obama yang baru berusia belasan hari memang berniat sungguh-sungguh untuk memperbaiki citra mereka di panggung internasional. 

Bila kita menyimak kembali pidato Obama seusai pelantikannya sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat, tampak jelas bahwa Obama ingin menciptakan pola hubungan baru dengan dunia Islam dan negara dunia ketiga yang didasarkan pada kesamaan kepentingan atau mutual understanding dan sikap saling menghormati atau mutual respect. Obama telah menggariskan bahwa dunia Islam dan negara dunia ketiga adalah partner sejajar Amerika Serikat, bukan obyek dari kebijakan luar negeri AS yang selama ini dikenal tidak berkeadilan dan semena-mena. 

Sedemikian pentingnya saran dari pihak Indonesia untuk didengarkan pemerintah Amerika, sampai-sampai pemerintahan yang belum terbentuk dengan sempurna itu menyediakan waktu untuk mendengarkan penjelasan bagaimana caranya menghentikan konflik dan kekerasan di banyak negara yang dalam beberapa dekade terakhir sebetulnya dipicu oleh keterlibatan Amerika Serikat. 

Jusuf Kalla adalah tamu negara pertama yang diterima oleh pemerintah Oba ma sejak mereka dilantik. 

Kira-kira kata Joe Biden, seperti ditirukan Jusuf Kalla, mengenai hal ini: “Sebetulnya kami belum siap menerima tamu resmi negara. Karena pemerintahan kami belum siap. Banyak menteri yang belum dilantik. Tetapi karena Anda Wakil Presiden Indonesia, ya harus di­terima.” 

Jusuf Kalla menceritakan hasil pertemuan dengan Joe Biden di depan wartawan yang menemuinya di kamar 108 Hotel Grand Hyatt, Washington DC, beberapa saat setelah pertemuan usai. Dari cerita yang disampaikan Jusuf Kalla, juga diperkuat oleh keterangan dan penjelasan Dutabesar Indonesia untuk Amerika Serikat Sudjanan Parnohadiningrat dan Deputi Wapres bidang Kesejahteraan Rakyat Azyumardi Azra yang ikut menyaksikan pertemuan itu, diperoleh gambaran bahwa pertemuan tersebut kendati berjalan serius namun diwarnai oleh tawa canda kedua wakil presiden. Keduanya tampil sederhana dan bersahaja, tidak kaku dan tidak saling menjaga jarak serta tidak saling sok berwibawa. 

 Jusuf Kalla dan Joe Biden mengenakan pakaian yang kurang lebih sama, jas hitam dan celana hitam. Hanya dasi keduanya yang berbeda. Sebagai ketua umum Partai Golkar, Jusuf Kalla memilih mengenakan dasi berwarna kuning, warna Partai Golkar. Sementara Joe Biden bekas Senator dari Partai Demokrat yang mewakili Delaware mengenakan dasi biru, juga warna partainya.

Joe Biden bertanya apa yang menjadi penyebab kemarahan umat Muslim kepada pemerintah Amerika Serikat. Menjawab pertanyaan Joe Biden ini, Jusuf Kalla balik bertanya, apa yang menurut Joe Biden menjadi penyebab kemarahan itu? 

Joe Biden belum menjawab, Kalla sudah berkata lagi menjawab sendiri pertanyaannya. 

In my opinion (menurut pendapat saya), basically (pada dasarnya) adalah ketidakadilan yang Anda (Amerika Serikat) timbulkan (dari kebijakan) di Palestina.” 

Kalau begitu, tanya Joe Biden, “Tolong beri saran kepada kami bagaimana caranya menyelesaikan masalah kami dengan dunia Islam?” 

Jusuf Kalla pun menjawab pendek, “Ya selesaikan saja masalah Palestina dengan menghentikan ketidakadilan disana.” 

Bukan hanya Joe Biden yang gelisah dengan persoalan ini. Direktur Intelijen Nasional AS, Dennis Blair, yang bertemu Jusuf Kalla di Hotel Grand Hyatt juga memperlihatkan kegundahan serupa. Seperti Joe Biden, Blair yang menjadi pejabat tertinggi di komunitas intelijen Amerika Serikat dengan tugas utama mengkordinir semua lembaga in­telijen di negara itu pun bertanya kepada Jusuf Kalla bagaimana cara mengatasi masalah yang mereka hadapi dengan dunia Islam. 

Dan seperti kepada Joe Biden, Jusuf Kalla menyampaikan jawaban yang sama. 

Dua senator, masing-masing James Webb dari Partai Demokrat yang mewakili Virginia dan Christopher Bond dari Partai Republik yang mewakili Missouri, yang bertemu Jusuf Kalla dalam pertemuan terpisah Rabu sore, pun menyampaikan hal yang kurang lebih sama. 

“Saya bilang kepada mereka, (penyelesaiannya) sederhana saja. Selama ini Anda (Amerika Serikat) tidak berlaku adil pada Palestina. Bila Anda berlaku adil pada kasus Palestina, tidak double standard, maka sebagian besar masalah sudah teratasi,” cerita Kalla lagi, kali ini di hadapan masyarkat Indonesia di Wisma Indonesia, Washington DC, Rabu malam. 

Untuk selanjutnya, Jusuf Kalla dan Joe Biden telah bersepakat mengkoordinasikan lebih lanjut berbagai upaya untuk memperbaiki hubungan AS dan dunia Muslim itu. Dubes Sudjanan Parnohadinigrat akan menyiapkan cetak biru perdamaian di Timur Tengah yang akan digodok bersama dengan National Security Council (NSC) yang seting­kat dengan menteri kabinet. 

Hal lain yang juga ditanyakan Joe Biden dan ketiga tokoh yang juga bertemu Jusuf Kalla di Washington DC adalah mengenai keadaan ekonomi Indonesia menyusul krisis ekonomi keuangan global yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir. Menjawab pertanyaan ini Jusuf Kalla mengatakan bahwa keadaan ekonomi Indonesia tidak se­buruk yang dibayangkan pihak-pihak luar negeri. 

Kuliah Perdamaian di Hilton 

Sebelum bertemu Joe Biden, Jusuf Kalla mendapat kehormatan menjadi pembicara pertama dalam kegiatan International Luncheon yang merupakan rangkaian kegiatan National Prayer Breakfast ke-57 yang akan dilaksakan Kamis pagi (5/2) atau Kamis malam WIB. 

Dalam pidatonya yang berjudul “Crafting Peace in Indonesia: Peaceful Settlement and Reconciliation”, Jusuf Kalla bercerita tentang keberhasilan pemerintah Indonesia menyelesaikan konflik di beberapa daerah di Indonesia, seperti Aceh, Maluku, Poso dan Papua. 

Keadilan dan pembangunan ekonomi yang merata, sebut Jusuf Kalla, adalah faktor penting yang mendukung perdamaian. Jurang ekonomi, ketidakadilan sosial dan ketidakadilan politik tidak hanya mendorong ke arah konflik sosial, namun lebih jauh dapat melahirkan perang saudara. 

Di sisi lain dia juga mengatakan bahwa ada fenomena dimana agama digunakan sebagai alat untuk memperburuk konflik. 

Cerita Kalla, di saat dirinya masih menjabat sebagai Menko Kesra di era pemerintahan yang lalu, dia sering berhadapan dengan pemuka agama yang terlibat konflik dengan kelompok penganut agama lain. Kalla mengecam pemuka-pemuka agama seperti itu, yang diistilahkannya sebagai orang yang menjual surga dengan harga yang sangat murah. 

“Mereka terkejut saat saya katakan bahwa mereka tidak akan menuju surga, sebaliknya menuju neraka bila tetap mendorong umat beragama untuk saling bertikai. Mendengar ketegasan seperti ini, pemuka agama banyak yang menyadari dan kemudian meninggalkan sikap fundamental mereka, dan mau duduk bersama untuk mencapai kesepakatan damai,” ujar Kalla sambil menambahkan upaya menyelesaikan konflik hanya dapat dilakukan oleh figur dan kelompok yang memang tidak berpihak dan dapat dipercaya serta menempatkan integritas moral di atas segalanya.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s