Pidato Terlarang: Pertama Sejak Soeharto Tumbang

sampul-ptrr

PADA mulanya sederhana saja. Sekitar pertengahan Agustus 2007, DR Rizal Ramli punya gagasan menyambut ”100 Tahun Kebangkitan Nasional” yang jatuh pada 2008.

Ekonom senior yang punya bekal politik gerakan sejak mahasiswa (ITB) ini, yang prihatin atas kemunduran sangat seirus perekonomian rakyat, ingin mengambil momentum ”100 Tahun Kebangkitan Nasional” untuk menggugah kesadaran masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan yang akut.

Pengantar: Jalan Lama Membungkam Oposisi
Oleh: Adhie M Massardi

Maka pada 31 Oktober 2007, di gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, dideklarasikan Komite Bangkit Indonesia (KBI). Selain aktivis pergerakan dan pimpinan organisasi kepemudaan dan mahasiswa, dihadiri pula dalam acara itu tokoh-tokoh nasional sekaliber Prof Dr Amien Rais, Jenderal TNI (Pur) Wiranto, Taufik Kiemas, Prof Dr Syafi’i Ma’arif, Jenderal TNI (Pur) Try Soetrisno, Yenny Wahid, pimpinan berbagai organisasi keagamaan, para analis politik, dan lain-lain.

Setelah sambutan para tokoh yang umumnya setuju agar bangsa ini dibangkitkan dari keterpurukan, DR Rizal Ramli menguraikan pandangan dan gagasannya untuk meningkatkan tarag hidup dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Yaitu, mengganti ”jalan (ekonomi) lama” yang sudah dijalankan selama 40 tahun dan tidak membawa bangsa Indonesia ke mana-mana, dengan ”Jalan Baru” yang anti-neoliberal, jalan ekonomi yang konstitusional, sesuai amanat UUD 1945.

Akan tetapi karena yang hadir lebih banyak tokoh politik, deklarasi KBI terasa menjadi seperti acara politik. Atmosfir pencerahan nyaris tenggelam. Apalagi Franky Sahilatua, penyanyi balada itu, kemudian mendendangkan lagu: ”Aku Ingin Presiden Baru…!” Sejak itu, oleh penguasa, DR Rizal Ramli dianggap telah berseberangan, dan bersikap oposan. Maka munculah selentingan tentang akan dicopotnya DR Rizal Ramli dari posisinya sebagai Presiden Komisaris (BUMN) PT Semen Gresik.

Meskipun sudah mendengar ”ancaman” itu, mantan Menko Ekonomi ini terus melakukan road show ke sejumlah daerah untuk menyosialisasikan dan menggemakan ”Jalan Baru, untuk Indonesia Lebih Baik”. Hal ini dilakukan, sebenarnya, lebih untuk membekali masyarakat guna menghadapi pemilu 2009. ”Dengan memahami persoalan bangsanya, dan tahu solusinya, rakyat bisa menentukan pilihannya secara lebih rasional,” begitu alasan DR Rizal Ramli.

Karena luasnya wilayah Indonesia, padahal dan waktu sangat terbatas, melahirkan gagasan terobosan. Maka pada 24 April 2008, di Wisma PKBI, Jakarta Selatan, digelar pertemuan nasional, yang dihadiri tokoh pemuda, mahasiswa dan aktivis pergerakan. Tujuannya, agar setelah mendengar gagasan ”Jalan Baru”, ditambah berdialog langsung dengan DR Rizal Ramli, para peserta bisa menjadi semacam ”agen” dalam ”memasarkan” Jalan Baru di daerahnya masing-masing.

Meskipun secara umum materi yang disampaikan DR Rizal Ramli di Wisma PKBI sama dengan yang disampaikan pada acara deklarasi (KBI) di gedung Perpustakaan Nasional, dan di tempat-tempat lain, tapi nuansanya memang berbeda. Maklum, bila forum kaum muda, lebih-lebih bila mayoritas pesertanya aktivis, tanpa diselingi sentilan politik aktual yang menantang akan terasa ”garing”. Tapi di era demokrasi, mengeritik penguasa bukan barang haram. Apalagi pertemuan di Wisma PKBI itu sudah dilengkapi ijin kepolisian.

Persoalan menjadi ”rumit” ketika setelah itu, pemerintah mengumumkan rencana kenaikan harga BBM dengan ”santai”, tanpa mau melihat penderitaan yang sedang dialami rakyat saat itu akibat kenaikan harga-harga kebutuhan hidup. Akibatnya, meletuplah demonstrasi hampir di seluruh Tanahair. Beberapa di antaranya diwarnai bentrokan dengan aparat kepolisian.

Penguasa lalu menuduh semua gerakan menentang kenaikan harga BBM yang berlangsung selama Mei-Juni 2008 itu, diprovokasi atau dihasut oleh ceramah DR Rizal Ramli di Wisma PKBI. Padahal semua media massa, setiap hari, semua negara di dunia yang menaikan harga BBM melahirkan gelombang aksi massa menentang. Padahal tidak ada sepotong pun orang Eropa yang ikut hadir dalam pertemuan 24 April 2008 itu.

Buku kecil yang berada di tangan Anda sekarang ini, adalah transkrip ceramah DR Rizal Ramli, yang 9 bulan setelah diucapkan, dipakai Mabes Polri sebagai basis mendakwa DR Rizal Ramli sebagai TERSANGKA ”penghasut” dan melanggar Pasal 160 KUHP yang ancaman hukumannya 6 tahun.

Ancaman hukuman ini bisa menjadi ganjalan serius DR Rizal Ramli sebagai calon presiden. Yang jelas, proses pemeriksaannya saja, yang ber hari-hari, entah sampai kapan, telah menyita untuk konsolidasi politik dengan partai-partai pendukung. Maklum, DR Rizal Ramli sudah didukung Partai PBR, PPPI, PNBK Indonesia, dan beberapa lagi menyusul.

Mungkinkah kasus aneh begini, tidak mengandung muatan politiknya? Apakah bukan merupakan bagian dari cara membungkam lawan-lawan politik?

Kalau itu yang terjadi, maka inilah ”jalan lama” itu, jalan yang pernah dipakai penjajah Belanda untuk membungkam Bung Karno dkk di masa pra-kemerdekaan, membungkam penentang Orba pasca-kemerdekaan, dan sekarang di era demokrasi…!

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s