Barack Obama, Notes

Gedung Putih Mengundang, Yati Akhirnya Memilih Tak Datang

theinvitation

YATI pantas berbesar hati. Sepucuk undangan dari Gedung Putih diterimanya beberapa pekan lalu. 

Ini jelas bukan undangan biasa. Di pojok kiri atas sampul undangan berwarna putih gading itu tertulis: The Presidential Inaugural Committee, Washington DC, 20599. Di bagian tengah tertulis namanya: Rohayati Paseng, diikuti alamat rumahnya di Honolulu, Hawaii. Sementara di bagian bawah kiri sampul undangan itu tertulis dengan huruf kapital kalimat “handle with care“.

Awalnya Yati tak terlalu peduli dan ia membiarkan undangan itu tergeletak di atas meja kerjanya. Sampai beberapa hari kemudian hatinya tergerak dan ia memberanikan diri membuka sampul undangan. 

Di bagian atas undangan terdapat lambang pelantikan presiden Amerika Serikat dengan tinta emas  bertuliskan Inauguration of President and Vice President yang melingkari gambar atap Capitol Hill dan burung elang dengan sayap terbentang dan kaki mencengkeram bendera Amerika Serikat. Di bawah bendera tertulis angka 2009.

Di bagian undangan tertulis kalimat berwarna emas: The Presidential Inaugural Committee request the honor of your presence to attend and participate in the inauguration of Barack H. Obama as President of the United States of America and Joseph R. Biden, Jr. as Vice President of the United States of America, on Tuesday of the twentieth of January two thousand and nine in the City of Washington.

“Tadinya saya kira ini undangan palsu,” katanya.

Suaminya, Ross, dan teman-temannya, termasuk seorang anggota Partai Republik yang pernah menerima undangan serupa saat George W. Bush dilantik sebagai presiden Amerika Serikat, berkali-kali meyakinkan Yati bahwa itu adalah undangan asli.

Tapi Yati masih ragu.

dsc00402

Foto: Yati (kaos hitam) bersama Effendi Gazali (paling kanan) dalam syukuran kemenangan Obama di kediaman Yati di Honolulu, November 2008.

Keraguan Yati baru sirna sama sekali setelah ia menyaksikan Donna Brazile, penulis dan aktivis yang berafiliasi dengan Partai Demokrat memperlihatkan undangan serupa dalam sebuah talkshow di CNN. Donna adalah salah satu nama besar di panggung politik dan akademia Amerika Serikat. Ia diakui sebagai salah seorang aktivis yang ikut berperan dalam kampanye menjadikan hari kelahiran Martin Luther King, Jr., aktivis persamaan HAM yang tewas dibunuh tahun 1968, sebagai hari libur federal. Dalam talk show itu Donna mengatakan dirinya menerima undangan pelantikan Obama. Dan sang pemandu talk show lantas meminta Donna memperlihatkan undangan itu. 

Saat Donna memperlihatkan undangan yang diterimanya, Yati yang kebetulan sedang menonton talk show itu bersama suaminya di apartemen mereka di kawasan University Avenue bersorak riang.

Lahir dan besar di Indonesia, sejak 12 tahun lalu Yati menjadi warga negara Amerika Serikat. Yati yang pernah mengecap pendidikan di Cornell University bersama pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Gazali, adalah salah seorang librarian di University of Hawaii at Manoa (UHM).

Yati tak tahu pasti mengapa dirinya mendapatkan undangan pelantikan Obama. Kemungkinan besar, sebut Yati, karena dirinya termasuk dalam kelompok orang yang memberikan dukungan kepada Obama di awal masa pencalonan diri Obama sebagai presiden Amerika Serikat di akhir tahun 2006.

Kata Yati, dirinya merasa simpati dengan Obama yang dipojokkan oleh politisi senior Partai Demokrat yang juga mencalonkan diri. Mulai dari Hillary Clinton sampai Joe Biden. Mereka memandang sinis pada Obama yang menurut mereka belum punya pengalaman yang cukup untuk mengincar kursi presiden. Maklumlah, ketika itu Obama baru dua tahun duduk di kursi senator. Hal lain, karena Obama berasal dari kelompok minoritas, keturunan Afrika.

“Sombong sekali mereka berani memandang rendah orang lain,” ujar Yati mengenang masa-masa itu.

Yati memberikan donasi sebesar 50 dolar AS kepada tim kampanye Obama. Itu adalah donasi pertamanya. Total donasi yang diberikan Yati kepada Obama sampai Obama terpilih sebagai calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat pun tak terbilang besar. Hanya 170 dolar AS.   

Setelah Obama dikukuhkan sebagai capres dari Partai Demokrat, Yati berhenti memberikan donasi. Bukan karena ia tak lagi mendukung Obama, tapi karena dia yakin saat itu uang sudah tidak lagi menjadi isu utama dalam kampanye Obama. 

Seperti banyak orang, Yati menilai bahwa pemilihan presiden Amerika Serikat selesai setelah Obama mengalahkan saingan utamanya Hillary Rodham Clinton. 

Apakah bukan Maya Soetoro-Ng, adik Barack Obama, yang meminta kepada kakaknya agar Yati diundang? Seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia yang berafiliasi dengan UHM Yati memang mengenal Maya Soetoro-Ng yang juga alumni UHM. Tetapi Yati yakin, Maya sama sekali tidak mempengaruhi panitia pelantikan untuk mengundangnya.

“Maya bukan orang yang suka menggunakan posisi untuk mempengaruhi. Saya menghormati hal itu,” ujar Yati yang mengenal Maya jauh sebelum ia tahu bahwa Obama adalah kakak Maya.

Sayangnya Yati tidak dapat menghadiri pelantikan Obama. Dengan undangan yang diterimanya itu, ia sebetulnya punya akses ke semua mata acara pelantikan, mulai dari makan siang sampai menyaksikan  Barack dan Michelle Obama berdansa di Ball Room White House.

Dan di hari Selasa, 20 Januari 2009, Yati menghabiskan waktunya menonton pelantikan Obama di layar kaca. 

“Undangan ini akan saya bingkai. Bagi saya nilai emosionalnya sungguh tak ternilai,” demikian Yati.

Standard

2 thoughts on “Gedung Putih Mengundang, Yati Akhirnya Memilih Tak Datang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s