Agar Bukan Dewa Mabok yang Berkuasa

dsc00626

INDONESIA dapat memetik beberapa pelajaran berharga dari pemilihan presiden Amerika Serikat sehingga yang menang dalam pemilihan umum dan pemilihan presiden tahun depan bukan dewa mabok.

Pelajaran pertama dari Barack Obama yang menang dalam pemilihan presiden AS adalah kemampuannya meyakinkan publik bahwa dirinya akan mengambil kebijakan yang berbeda dari kebijakan yang sedang dan telah dilakukan pemerintahan Bush juga dari kebijakan yang mungkin akan diambil John McCain.

Pakar komunikasi politik Univeritas Indonesia (UI) Effendi Gazali yang datang ke Chicago, Illinois, untuk melihat langsung proses pemilihan presiden AS, menyarankan politisi Indonesia untuk meniru kampanye Obama yang fokus membicarakan substansi kebijakan dan tidak pernah menyerang hal-hal yang sifatnya personal.

“Kita tidak pernah melihat Obama melakukan personal attacking campaign. Dia melakukan kampanye yang komparatif, membandingkan kebijakan yang akan diambilnya dengan kebijakan incumbent dan saingannya,” kata Effendi Gazali di Hawaii akhir pekan lalu.

Penasihat presiden dalam program parodi politik “Republik Mimpi 0914” ini menyempatkan diri singgah di kampung halaman Obama, Hawaii, setelah menyaksikan pemilihan presiden AS di Chicago dan Washington DC. Dalam kunjungan ke Hawaii Effendi juga bertemu dengan Profesor Alice Dewey dari University of Hawaii, salah seorang kerabat keluarga Obama.

Foto: Prof. Alice Dewey (baju merah) bersama para tamunya, dari kiri ke kanan: Wawan H. Purwanto, Johan O. Silalahi, Effendy Gazali, Ahmad Ubaedillah, Rohayati Paseng, dan well, Teguh.

“Kalau tidak pernah fokus pada kebijakan, maka semua kandidat maju seperti dewa-dewa yang memuji diri sendiri, memuji partai sendiri, dan ternyata mereka itu dewa mabok,” ujar Effendi lagi.

Kemenangan Obama, sebut Effendi lagi, juga memperlihatkan kemampuan komunikasi politik Obama yang di atas rata-rata. Komunikasi politik ini didukung oleh tim yang benar-benar bekerja dengan tujuan memenangkan Obama.

“Awalnya banyak orang yang meragukan Obama. Tetapi tim kampanye Obama yang dipimpin David Plouffe itu memang luar biasa. Pantas kalau kemudian Obama mengucapkan terimakasih kepada David dalam acceptance speech-nya,” ujar Effendi lagi.

Adapun Obama, sambung Effendi, betul-betul mempersiapkan diri sejak awal, sejak dia aktif sebagai pekerja sosial di Chicago, lalu menulis dua buku yang sangat memukau, Dreams from My Father dan Audacity Hope, kemudian masuk Senat dan mencalonkan diri sebagai presiden.

“Langkah yang benar-benar berkeringat dan disiapkan sedemikian rupa. Ini juga pelajaran buat kita agar tidak ada orang ujug-ujug mau jadi presiden, hanya karena banyak uang dan bisa pasang iklan.

Dua hal lain yang juga menarik dalam pemilihan presiden AS berkaitan dengan transparansi dana kampanye dan hari tenang menjelang pencoblosan.

Aturan mengenai transparansi dana kampanye di Indonesia masih di atas kertas. Belum pernah ada penyelidikan kandidat yang didiskualifikasi karena melakukan pelanggaran dana kampanye, walaupun melanggar peraturan. Media massa, misalnya, pernah memberitakan tentang penyumbang fiktif dana kampanye seorang calon gubernur. Tetapi laporan itu tidak pernah diusut.

Adapun masa tenang menjelang pencoblosan suara, menurut penilaian Effendi, adalah peraturan yang munafik. Karena pada praktiknya, masa tenang menjadi masa yang paling tidak menenangkan. Beberapa penelitian yang dilakukan memperlihatkan bahwa masa tenang justru digunakan banyak kandidat sebagai masa untuk melakukan operasi beli suara dan tindakan terlarang lain yang memungkinkan kemenangannya secara tidak fair.

Di AS tidak ada masa tenang. Semua kandidat diberi kesempatan berkampanye dan memasang iklan di televisi sampai hari pencoblosan. Yang tidak boleh adalah membawa atribut kandidat ke TPS. “Mungkin untuk Indonesia tepatnya hanya pada hari pemilihan saja tidak ada iklan politik di telvisi.”

Sementara Presiden Lembaga Riset Informasi (LRI) Johan O Silalahi yang juga ikut dalam kunjungan ke Hawaii menyoroti tirani dan praktik politik oligarkis yang diperlihatkan dalam UU Pilpres. Syarat kandidat presiden memperoleh dukungan dari 20 persen kursi di DPR dan 25 persen suara dalam pemilihan legislative menurutnya telah memperkecil peluang tokoh-tokoh lain yang juga berkualitas untuk mencalonkan diri. Di sisi lain, ini juga menutup kesempatan publik mengetahui kualitas terbaik para tokoh dan figur.

“Dengan aturan ini, kelihatannya hanya PDIP dan Golkar yang sudah pasti bisa mencalonkan kandidat mereka. Sementara PKS, harus lihat-lihat dulu,” sebut Johan.

Dia menambahkan, riset yang dilakukan LRI memperlihatkan bahwa kini publik Indonesia semakin siap menghadapi pemilihan presiden. Publik tidak lagi menganggap wacana Jawa dan non-Jawa, atau militer dan sipil, juga tua dan muda, sebagai isu utama dalam pemilihan. Yang dibutuhkan publik adalah figur yang sungguh berkualitas. Dan figur yang berkualitas ini tidak bisa tampil bila aturan main tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk tampil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s