Status Wali Nanggroe Aceh Dibicarakan di Hawaii

MENJELASKAN posisi Wali Nanggroe dalam peta sosial-politik Aceh pasca perjanjian damai Helsinki jelas merupakan pekerjaan yang tak mudah.

Apalagi, kesepakatan damai yang ditandatangani pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tanggal 15 Agustus 2005 lalu tidak menyebutkan secara rinci apa dan bagaimana rupa lembaga Wali Nanggroe.

Tulisan ini sambungan dari tulisan sebelumnya: Membongkar Perjuangan Hasan Tiro.

Poin ketujuh dari butir pertama MoU perdamaian itu yang mengatur mengenai penyelenggaraan pemerintahan Aceh hanya menyebut bahwa “Lembaga Wali Nanggroe akan dibentuk dengan segala perangkat upacara dan gelarnya.”

Dari kalimat ini tampaknya Wali Nanggroe hanya diposisikan sebagai bagian dari kebudayaan dan tradisi masyarkat Aceh.

Padahal secara historis Wali Nanggroe justru merupakan pusat dari ideologi GAM. Hasan di Tiro yang mendeklarasikan kemerdekaan Aceh pada tanggal 4 Desember 1976 menggunakan klaim historis yang ditarik ke masa pemerintahan Wali Nanggroe Tengku Syeh Muhammad Saman yang juga dikenal dengan nama Tengku Cik di Tiro antara tahun 1874 hingga 1891.

Saat mendeklarasikan kemerdekaan Aceh di tahun 1976 itu, Hasan di Tiro juga mendeklarasikan dirinya sebagai Wali Nanggroe yang mewariskan kekuasaan dari pamannya, Tengku Maat di Tiro yang tewas ditembak Belanda tanggal 3 Desember 1911.

Kini DPRD NAD tengah membahas rancangan kanun (peraturan daerah) Wali Nanggroe. Kedatangan Hasan di Tiro ke Aceh bulan Oktober ini pun antara lain dimaksdukan sebagai bagian dari upaya Pansus Kanun Wali Nanggroe untuk mencari “bentuk baru” lembaga Wali Nanggroe setelah kedua pihak yang bertikai selama tiga dekade sepakat untuk berdamai.

Perihal apa dan bagaimana rupa Wali Nanggroe yang disepakati pemerintah Indonesia dan pihak GAM juga sempat menjadi sorotan dalam konferensi internasional bertema “Aceh Beyond Tsunami” yang diselenggarakan di kompleks East West Center (EWC) di Honolulu, Hawaii (Selasa, 21/10).

Konferensi ini digelar oleh Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias) cabang Hawaii dan Asosiasi Internasional Mahasiswa Aceh, serta East West Center dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), serta sejumlah organisasi lain.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar Raniry, Prof. Yusni Saby, juga membenarkan bahwa upaya mendefinisikan posisi Wali Nanggroe memang bukan hal mudah. Setelah kesepakatan damai tercapai, sebutnya, satu-satunya jalan yang tersedia untuk menentukan bentuk dan sifat Wali Nanggroe adalah lewat parlemen daerah dengan persetujuan pemerintah pusat.

“Ini bukan perkara yang mudah. Bahkan di antara orang Aceh sendiri. Kami sungguh berharap bisa menemukan definisi yang tepat mengenai Wali Nanggroe ini,” katanya saat berbicara di dalam konferensi.

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri, Andri Hadi, juga sependapat dengan Prof. Yusni Saby.

Wali Nanggroe sampai sekarang masih jadi isu yang kontroversial, bahkan di kalangan politisi Aceh, katanya.

“Beberapa kalangan menilai Wali Nanggroe harus memiliki power atau kekuatan, bahkan termasuk dalam hal memberhentikan gubernur Aceh bila dianggap melakukan sesuatu yang salah. Sementara pandangan lain menilai Wali Nanggroe adalah bagian dari budaya yang ditinggalkan kerajaan Aceh. Jadi ia lebih merupakan bagian dari kegiatan seremoni atau upacara,” ujar Andri lagi.

Andri dan Yusni sepakat, semua pihak yang menginginkan perdamaian abadi di Aceh harus duduk bersama dan membicarakan hal ini dengan serius.

Pada bagian lain, baik Prof. Yusni yang juga mewakili pemerintah Aceh maupun Andri merasa bersyukur karena Hasan di Tiro telah meminta seluruh rakyat Aceh mendukung deklarasi damai tersebut.

4 thoughts on “Status Wali Nanggroe Aceh Dibicarakan di Hawaii”

  1. “innalillahi wainna ilaihi raji’un”
    “wali”…engkau telh membuka hati anak bangsa….kini engkau tlah pergi,…pesan mu selalu kmi jaga,…selamat jalan wali….dunia mu adalah dunia kami…dan perjuangan mu adalah perjuangan kami …trimakasih wali…suatu saat nanti akan ada yg menggantikan drimu,…percayalah…..! *Putra Aceh*

  2. pat beda wali nanggroe ngon wali kota?
    dimanakah perbedaan antara wali nanggroe dengan wali kota?

  3. aleh bak pat di cok seujarah na wali naggroe….. Aceh nyang na sultan kon wali nanggroe…
    (entah dimana diambil sejarah wali negeri… Aceh yang ada sultan bukan wali negeri)
    sejarah yang benar bahwa… pada saat sultan bersama kerabat dan panglimanya melarikan diri dari kejaran belanda, sultan dan panglima polem membuat base pemerintahan di Tiro, semua ulee balang di pidie dikumpulkan beserta pasukan-2 mereka untuk melindungi sultan, karena base nya di tiro maka pimpinan keamanan lokasi di pegang oleh ulee balang tiro dan Tengku Syeh Muhammad Saman adalah tengku kadi atau tuan hakim yg bertugas membantu ule balang memimpin persidangan hukum syariah. selain itu Tengku Syeh Muhammad Saman juga sebagai ulama dayah tiro,
    Namun pimpinan perang tetap dibawah komando Panglima Polem….
    tidak benar sultan memberikan mandat wali nanggroe pada Tengku Syeh Muhammad Saman, Cap sikureung (cap sembilan)/ stempel pemerintahan sultan aceh tidak pernah diberikan kepada Tengku Syeh Muhammad Saman, karena stempel pemerintah sultan dipegang oleh keluarga sultan yang ikut melarikan diri ke tiro tsb.
    namun apa daya wilayah pidie dan tiro akhirnya berhasil di kuasai belanda setelah melewati pertempuaran yg berbulan-2.
    pada saat terjepit Sultan beserta keluarga dievakuasikan lagi ke wilayah Gayo melalui wilayah ujung rimba sampai pada akhirnya Sultan Muhammad Daud Syah Ditangkap oleh Belanda pada 1903, dan dibuang beserta keluarga inti dan abdi-2 kerajaan ke batavia (jakarta), perlu di ingat walaupun sultan telah ditangkap sultan masih memimpin perjuangan aceh dari tempat dibuangnya, dimana sultan tetap berkomunikasi dengan keluarga sultan yg tertinggal diaceh untuk menyusun strategi penyerangan baru di masing-2 wilayah sagoe dan mukim… makanya perang melawan belanda tidak pernah usai sampai belanda kalah dari jepang.
    Sultan Muhammad Daud Syah memiliki anak laki-2 yang menjadi sultan setelah beliau mangkat namun prosesi pengangkatan ini hanya meliputi keluarga sultan dan para abdi-2 sultan berikut para pemimpin-2 wilayah yang sengaja mewakili pemimpin lainya di batavia.
    keturunan sultan ini masih ada sampai saat ini namun saja pihak keluarga sultan tidak pernah menuntut hak mereka atas dasar tidak ingin terjadinya revolusi sosial yang dapat memecah belah rakyat aceh. karena sudah pernah terjadi seperti perang cumbok yang memakan banyak korban dari orang aceh sendiri oleh karena itu sampai saat ini keluarga sultan yang asli tidak ingin kasus perang cumbok itu terjadi lagi…. sangat bijaksana bukan?
    asal tahu saja mantan gubernur aceh sebenarnya ingin mengangkat kembali pelurusan sejarah ini…. hanya saja pemerintahannya tidak berlanjut….

    satu hal lagi… Dalam pemerintahan kerajaan aceh, sistem administrasi pemerintahan sudah baik, dimana semua peraturan dan keputusan sultan di piagamkan dengan tanda tangan sultan dan stempel kerajaan (cap sikureung).
    semua mungkin lupa bahwa ulee balang atau hulu balang, panglima, bintara dan laksamana, di angkat dan dipilih oleh sultan dengan piagam tertulis (surat keputusan sultan) dengan dibubuhi stempel cap sikureung pada piagam SK masing2 ule balang, panglima, bintara dan laksamana, dan berikut teritory wilayah yang telah ditentukan oleh sultan, dan ketika pemimpin-2 tersebut meninggal dunia maka putra pemimpin2 tersebut menggantikan kedudukan org tuanya namun mereka harus menyerahkan kembali piagam terdahulu kepada sultan dan kemudian sultan akan membuat SK pengangkatan baru… begitu semestinya….

    Coba minta ditunjukan sama keturunan Tengku Syeh Muhammad Saman apakah mereka memiliki piagam itu??? kalo gak ada berarti bual dong….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s