10 Tahun Reformasi: Tak Mungkin NU dan Muhammadiyah Bisa Bekerja Sama

Oleh: Djoko Edhi S. Abdurrahman

SAMPAI di scene ini, meski atas nama Rasulullah dan sesama Sunni, saya tak yakin NU dan Muhammadiyah bisa bekerjasama. Sebab, sejarah belum pernah mencatat sukses kerja sama seperti itu, terhitung sejak tragedi Komite Hejaz tahun 1925 yang dipimpin KH Achmad Dahlan (dedengkot Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy’ari (dedengkot NU).

Yaitu, proyek penyampaian proposal kepada kandidat Amirul Mukminin, Raja Saudi, King Ibnu Saud — kandidat Putera Mahkota Khilafat Islam versi Dewan Mahkamah Agung Islam terakhir (1924) — ialah kakek King Abdullah kini, agar Khalif tak mengubah fatwa untuk Islam Hindia Belanda.

Karena rasa takut utamanya hadir dari penglihatan, saya yakin tak seorang tokoh pun mampu melaksanakan program reformasi yang dilakukan Gus Dur itu. Mengusir ABRI dari parlemen, birokrasi, dwi fungsi, kembali ke barak, melikuidasi sarang KKN, Depsos, dan ujung tombak politik represif Orba, Deppen, mengembangkan HAM yang membebaskan eks Tapol PKI, dst. Untunglah Gus Dur tak pernah melihat bagaimana roman menakutkan jutaan orang yang gusar itu kepadanya.

Juga dimuat disini.

Namun yang terbit kelak, fatwa yang menganakemaskan Wahabi, tamat ketika proyek Khilafat Islam itu dikubur sendiri oleh Ibnu Saud atas desakan Détente, sekutu pemenang Perang Balkan (PD-I) atas Entente (Ostmany + Jerman) yang diatur oleh Traktat Versailles yang sangat merugikan Entente; yang membuat Hitler mengganyang habis Yahudi, arsitek Versailles itu.

Merasa diperlakukan tak adil, dimulai dengan perseteruan Wahabiyah versus Asy’ariyah, Hasyim Asy’ari ke luar dari “sekoci bersama” bernama Muhammadiyah itu, dan mendirikan NU tahun 1926. Sampai kini tetap talak tiga.

Merujuk sejarah itu, dialektis yang dilakon Amien Rais cocok mujid-nya, ‘illat versus ma’lul, ba’its versus mujib, maka as-sababiyyah-nya pun bukan membantu Gus Dur. Tapi sebaliknya, ia dulang opportunity dengan cara mengubah kondisi kritis Gus Dur menjadi blessing in disguise untuk kepentingan politiknya dan menghasilkan duet Amien Rais (Capres) – Susilo Bambang Yudhoyono (Cawapres) yang bubar dengan alasan remeh temeh (Rasulullah dilawan, sic! ).

Kedengkian terbawa dari sononya pula. Sebab, saya tak temukan proses islah. Jadi, Bulog Gate, dramaturgi miss-management Rp 30 miliar itu bukan didesain ke deponeering litigasi yang tersedia dalam opsi-opsi ushul fiqh sebagaimana kaidahnya untuk memenuhi amanat Madani.

Melainkan ke ranah pembantaian, di-blow-up, “blup”, lalu digiring ke “Peradilan Senayan” memakai power kekuasaan legislative heavy MPR yang tengah uforia arogansi penggulingan diktator Orba.

Coba ingat lagi fase moral sebelum itu, para pemimpin RI — naik menggunakan kriterium ahklak, menjadi penguasa reformasi ketika mereka belum kaya, mewakili akhlak, baik Gus Dur maupun Amien Rais — sedang berubah sangat cepat dan menakutkan ketika Madani terbunuh.

Saya masuk PAN sebelum itu, terperdaya oleh dua frasa dalam bahasa promosi Amien Rais yang indah: (i) Madani, dan (ii) Tauhid Sosial yang, sejak Gus Dur lengser, tak pernah lagi disebut.

Sidang Istimewa MPR menghabisi Gus Dur dengan cara memalukan, walau pengadilan menyatakan ia tak bersalah. Tentu saja, tak pantas Gus Dur dihinakan seperti itu, setidaknya karena ia bukan pendosa Reformasi, bahkan telah menjadi korban tirani kekuasaan sepanjang Orba beserta keluarga NU-nya, paradoks dengan keluarga Muhammadiyah.

Dengan bahasa politik efumisme Orba, mengapa Antum tak berpikir, bahwa dalam kondisi sudah buta pun, Gus Dur masih rela mengabdikan diri untuk menerima jabatan presiden, tatkala semua orang tak berani memangku jabatan tersebut, termasuk Amien Rais dan Megawati.

Bagaimana pun hebatnya Gus Dur, ia tak lebih dari manusia dengan empat indera. Toh, dengan kesadaran penuh, parlemen, termasuk Amien Rais dan Islam Poros Tengah, mengangkat manusia empat indera itu jadi Presiden RI yang ke III. Aneh, ketika merespon kesalahan pada Dramaturgi Bulog Gate, tak tampak kesadaran “empat indera” itu pada manuver orang-orang yang dulu mengangkat Gus Dur sebagai “presiden dengan empat indera”. Sadis! Bersambung

One Reply to “10 Tahun Reformasi: Tak Mungkin NU dan Muhammadiyah Bisa Bekerja Sama”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s