DJUWARTO senang bila duet Mega dan Sri Sultan Hamengkubuwono X sungguh dapat diwujudkan.
Djuwarto adalah ketua DPD Jogjakarta PDI Perjuangan. Ia menjadi ketua DPD PDIP yang paling dicari-cari wartawan di arena Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III PDIP di Makassar setelah nama Sultan Jogja difavoritkan sebagai tokoh yang paling pantas mendampingi Mega dalam Pilpres 2009.
Rakernas III memang tidak membahas nama calon wapres untuk Mega secara spesifik. Namun pertimbangan dan rekomendasi yang disampaikan pengamat politik Sukardi Rinakit di depan peserta Rakernas III Selasa malam (27/5) cukup menjadi petunjuk yang kini dipertimbangan oleh pengurus partai itu di daerah-daerah. Termasuk, dan sudah barang tentu, dipertimbangakan pengurus PDIP di Jogjakarta.
Awalnya Djuwarto tak mau terus terang menyampaikan sikapnya.
“Kalau sudah diputuskan DPP lewat Rakernas IV di Solo, tentu kita harus mengikuti dan siap mendapatkan perintah partai. Kalau pencalonan kemarin belum menunjuk nama. Baru kriteria. Pak Pram (Sekjen PDIP) bilang keputusannya di Rakernas IV,” katanya usai penutupan Rakernas.
Namun akhirnya, ia terpancing juga untuk menguraikan lebih lanjut pandangan-pandangannya mengenai kemungkinan duet Mega dan Raja Jawa ini.
Dia mengaku dirinya sudah terbiasa dengan Sultan. Dan karenanya, Djuwarto senang bila Sultan dipilih sebagai pendamping Megawati.
“Tinggal bagaimana kita menggolkan (duet itu) agar berhasil,” kata dia lagi.
Djuwarto juga merujuk pada hasil riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menempatkan Sultan sebagai tokoh terkuat ketiga dalam pemilihan presiden.
Kenyataan ini, sambung dia, tentu akan berpengaruh cukup baik dan signifikan bagi kemenangan Mega.
Sekarang persoalannya adalah, apakah Mega yang melamar Sultan, atau Sultan yang minta dilamar.
Menurut hemat Djuwarto, sebaiknya kedua tokoh itu tidak saling melamar. Yang perlu untuk dilakukan keduanya adalah saling menjaga komunikasi.
“Kalau nanti ada kecocokan, beliau-beliau akan berkomunikasi. Yang jelas di antara keduanya ada ikatan ideologi. Beliau-beliau ini kan ketika masih kecil hubungannya juga sudah baik. Kebetulan Ibu Mega pernah di Jogja. Saya yakin, beliau-beliau kalau memang ingin saling anu akan saling komunikasi,” demikian Djuwarto.
