BARU saja saya dan beberapa teman berdiskusi ngarol ngidul di dapur, dan sempat menyinggung nama Kwik Kian Gie. Kemana dan ngapain gerangan beliau selama setahun terakhir ini?
Eh, begitu sampai kamar dan baca berita di internet, ketemu kabar Kwik Kian Gie hendak melaporkan Menteri Keuangan Sri Mulyani ke KPK. Kwik menilai Ani tak transparan memperlihatkan dana hasil penjualan minyak yang disetorkan Pertamina ke pemerintah.
Kwik tetap dengan pendapatnya yang sejak lama sudah berulang kali dia katakan: pemerintah tak perlu menaikkan harga BBM, karena faktanya Indonesia mengeruk untung besar dari kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional.
Berikut berita yang saya kutip dari situs Harian Rakyat Merdeka. Sayang sekali, Anda yang tidak berlangganan tidak bisa membaca langsung ke situs itu. Kalau mau langganan mudah saja, ketika http://www.rakyatmerdeka.co.id, lalu ikuti petunjuk-petunjuknya.
Selamat membaca.
Ngumpetin Setoran Duit Minyak, Kwik Laporkan Menkeu Ke KPK
Senin, 21 April 2008, 03:57:21
BEKAS Menko Ekuin Kwik Kian Gie menganĀcam akan melaporkan Menteri KeĀuangan Sri Mulyani ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menkeu dinilai tak transparan mengelola penerimaan hasil miĀnyak yang disetorkan Pertamina.
āSaya akan mengungkapkan daĀĀta-data ketidaktransparan peĀnerimaan hasil minyak ini kepada KPK. Jumlah penerimaan ini menĀcapai ratusan triliun. KPK jangan haĀnya mengusut kasus korupsi 2-3 miĀliar saja. Tetapi harus yang kelas kaĀkap seperti ini,ā kata Kwik kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Kwik yang juga bekas Kepala BapĀpenas menjelaskan, Pertamina sebaĀgai perusahaan negara yang diberi hak monopoli memproduksi minyak harus membayar minyak mentah yang dikeluarkan dari perut bumi.
āUangnya disetor ke Depkeu. Tetapi di mana uang ini disimpan? Tak jelas. Hanya menteri keuangĀan yang tahu,ā katanya. Ketika masih menjadi Menko Ekuin dan Kepala Bappenas, Kwik pernah menanyakan penerimaan hasil minyak ini, tetapi pihak Depkeu selalu bungkam.
Menurut Kwik, jika ada transparansi penerimaan hasil minyak ini, maka pemerintah tak perlu menaikkan harga BBM. Dalam hitung-hitungannya, peĀnerimaan hasil minyak masih lebih besar dari biaya impor minyak yang sangat dipengaruhi harga pasar.
Produksi minyak Indonesia diperkiĀraĀkan 1 juta barrel per hari. Jika 70 perĀsen produksi untuk konsumsi dalam negeri, maka total produksi minyak Indonesia setahun adalah 40, 624 juta kiloliter.
Sedangkan, konsumsi minyak nasioĀnal sekitar 60 juta kiloliter per tahun. Akibatnya, perlu impor 19,375 juta kiloliter. Dengan harga minyak dunia yang mencapai 100 dolar AS per barrel maka untuk impor ini akan menghaĀbiskan biaya Rp 121,9 triliun.
Biaya impor ini bisa ditutupi dengan hasil kelebihan biaya produksi minyak di dalam negeri. Kwik menyebutkan, biaĀya untuk mengeduk, mengilang dan menyalurkan ke pompa-pompa bensin hanya 630 perak. āJika bensin dijual 4.500, maka masih untung 3.870,ā katanya.
Kelebihan biaya produksi ini lalu dikalikan 40,624 juta kiloliter nilainya mencapai Rp 157,216 triliun. āWalauĀpun harga minyak naik sampai 100 dolar per barrel, pemerintah masih untung sekitar Rp 35 triliun,ā ujarnya.
Makanya, Kwik tak bisa terima alasĀan pemerintah yang ingin menaikkan harga BBM lantaran adanya kenaikan harga minyak dunia. āMinyak itu digaĀli dari perut bumi Indonesia, masak peĀmerintah mau menghargainya berdaĀsarĀkan harga internasional? Ini kan lucu,ā ujarnya.
Bensin Naik Gopek
Wakil Ketua Komisi VII DPR dari FPD Sutan Bhatoegana menyarankan supaya pemerintah segera mencari alternatif lain untuk menyikapi lonjaĀkan harga minyak dunia. Sebab, keĀnaikĀan harga BBM menjelang pemilu dikĀhawatirkan akanĀ£memicu gejolak sosial.
Berbeda dengan Sutan, anggota Komisi VII Tjatur Sapto Edi setuju jika harga BBM naik jika harga minyak sudah di atas 112 dolar per barrel. MiĀsalĀnya, harga premium dinaikkan menĀjadi Rp 5.000 dari harga Rp 4.500 per liter. Kenaikan harga Rp 500 per liter premium ini bisa menghemat anggaran subsidi BBM hingga Rp 8 triliun.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Golkar Tadjudin Noersaid menyakini pemerintah tak akan jatuh lantaran menaikkan harga BBM. āKenaikan itu bukan untuk mencari keuntungan tapi untuk mengurangi beban pemerintah. Rakyat bisa ngerti jika BBM dinaikĀkan, sehingga mereka tidak akan ngaĀmuk. Mereka paham negara tak mamĀpu mengatasi kenaikan minyak di paĀsaran dunia,ā ujarnya.

Ironis sekali ya mas.. negeri yang kaya ini yg punya minyak berlimpah harus import dari luar negeri, kita negara agraris, tapi beras juga import, rakyat banyak yg mati keparan di negeri penghasil beras ini. Sumber daya alam minyak, emas, perak dll dikelola oleh pihak asing, rakyat sendiri kemudian di cekik dengan harga yang tinggi.. ironis.
kok jadi merindukan kejayaan Bung Karno, meski saya tidak pernah mengalaminya langsung.