Apa yang Kau Cari, Jenderal Agum

MEMBACA berita-berita pemilihan gubernur Jawa Barat membuat saya teringat pada suatu pagi di bulan Maret tahun lalu.

Pagi itu Agum Gumelar datang ke kantor kami. Dia tiba di lantai delapan Graha Pena Jakarta beberapa jam sebelum Partai Demokrat mengumumkan dukungan mereka pada Fauzi Bowo dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta.

Agum merasa dikhianati karena Partai Demokrat tak jadi mendukung dirinya. Padahal, menurut Agum, adalah Partai Demokrat yang pertama kali meminta kesediaannya dicalonkan sebagai gubernur Jakarta. Permintaan itu disampaikan langsung oleh Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo dalam sebuah pertemuan khusus di Hotel Borobudur.

Setelah Hadi Utomo meminta kesediaanya dicalonkan, Agum pun pede, dan mulai menggalang kekuatan untuk merebut kursi DKI-1. Namanya pun mulai ramai dibicarakan di bursa calon gubernur.

“Padahal tadinya saya sama sekali tidak punya keinginan jadi gubernur Jakarta. Saya sudah beberapa kali jadi menteri. Itu sudah cukup. Tetapi permintaan Partai Demokrat membuat saya berpikir ulang, dan akhirnya menerima,” begitu kira-kira kata Agum pagi itu.

Tetapi, inilah politik. Agum terpental. Ia layu sebelum berkembang. Partai Demokrat mengikuti arus besar mendukung Fauzi Bowo, dan tak peduli pada perasaan Agum yang telah lebih dahulu mereka lamar. Ibarat kisah percintaan, Agum bagaikan gadis perawan yang ditinggal kekasih kawin dengan perawan lain.

Foto-foto: Rakyat Merdeka

Salah satu sebab di balik perubahan sikap Partai Demokrat itu, yang sempat singgah di telinga Agum, adalah bisikan halus seorang pengamat dan peneliti politik kepada Presiden SBY, ipar Hadi Utomo.

Dalam bisikannya, si pengamat dan peneliti politik itu berkata kepada SBY bahwa kalau dibiarkan Agum Gumelar berpotensi menjadi lawan besar SBY di tahun 2009. Memberikan kursi gubernur DKI Jakarta kepada Agum sama artinya dengan menggali lubang sendiri. SBY yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat tentu saja terpengaruh dengan analisa itu, dan meminta agar Hadi Utomo menarik dukungan untuk Agum.

Jadi, selain kepada Partai Demokrat, Agum juga kecewa pada SBY. Kata dia, bukan hanya dirinya yang tersinggung dengan politik potong kaki seperti ini. Dia mengaku sudah dihubungi oleh beberapa tokoh politik yang lebih dahulu menyimpan kecewa pada SBY.

Selain soal kekecewaannya pada Partai Demokrat dan SBY, Agum juga bercerita tentang hal-hal, yang akan saya tuliskan dalam kesempatan berikutnya.

Yang jelas, hingga tulisan ini diturunkan, Agum Gumelar dan pasangannya, Nu’man Abdul Hakim, yang didukung oleh PDIP, PKB, PPP, PDS, PBB berada di urutan ketiga dalam perhitungan cepat pemilihan gubernur Jawa Barat.

Duet ini tertinggal di belakang peringkat pertama Ahmad Heriyawan-Dede Yusuf yang didukung PKS dan PAN, dan peringkat kedua pasangan incumbent Dani Anwar-Iwan Sulandjana yang didukung Partai Golkar dan Partai Demokrat.

Ini adalah kekalahan ketiga yang dialami Agum Gumelar di pentas politik dalam beberapa tahun terakhir. Kekalahan pertama dialaminya di arena pemilihan presiden 2004 ketika ia berpasangan dengan Hamzah Haz. Kekalahan kedua terjadi tahun lalu, ketika ia ditinggalkan Partai Demokrat.

Setelah kekalahan demi kekalahan ini, apa lagi yang akan kau cari, Jenderal?

6 thoughts on “Apa yang Kau Cari, Jenderal Agum

  1. Gyahahahaha,,, uuppss… Jadi pengen ketawa. Ya sudah. Buat Pak Agum sabar ya Pak… Mungkin belum rejekinya jadi gubernur. Dicoba aja terus sampe dapet. Hehehe,,,

  2. Jangan2 betul kata Gus Dur kemarin kalau SBY enggak rela Agum jadi gubernur?. ya kalau enggak jadi gubernur mending jadi promotornya menantunya aja heheh

  3. Sedih juga melihat kegigihan beliau sekadar meraih kekuasaan: mulai mengincar jabatan wapres, presiden, gubernur jakarta, gubernur jabar; apakah berikutnya akan turun setingkat juga ?

  4. @kimi
    gak apa-apa, tertawa aja. ini penting, sebelum tertawa itu dilarang. (warkop DKI, 1980-an).

    :))

    @ninik
    hidup gus dur…!!

    @robert manurung
    kata teman saya, jangan-jangan pemilihan ketua RW keok juga kawan ini…

    @formasinet
    trims sudah di pingback…

  5. Pak Agum, berbakti untuk negeri tidaklah dengan jabatan semata, masih banyak lahan pengabdian yang menunggu karyanya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s