Yang Tak Bisa Dilakukan Obama

KEMENANGAN beruntun yang diraih Barack Obama dalam sepekan terakhir memang mencengangkan. Bagaimana bisa Senator Illinois kelahiran Hawaii yang selama ini dianggap sebagai anak bawang dapat mengungguli Senator New York Hillary Clinton, mantan the first lady yang tentu saja punya jaringan politik yang begitu luas.

Kekaguman orang pada kemenangan Obama dalam laga pertama primary election di Iowa (3/1) sempat pudar begitu dalam tiga laga berikutnya, di New Hampshire (8/1), Michigan (15/1), dan Nevada (19/1), Hillary Clinton mengambil aih posisi terdepan.

Tulisan ini juga dimuat di myRMnews.

Obama kembali membikin kejutan ketika ia mengalahkan Clinton di South Carolina (26/1). Tetapi lagi-lagi kekaguman itu tak berumur panjang karena hanya dalam tiga hari Clinton kembali menaklukkan Obama di Florida.

Bintang terang mulai menyinari Obama dalam pertarungan Super Tuesday (5/2) yang digelar di lebih dari 20 negara bagian Amerika Serikat. Walau memperoleh dukungan terbanyak, namun dalam hal jumlah delegasi Obama masih tertinggal di belakang.

Dalam laga di Louisiana, Washington, Nebraska, dan Virgin Islands (9/2), Barack Obama berhasil mempertahankan kemenangan yang direbutnya di arena Super Tuesday. Sehari kemudian ia juga menang di Maine, walau lagi-lagi masih berada di belakang Clinton dalam hal pengumpulan jumlah delegasi.

Kemenangan beruntun Obama di akhir pekan itu–sweet weekend–sempat membuat Hillary Clinton goyah. Ia segera mengganti Patti Solis Doyle, wanita keturunan Hispanic yang sejak awal primary election membantu dirinya, dengan Maggie Williams yang merupakan penasihat Hilarry ketika ia masih bergelar the first lady.

Kocok ulang ini menurut banyak pengamat akan menjadi bumerang yang merugikan Hillary. Keturunan Hispanic yang lumayan besar jumlahnya di Amerika kecewa dan menganggap Hillary tidak setia. Keturunan Hispanic diperkirakan akan beramai-ramai pindah perahu. Tetapi itu urusan Hillary.

Kembali ke Obama. Seminggu setelah Super Tuesday, ia lagi-lagi memperlihatkan kemampuannya memikat pendukung dalam laga di Potomac Primary. Ia secara meyakinkan menang di tiga negara bagian yang dilintasi Sungai Potomac, Maryland, Virginia, dan District of Columbia. Kini keadaan berbalik. Obama memimpin dengan 1.253 delegasi diikuti Hillary Clinton yang mengantongi 1.211 delegasi.

Kedua kandidat kini sedang mempersiapkan diri bertarung di Texas dan Wisconsin.

Sebegitu gagah Barack Obama dalam sepekan terakhir, tetap saja orang masih bertanya-tanya apa sesungguhnya kelebihan Obama dibandingkan Hillary Clinton. Apa gagasan utama Obama? Apa yang membuat begitu banyak orang terpikat pada Obama?

Mimpi Amerika dan Kelas Puisi

Bila menyimak isi pidato Obama, baik yang disampaikan setelah ia menderita kekalahan atau setelah merebut kemenangan, dapat disimpulkan bahwa ia lebih banyak berbicara tentang cita-cita Amerika yang terlupakan. Dan ia berhasil menggugah kesadaran dan membangkitkan kembali kepercayaan rakyat Amerika pada mimpi the founding fathers melalui pidato-pidato yang memacu adrenalin pendengarnya. Ia mengajak orang untuk kembali berani bermimpi dan berharap bahwa the American’s dream adalah benar adanya.

Bahwa mimpi itu menjadi centang prenang dan berlumuran darah di mana-mana—di Irak, di Afghanistan dan sebagainya—lebih karena disebabkan oleh prilaku segelintir orang—dari kelompok yang itu-itu saja—yang faktanya menguasai Gedung Putih di Washington.

Mimpi Amerika telah diciderai oleh pemimpin-pemimpin Amerika sebelumnya. Dan mimpi itulah yang ingin dihidupkan kembali oleh Obama. Dia mengatakan, bahwa jalan untuk mewujudkan mimpi itu amat terjal. Dan perlawanan yang diberikan oleh orang-orang yang berkuasa di Gedung Putih pun amat besar. Dalam hal ini, ia juga memasukkan Hillary Clinton dan suaminya, Bil Clinton yang pernah berkuasa, dalam golongan orang-orang yang menciderai dan merusak keluhuran mimpi Amerika itu.

Kata-kata Obama berhasil masuk ke alam bawah sadar para pendukungnya. Dia bisa menginspirasi, dia bisa mempengaruhi.

Tetapi, apakah cukup itu saja? Seorang pemimpin sebuah negara, apalagi Amerika, tentulah tak cukup kuat bila hanya jago mempengaruhi pendengarnya dari atas podium. Seorang kandidat presiden, apalagi untuk Amerika, tentulah harus mempunyai the ability to govern, kemampuan untuk memerintah. Nah, untuk urusan yang satu ini, masih banyak orang yang tak percaya pada Obama.

Mampu menggugah kesadaran dan membangkitkan semangat adalah hal yang positif dan amat bagus. Tetapi itu saja tidak cukup.

Obama sepintas memang tampak menghindar dari pembicaraan yang berbau policy. Dan ia telah dikritik banyak orang untuk itu. Sesi orasinya tak jarang disamakan dengan kelas membaca puisi. Atau ia disamakan dengan orang tua yang bercerita kepada anaknya tentang kisah-kisah kepahlawanan di masa lalu sebelum sang anak tertidur.

Mungkin kesan itu tampak karena Obama menilai bahwa persoalan utama yang dihadapi oleh masyarakat Amerika yang selama beberapa tahun terakhir jadi bulan-bulanan penguasa adalah bagaimana cara membangkitkan kembali kepercayaan pada cita-cita Amerika.

Mungkin bagi Obama, bila hal epistemologi ini dapat dibenahi—masyarakat bisa diajak kembali untuk percaya pada cita-cita Amerika—maka policy making akan menjadi mudah. Karena adalah cita-cita yang mengarahkan kebijakan. Adalah gagasan yang menentukan apakah sebuah pemerintahan akan bermanfaat, atau sebaliknya mudharat, bagi rakyat.

Tetapi Obama harus ingat. Bahwa banyak penguasa lahir di atas panggung. Tetapi gagal ketika kekuasaan sudah berada di tangan.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

One thought on “Yang Tak Bisa Dilakukan Obama”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s